Soal tidak menyukai seseorang, mungkin aku akan mengangkat tangan paling tinggi jika ada kompetisi adu siapa yang paling lama hidup tanpa menaruh hati pada siapa pun.
Saking lamanya, aku mulai lupa bagaimana rasanya menunggu notifikasi yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan. Lupa bagaimana satu nama mampu mengubah suasana hati sepanjang hari. Bahkan lupa bagaimana rasanya menyusun puluhan kalimat, lalu menghapus semuanya karena terdengar terlalu antusias sendiri.
Yang masih kuingat hanyalah kesibukanku dengan console-console di kamar. Menyelesaikan quest, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Rasanya cukup. Atau setidaknya, aku mengira begitu.
Belakangan, aku lebih sering menjadi penonton.
Aku memperhatikan teman-temanku yang bercerita sedang naksir seseorang. Ada juga yang tidak pernah bercerita, tetapi gelagatnya sudah lebih dari cukup. Cara mereka tersenyum saat menatap layar ponsel, kecepatan jemarinya membalas pesan, atau wajah yang tiba-tiba berbinar setelah sebuah notifikasi muncul, semuanya terlalu kentara untuk disebut kebetulan.
Terus terang, menurutku mereka aneh.
Mereka bisa bangun lebih pagi tanpa alarm hanya karena sudah berjanji ikut CFD bersama gebetan. Tiba-tiba rajin bercermin. Rajin menyetrika baju. Mulai memperhatikan parfum yang dipakai. Bahkan sepatu yang biasanya dibiarkan kusam mendadak terlihat mengilap. Padahal beberapa hari sebelumnya, ketika bertemu denganku, rambut mereka masih acak-acakan seperti baru selesai bernegosiasi dengan bantal.
Aku mulai curiga.
Energi apa yang sebenarnya mampu mengubah seseorang secepat itu?
Aku pernah melihat seseorang begitu bersemangat hanya karena mendapat balasan, “Haha”. Padahal bisa saja itu hanyalah cara paling sopan untuk mengakhiri percakapan. Namun bagi orang yang sedang naksir, satu kata saja sudah cukup untuk menjadi alasan melanjutkan obrolan. Gas terus!.
Aku tahu manusia memiliki bio-listrik, energi yang memungkinkan jantung berdetak, otot bergerak, dan otak mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh. Namun rasanya ada jenis energi lain yang belum pernah ditulis orang-orang.
Energi yang tiba-tiba muncul ketika seseorang bertemu dengan orang yang mampu membuatnya jatuh hati.
Energi yang membuat orang rela bangun lebih pagi, menempuh perjalanan lebih jauh, dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya demi sebuah pertemuan yang mungkin berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit.
Apakah itu Pembangkit Listrik Tenaga Naksir?
Sebab sebelumnya, teman-temanku selalu punya alasan untuk bermalas-malasan. Membalas pesan nanti saja. Mandi nanti saja. Beres-beres kamar nanti saja. Lalu entah bagaimana, setelah ada seseorang yang berhasil mengusik hatinya, semua kata “nanti” berubah menjadi “sekarang”.
Aneh sekali.
Semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa rasa naksir barangkali memang bukan tentang memiliki seseorang. Ia lebih mirip sumber energi yang diam-diam menyalakan banyak hal dalam diri manusia. Ia membuat orang ingin menjadi lebih rapi, lebih sehat, lebih berani, bahkan lebih disiplin. Bukan karena ada aturan yang memaksa, melainkan karena ada seseorang yang, entah mengapa, terasa layak untuk diperjuangkan.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Aku tidak tahu mana yang lebih menyedihkan. Menjadi seseorang yang menghabiskan terlalu banyak energi untuk menyukai orang lain. Atau menjadi seseorang yang sudah begitu lama hidup tanpa ada apa pun yang sanggup menyalakan mesinnya kembali.
Mungkin ada benarnya, bahwa rasa naksir tidak pernah benar-benar diciptakan untuk dimenangkan atau dikalahkan. Ia hanya datang sesekali, seperti listrik yang kembali mengalir setelah lama padam. Bukan untuk menerangi seluruh kota, melainkan sekadar mengingatkan bahwa di dalam diri kita masih ada ruang yang bisa menyala.
Barangkali kita tidak pernah benar-benar membutuhkan seseorang untuk dimiliki. Kita hanya sesekali membutuhkan seseorang yang mampu menyalakan pembangkit listrik ini di dalam diri kita.
