“Sudah, jangan ganggu istri orang” kata yang entah berapa kali keluar dari mulutku untuk mengingatkan temanku yang sedang sibuk beraksi mendapatkan perhatian mantannya yang sudah menjadi istri orang. Tidak sepenuhnya salah temanku memang, karena bukan dia yang memulai.
Katanya dia sudah bertahun-tahun tidak bertegur sapa dengan mantannya, baik itu secara nyata ataupun maya. Mantannya lah yang memulai pembicaraan maya ini dengan menanyakan apa kabarnya sekarang. Dalam awal obrolan mereka, mantannya memberi tahu bawa ia dan suaminya baru saja pulang berbulan madu di kota yang sempat temanku singgahi untuk menuntut ilmu.
Aku tidak mengerti maksud dari pemberitahuan atas selesainya mereka berbulan madu. Tetapi, temanku masih begitu gigih untuk mendapatkan perhatian mantannya lagi. Entah karena dia sedang percaya diri karena kembali berbincang, atau dia sedang mencoba mengulang kenangan-kenangan yang dulu dia jalani dengan sang mantan. Apapun alasannya aku tak peduli, aku lebih peduli untuk menghentikan aksinya. Sebab, bila keterusan dan kebablasan aku berani jamin luka yang sempat dia goreskan akan berbalik kembali padanya.
Dalam aksinya merebut perhatian sang mantan, temanku sempat bercerita. Dulu ketika mereka dalam satu ikatan rasa, temanku sempat berkhianat dengan kembali mengikat rasa dengan orang lain dalam waktu yang sama. Temanku menjalani dua ikatan dalam waktu yang lama dan temanku mengakui dia begitu senang, dia merasa berjaya ketika temanku berhasil menaklukkan dua hati yang rupawan, tidak seperti rupanya. Maaf, untuk perkara ini aku berkata jujur. Temanku beruntung dalam tindak curangnya.
Aksi terus berjalan dalam tiap ketikan maya, kataku seakan tak pernah masuk dalam rongga telinganya. Entah apa yang dipikirkannya untuk terus mengganggu istri orang. Ada dua kemungkinan dalam pikirku; pertama, temanku sedang merasa jadi jagoan karena sang mantan memberi kabar kepulangannya berbulan madu untuk menjelaskan bahwa mantannya tak bahagia dengan suami ketika berbulan madu, tidak seperti mereka bahagianya saat masih dalam satu ikatan melakukan nikmatnya kesalahan. Atau kedua, mantannya memberi tahu kepulangannya berbulan madu untuk menunjukkan bahwa ia sekarang sudah begitu bahagia dengan suaminya, tidak ketika bersama temanku yang pernah meninggalkan luka karena sempat berkhianat dalam ikatan.
Bila aksinya didiamkan, tentu ini akan menjadi masalah besar karena melibatkan suami mantannya juga. Bila kemungkinan pertama yang benar karena dipengaruhi kenangan yang tetap hidup di pikirannya. Aku khawatir akan terpisahnya satu janji baru, bagaimana jika satu bibit sudah mulai tercipta saat bulan madu sudah terselenggara? Masa harus mengorbankan bibit yang hendak mencoba hidup karena hanya keegoisan rasa? Apa masih berani menyebut diri kita manusia? Dan ketika bibit itu sudah terlahir di dunia dan si pelaku penciptanya sudah berpisah, dia tidak punya kendali apa-apa, memilih pun dia tak bisa.
Bila kemungkinan kedua yang benar, aku khawatir temanku akan tenggelam dalam luka balasan akibat khayal yang diciptakan dari kenangan-kenangan yang masih hinggap di pikirannya. Aku khawatir temanku tergores luka yang dia goreskan sendiri, dan pikiranku lebih bersepakat pada kemungkinan yang kedua. Lalu bagaimana dengan kalian?
