besarmulut.com

Amateur Storyteller

  • Manifesto Melankolia

    Aku terkadang malu dengan apa yang kutulis sendiri. Aku hanya merasa bahwa setiap kali menulis sesuatu, ada bagian dari diriku yang terasa terlalu terbuka. Terlalu sentimentil. Terlalu banyak perasaan yang seharusnya tidak perlu diumbar kepada siapa pun.

    Aku bisa menghabiskan waktu cukup lama untuk menyusun beberapa paragraf, membacanya berulang kali, memperbaiki pilihan kata, lalu berakhir pada satu keputusan yang paling sering kuambil: tidak memublikasikannya.

    Kuhapus, kusimpan, atau kubiarkan tenggelam di antara catatan-catatan lain yang mungkin tidak akan pernah dibaca siapa pun.

    Lucunya, aku sendiri tidak benar-benar tahu apa yang kutakutkan.

    Mungkin aku takut dianggap berlebihan. Mungkin aku takut orang lain menganggapku sedang mencari perhatian. Atau mungkin aku hanya belum cukup percaya diri untuk menunjukkan bahwa di balik caraku berbicara yang kaku dan terkadang formal, ada kepala yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

    Jujur, aku tidak tahu.

    Aku hanya tahu bahwa menulis sesuatu untuk diri sendiri terasa jauh lebih mudah daripada membiarkan orang lain membacanya.

    Barangkali begitulah menjadi melankolis. Atau barangkali aku hanya terlalu sering menggunakan kata melankolis untuk menjelaskan hal-hal yang belum kupahami tentang diriku sendiri.

    Dalam kehidupan sehari-hari, aku bukan orang yang selalu berbicara dengan kalimat puitis. Aku tidak berjalan sambil memikirkan hujan, senja, dan kesepian setiap saat. Aku juga tidak menghabiskan seluruh waktuku untuk meratapi sesuatu yang sudah berlalu.

    Aku bekerja. Membalas pesan. Menyelesaikan urusan. Berbicara seperlunya. Menjalani hari sebagaimana orang lain menjalani hari mereka. Namun, entah mengapa, caraku berkomunikasi kerap dianggap dingin.

    Beberapa kali aku disebut ketus dan jutek hanya karena cara menyampaikan sesuatu yang menurutku biasa saja. Sebuah kalimat pendek bisa dianggap sebagai tanda kemarahan. Balasan yang formal bisa ditafsirkan sebagai ketidaksukaan. Bahkan, mungkin, tanda titik di akhir kalimat pun bisa menjadi perkara tersendiri.

    Padahal, aku tidak sedang marah. Aku hanya sedang membalas pesan. Aku tidak sedang menjaga jarak. Aku hanya sedang berbicara sebagaimana biasanya.

    Tentu, aku paham bahwa komunikasi bukan sekadar persoalan apa yang ingin disampaikan, melainkan juga bagaimana orang lain menerimanya. Aku mengerti bahwa bahasa memiliki nada, bahkan ketika tidak ada suara yang menyertainya. Aku pun tidak menganggap diriku selalu benar dalam menafsirkan atau menyampaikan sesuatu.

    Tetapi terkadang aku lelah harus menjelaskan bahwa tidak semua kalimat pendek menyimpan kemarahan, tidak semua sikap diam mengandung kebencian, dan tidak semua orang yang kesulitan menunjukkan kehangatan berarti tidak memilikinya.

    Aku tidak selalu tahu bagaimana cara membuat orang lain merasa nyaman melalui kata-kata. Aku tidak selalu pandai membungkus kalimat dengan basa-basi agar terdengar lebih ramah.

    Namun, apakah itu berarti aku tidak memiliki perasaan? Apakah seseorang harus selalu terdengar hangat agar dipercaya memiliki hati?

    Aku mulai menyadari bahwa dunia memiliki caranya sendiri dalam menilai manusia. Sebagian orang dinilai dari senyumnya, sebagian dari keramahannya, sebagian lagi dari kemampuannya membuat orang lain merasa diterima.

    Sementara itu, ada orang-orang yang barangkali hanya ingin menyampaikan sesuatu tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

    Aku tidak tahu apakah aku termasuk kelompok terakhir. Namun, aku tahu bahwa aku sering kali merasa lebih lelah menjelaskan maksudku daripada menyampaikan maksud itu sendiri.

    Lalu, ada persoalan lain yang sedikit lebih sulit kujelaskan: tulisanku sendiri.

    Ketika berbicara, aku bisa begitu formal hingga dianggap dingin. Ketika menulis, aku justru bisa begitu melankolis hingga merasa malu terhadap diriku sendiri.

