Di akhir pekan dengan cuaca panas menyengat, aku mendapat pesan dari teman lama yang katanya ingin menyampaikan kekesalannya. Kekesalan atas mimpi yang kerap kali datang di tiap matanya terpejam.
Katanya, entah mengapa tidur menjadi hal yang paling menyebalkan belakangan ini. Hidupnya, terasa dikuasai benalu yang melulu hadir sebagai bunga tidur. Tak tahu ini ulah siapa, ulah Tuhan melalui semestanya yang coba bercanda, atau ulah dirinya sendiri yang masih saja memikirkan yang sebenarnya ingin dilupa.
Lalu pertanyaannya siapa sebenarnya yang memiliki hak atas mimpi? Apakah ada seseorang yang bisa mengatur bagaimana mimpi di tidurnya? Bila ada, siapa?
Dia terus bertanya-tanya karena ingin belajar tentang bagaimana mengkoordinir mimpi. Bila tidak ada, lantas siapa yang selalu merancang cerita dalam mimpi kita? Siapa sutradaranya? Siapa penulis skenarionya? Dan punya hak apa mereka menyusupi cerita dalam tiap tidur seseorang?
“Siapa orang itu? biar langsung saja ku bunuh karena sudah menghadirkan cerita yang tak diperkenankan dalam tiap tidurku,” ujarnya berapi-api dalam pesan singkat digital di aplikasi hijau.
Lanjutnya dengan rasa yang begitu penasaran, dia kembali bertanya. “Apa mungkin justru diri kita sendiri yang menciptakan dan mengkoordinir mimpi? Kita sendiri yang menciptakan tim keproduksian mimpi? Secara tidak sadar merekrut sang sutradara dan penulis skenario untuk menghasilkan suatu cerita, dengan cerita yang diambil dari apa yang selalu kita pikirkan, yang selalu ingin kita lupa. Bila iya, berarti sumber masalahnya ada pada diri kita sendiri atas sebuah mimpi yang hadir dan terciptanya cerita yang tak diperkenankan. Dengan begitu untuk menghentikan keproduksian mimpi ini adalah dengan memusnahkan sang pemilik mimpi, yaitu diri sendiri dengan cara apapun. Termasuk dengan menghilang dalam hitungan jumlah penduduk dunia.” ucapnya memelas.
Sebenarnya, ketika dia mengucapkan kalimat di atas paragraf ini justru aku yang bertanya-tanya. Apakah sebenarnya dia benar-benar dihitung dari jumlah penduduk dunia? Jika pun menghilang, apakah benar-benar berdampak untuk dunia? Atau pertanyaan ini terlalu kejam jika aku tanyakan pada teman yang sedang kalut menghadapi mimpinya di tiap malam?
Seolah pasrah, dia kembali melanjutkan.
“Kepada tim keproduksian mimpi yang sampai hari ini masih saja berproduksi, kalian tidak lelah? Sudah 2 minggu masih saja memproduksi cerita dalam tidur. Tak peduli durasi waktu tidur, kalian masih saja tetap berproduksi. Aku yakin kalian sama lelahnya dengan aku yang selalu kalian sajikan cerita yang sebenarnya tak aku perkenankan. Bisakah kita sama-sama beristirahat? membubarkan tim keproduksian dan kembali pada tempatnya masing-masing. Walaupun sebenarnya aku tak tahu dimana tempat kalian, yang pasti mari kita berhenti. Berhenti dengan cara apapun, menghancurkan semua alat keproduksian dan jangan kembali lagi untuk kembali merangkai cerita yang ingin dilupakan, atau apakah harus memusnahkan sang pemilik mimpi agar keproduksian ini tidak kembali berproduksi? Karena dengan begitu tim keproduksian akan kehilangan penonton setianya.
Kepada tim keproduksian mimpi, mari berhenti, mari sudahi. Aku tahu kalian bekerja untuk tidak melupakan sesuatu yang ingin dilupa. Tapi kalian harus tahu, ini sangat melelahkan. Namun, bila kalian masih ingin berproduksi di hari-hari berikutnya, tak ada jalan lain selain mengatur siasat, merencanakan semat, memantapkan niat, bersiap menjadi keparat agar sang pemilik mimpi musnah segera.”
Sebentar, sebelum kita melanjutkan cerita ini. Aku mau bertanya dulu kepada kalian. Apakah sudah mulai merasakan mual? atau mulai merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari mulut kalian setelah membaca paragraf terakhir di atas?
Jika iya, mari kita akhiri. Karena ketika aku membaca pesan itu dengan sigap dan cermat, jariku cepat membalas untuk meminta menyudahi semua cerita itu. Sebab, jelas kita bukan bagian dari tim keproduksian yang dia katakan itu.