    Seolah-olah aku memiliki dua cara yang bertolak belakang untuk menyembunyikan sesuatu.

    Dalam percakapan sehari-hari, aku menyederhanakan kalimat. Dalam tulisan, aku justru memperpanjang perasaan.

    Aku bisa membalas pesan dengan beberapa kata, tetapi menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak pernah kutanyakan kepada siapa pun.

    Aku bisa terlihat biasa saja di hadapan orang lain, lalu pulang dan memikirkan hal-hal yang mungkin sudah lama mereka lupakan.

    Aku bisa mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, bukan karena sedang berbohong, melainkan karena aku sendiri belum menemukan kalimat yang cukup tepat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya kurasakan.

    Dan ketika akhirnya berhasil menuliskannya, aku malah merasa malu.

    Mungkin karena tulisan membuat sesuatu yang abstrak menjadi nyata. Perasaan yang sebelumnya hanya berputar di kepala kini memiliki bentuk, susunan, dan pilihan kata. Aku bisa membacanya kembali dan melihat betapa seriusnya aku memikirkan sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak begitu penting.

    Aku kemudian bertanya kepada diri sendiri, untuk apa semua ini ditulis? Siapa yang perlu tahu? Apa gunanya memublikasikan sesuatu yang begitu personal ketika orang lain bahkan belum tentu peduli?

    Pertanyaan-pertanyaan itu cukup untuk membuatku mengurungkan niat. Namun, ada satu hal yang selalu menggangguku: jika aku memang tidak ingin orang lain membacanya, mengapa aku menulisnya dengan begitu sungguh-sungguh?

    Barangkali ada bagian dari diriku yang ingin didengar, meskipun aku sendiri tidak cukup berani untuk bersuara.

    Barangkali aku ingin seseorang membaca tulisanku dan memahami sesuatu yang tidak pernah berhasil kusampaikan melalui percakapan. Atau mungkin aku hanya ingin meninggalkan bukti bahwa pada suatu waktu, aku pernah merasakan sesuatu dengan begitu dalam.

    Aku tidak tahu. Lagi-lagi, aku tidak tahu.

    Aku terkadang berpikir bahwa menjadi melankolis adalah persoalan yang sedikit merepotkan.

    Bukan karena kesedihan selalu menjadi bagian dari hidupku. Bukan pula karena aku menganggap diriku lebih dalam daripada orang lain. Aku tidak percaya bahwa orang yang melankolis otomatis lebih peka, lebih bijaksana, atau lebih mampu memahami kehidupan.

    Aku hanya merasa bahwa ada banyak hal yang berlangsung di dalam diriku yang tidak selalu menemukan jalan keluar dengan mudah.

    Aku bisa memahami apa yang ingin kukatakan, tetapi kesulitan menentukan bagaimana cara mengatakannya.

    Aku bisa mengetahui bahwa aku tidak sedang marah, tetapi tidak selalu tahu bagaimana meyakinkan orang lain tentang itu.

    Aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan, tetapi tidak selalu berani membiarkan orang lain membacanya.

    Mungkin masalahnya bukan karena aku memiliki terlalu banyak perasaan. Mungkin aku hanya belum menemukan cara yang tepat untuk berdamai dengan cara perasaan itu muncul dalam diriku.

    Aku juga harus mengakui bahwa kata melankolis terkadang menjadi tempat persembunyian yang nyaman. Dengan menyebut diriku melankolis, aku bisa menjelaskan mengapa aku banyak berpikir, mengapa aku menyukai tulisan-tulisan reflektif, atau mengapa aku tidak selalu mudah mengekspresikan kehangatan.

    Namun, label itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar.

    Aku tidak ingin menjadikan kepribadianku sebagai pembenaran atas setiap kesalahpahaman. Aku tidak ingin berlindung di balik sifat melankolis setiap kali caraku berkomunikasi membuat orang lain merasa tidak nyaman.

    Aku ingin belajar menjadi lebih mudah dipahami tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Aku ingin menulis dengan jujur tanpa terus-menerus meminta maaf atas apa yang kurasakan.

    Dan, yang paling sulit, aku ingin berhenti menganggap bahwa memperlihatkan isi pikiranku kepada orang lain adalah sebuah kelemahan. Sebab, sejujurnya, aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus menyimpan tulisan-tulisan itu.

    Mungkin karena itulah aku pernah berpikir untuk membentuk sebuah organisasi bawah tanah.

    Bernama Sindikat Melankolia.

    Aku membayangkan sebuah perkumpulan bagi orang-orang yang terlalu sering dianggap dingin, terlalu sering mengoreksi kalimatnya sendiri, dan terlalu sering menyimpan sesuatu yang sebenarnya ingin mereka katakan.

    Sebuah perkumpulan yang tidak membutuhkan kartu anggota, seragam, ataupun kantor sekretariat. Tidak ada perekrutan terbuka. Tidak ada upacara pelantikan. Tidak ada kewajiban untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan mengapa seseorang layak menjadi bagian darinya.

    Syarat keanggotaannya sederhana: pernah merasa bahwa dirinya tidak sepenuhnya dipahami, tetapi juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan dirinya sendiri.

    Di dalamnya, seseorang boleh menulis tentang kesepian tanpa harus dianggap sedang meminta pertolongan. Boleh menggunakan kalimat formal tanpa dicap sombong. Boleh diam tanpa dicurigai sedang menyimpan kebencian. Boleh pula menulis sesuatu yang begitu sentimental tanpa perlu merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.

    Kami tidak harus sepakat tentang segala hal. Kami tidak harus memiliki pengalaman hidup yang sama. Kami bahkan tidak harus selalu bersedih.

    Kami hanya perlu memahami bahwa manusia tidak selalu sesederhana kesan pertama yang mereka berikan. Bahwa seseorang bisa terdengar dingin, tetapi tidak berniat menyakiti. Bahwa seseorang bisa terlihat tenang, tetapi membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Bahwa seseorang bisa menulis tentang sesuatu dengan begitu melankolis, lalu merasa malu ketika tulisannya selesai. Dan bahwa tidak semua yang sulit dijelaskan harus dianggap tidak masuk akal.

    Tentu saja, Sindikat Melankolia mungkin hanya gagasan yang lahir dari kejenuhanku sendiri. Sebuah lelucon kecil untuk menertawakan kebiasaanku yang terlalu banyak berpikir. Aku tidak tahu apakah perkumpulan semacam itu benar-benar dibutuhkan.

    Namun, setidaknya, gagasan itu memberiku satu hal yang selama ini jarang kuberikan kepada diriku sendiri: kesempatan untuk tidak merasa aneh sendirian.

    Dan jika di antara kalian ada yang merasa menemukan sedikit bagian dari dirinya dalam tulisan ini, barangkali kita memang perlu saling memberi kabar. Aku tidak tahu siapa kalian, di mana kalian berada, atau berapa banyak hal yang selama ini kalian simpan sendirian.

    Namun, jika gagasan tentang Sindikat Melankolia ini menarik perhatian kalian, mari saling menyapa. Kita bisa bertukar cerita, berbagi tulisan, atau sekadar membicarakan hal-hal yang mungkin sulit kita jelaskan kepada orang lain.

    Tidak perlu terburu-buru membangun perkumpulan besar atau merumuskan manifesto yang muluk-muluk. Barangkali, semuanya bisa dimulai dari percakapan sederhana antara orang-orang yang sama-sama ingin dipahami tanpa harus menjelaskan dirinya terlalu panjang.

    Jika kalian tertarik, beri aku kabar.

    Pada akhirnya, aku tidak ingin menghabiskan seluruh hidupku dengan menganggap bahwa ada sesuatu yang salah dengan diriku hanya karena aku tidak selalu bisa mengekspresikan diri sebagaimana orang lain.

    Aku tidak ingin terus-menerus mengedit kepribadianku agar sesuai dengan ekspektasi setiap orang yang kutemui.

    Aku juga tidak ingin menggunakan kata melankolis sebagai gelar kehormatan, seolah-olah kesedihan dan kerumitan pikiran membuat seseorang menjadi lebih istimewa daripada manusia lainnya.

    Aku hanyalah seseorang yang terkadang terlalu banyak berpikir, terlalu berhati-hati memilih kata, dan terlalu sering meragukan sesuatu yang sebenarnya ingin ia lakukan.

    Aku bisa keliru. Aku bisa menyakiti orang lain tanpa sengaja. Aku bisa menulis sesuatu yang buruk dan memalukan. Aku bisa berubah pikiran setelah membaca kembali apa yang pernah kutulis.

    Itu semua tidak membuatku kurang layak menjadi diriku sendiri.

    Barangkali aku memang perlu belajar berbicara dengan lebih hangat. Barangkali aku perlu belajar menerima bahwa tidak semua tulisan harus sempurna sebelum dipublikasikan. Barangkali aku juga perlu belajar bahwa kerentanan bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan.

    Jika suatu hari Sindikat Melankolia benar-benar berdiri, aku ingin organisasi itu memiliki satu prinsip yang sederhana: kami tidak berkumpul untuk meratapi diri sendiri, melainkan untuk berhenti memperlakukan diri sendiri sebagai sesuatu yang memalukan.

    Kami boleh melankolis, tetapi kami tidak harus menjadi tawanan dari kemelankolisan kami sendiri. Kami boleh berhati-hati dalam berbicara, tetapi kami tetap harus belajar mendengarkan. Kami boleh menyimpan tulisan, tetapi kami juga berhak membiarkannya dibaca.

    Dan jika suatu hari seseorang mengatakan bahwa kami terlalu dingin, terlalu formal, atau terlalu melankolis, mungkin kami tidak perlu langsung menyangkalnya. Kami cukup memeriksa diri, memperbaiki apa yang memang perlu diperbaiki, lalu melanjutkan hidup.

    Mungkin, dengan menulis semua ini, aku sebenarnya sedang mencoba mendobrak sesuatu yang selama ini kubangun sendiri. Aku terlalu sering membayangkan bagaimana orang akan membaca tulisanku, bagaimana mereka menilainya, dan apakah mereka akan menganggapku berlebihan.

    Aku bahkan kerap membiarkan kemungkinan-kemungkinan itu menghentikanku sebelum siapa pun sempat membaca satu kalimat pun.

    Namun, sampai kapan aku akan terus membiarkan pendapat yang bahkan belum tentu ada menentukan apa yang boleh dan tidak boleh kuungkapkan?

    Barangkali sudah waktunya aku mendobrak ketakutan itu. Bukan karena aku mendadak tidak peduli pada penilaian orang lain, melainkan karena aku tidak ingin selamanya hidup di bawah bayang-bayangnya. Aku ingin belajar menerima bahwa tulisanku mungkin tidak disukai, mungkin disalahpahami, atau mungkin tidak dianggap penting oleh siapa pun. Dan itu tidak apa-apa.

    Aku ingin menjadikan tulisan ini sebagai sebuah tonggak, sebuah penanda bahwa aku pernah memutuskan untuk melawan ketakutanku sendiri sebagai seorang melankolis.

    Bukan dengan menyangkal siapa diriku, bukan pula dengan berpura-pura menjadi seseorang yang lebih berani, melainkan dengan menerima bahwa keraguan akan selalu ada, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus bersembunyi.

    Aku tidak ingin kemelankolianku menjadi penjara yang kubangun dari prasangka terhadap penilaian orang lain. Aku ingin menulis, menyelesaikan tulisanku, lalu membiarkannya dibaca tanpa harus terlebih dahulu meminta izin kepada rasa takutku sendiri.

    Jadi, kali ini, aku ingin memublikasikan tulisan ini. Bukan untuk membuktikan bahwa aku seorang penulis yang hebat, bukan pula untuk mencari pengakuan atas kemelankolianku. Aku hanya ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku bisa melangkah meskipun masih takut.

    Bahwa keberanian bukan berarti tidak lagi meragukan diri sendiri, melainkan memilih untuk tetap melangkah meski keraguan itu belum selesai. Dan jika kelak aku kembali merasa malu atau ingin menarik tulisanku ini, setidaknya aku akan ingat bahwa pernah ada satu hari ketika aku memilih untuk tidak lagi tunduk pada ketakutanku sendiri.

    Aku sadar tulisan ini cukup panjang dan mungkin melelahkan untuk dibaca di tengah kesibukan kalian. Barangkali ada hal lain yang lebih layak mendapat perhatian daripada isi kepala seorang melankolis yang masih berusaha memahami dirinya sendiri.

    Namun, jika kalian berhasil sampai di penghujung tulisan ini, terima kasih telah meluangkan waktu. Aku tidak tahu apakah ada bagian yang terasa dekat dengan pengalaman kalian atau justru akan segera terlupakan setelah halaman ini ditutup.

    Apa pun itu, aku menghargai waktu yang telah kalian berikan. Setidaknya, selama beberapa menit tadi, aku tidak merasa sedang berbicara sendirian.

  • Mesin Perekam Mimpi

    Di sebuah malam dengan hujan yang sangat deras, disertai suara petir yang menggelegar, aku kembali mendapat pesan di aplikasi hijau dari seorang teman yang masih sibuk dengan mimpinya yang kerap hadir di tiap malam.

    Saga mimpi ini ternyata belum selesai-selesai juga. Aku kira urusan ini sudah tamat. Ternyata belum.

    Sehari setelah surat diplomasi dikeluarkan, setelah ia merasa sudah cukup jelas menyampaikan penolakannya kepada semesta, tim itu justru tetap bekerja seperti biasa. Tidak menggubris surat. Tidak peduli pada keputusan. Mereka terus memproduksi cerita dan menayangkannya setiap kali temanku tertidur.

    Kali ini lebih menyebalkan, katanya.

    Ia tidak suka dengan apa yang disajikan. Ceritanya tidak ia izinkan. Tokohnya tidak ia minta. Kemungkinannya tidak pernah ia pesan. Tetapi anehnya, ia tetap menikmatinya.

    “Kalau dipikir-pikir, aku sebenarnya tidak tahu mereka mau apa,” katanya ketika menceritakan tim keproduksian mimpi.

    Mungkin memang tidak ada maksud apa-apa. Mungkin mimpi hanya mimpi. Atau mungkin otaknya sedang memainkan ulang sesuatu yang selama ini ia paksa untuk disimpan di tempat paling jauh dari pikirannya.

    Entahlah, yang jelas setiap malam selalu ada pertunjukan baru.

    Kadang ia diberi hiburan. Kadang diperlihatkan sebuah kemungkinan. Kadang disodorkan harapan tentang sesuatu yang sebenarnya sudah ia putuskan untuk tidak dimiliki.

    Dan lucunya, semua itu terasa nyata. Ia akhirnya sampai pada satu kesimpulan sederhana: untuk apa melawan?

    Bukankah selama ini ia memang sudah terbiasa menikmati sesuatu dalam diam?

    Rasa yang disimpan sendiri. Kekaguman yang tidak pernah disampaikan. Harapan yang tidak pernah diumumkan. Keinginan yang cukup diketahui oleh dirinya sendiri.

    Lalu kenapa mimpi harus diperlakukan berbeda?

    Kalau memang setiap malam tim keproduksian mimpi ingin menyajikan cerita, biarkan saja mereka bekerja. Ia tidak perlu lagi mengajukan protes. Tidak perlu mengirim surat keberatan. Tidak perlu mencoba menghentikan produksinya.

    Nikmati saja. Diam-diam. Seperti kebiasaannya selama ini.

    Katanya, setiap kali matanya terpejam, sosok itu kembali muncul. Terus menari di antara gelap. Terus memperbaiki ingatan yang sebenarnya sudah susah payah ia rusak sendiri.

    Terus mendulang kenangan yang seharusnya tidak perlu dikembalikan. Dan ia menyerah.

    Bukan karena tidak mampu melawan, tetapi karena melawan ternyata menghabiskan lebih banyak tenaga daripada menikmati.

    Lagipula, apa yang salah dengan menikmati sesuatu yang indah meskipun hanya dalam mimpi?

    Di sana semuanya bisa terjadi persis seperti yang ia inginkan. Tidak ada penolakan. Tidak ada jarak. Tidak ada keadaan yang mengharuskan seseorang pergi. Tidak ada kenyataan yang datang untuk membubarkan semuanya.

    Semuanya sempurna. Terlalu sempurna, malah.

    Ia kemudian mengatakan sesuatu yang menurutku cukup gila.

    “Kalau bisa, aku mau hidup di sana.”

    Aku tertawa ketika membaca pesannya.

    Baginya, dunia dalam mimpi itu seperti sebuah Artificial Life. Kehidupan buatan yang tidak benar-benar hidup, tetapi mampu memberikan sesuatu yang tidak ia dapatkan di kehidupan nyata.

    Kalau memang harus memilih, katanya, ia rela kehilangan wujudnya di dunia nyata asalkan masih memiliki wujud kehidupan itu di tempat lain.

    Setidaknya di sana, cerita tersebut masih ada.

    Kemudian ia punya satu permintaan kepada tim keproduksian mimpi. Satu saja. Ia ingin mimpi itu direkam.

    Katanya, kalau mesin perekam mimpi memang ada, ia ingin memilikinya.

    Ia hanya ingin menyimpan mimpinya sebagai arsip. Sebab ia tahu suatu hari nanti tim keproduksian mimpi itu mungkin akan berhenti bekerja.

    Mereka mungkin bosan. Mereka mungkin kehabisan cerita. Atau mungkin mereka pergi dan mulai bekerja untuk manusia lain.

    Kalau hari itu tiba, ia tidak ingin kehilangan semuanya begitu saja.

    Ia ingin punya rekamannya. Ia ingin bisa memutar kembali cerita itu kapan pun ia mau. Ketika rindu datang, ia tinggal menyalakan mesin. Ketika ingin melihatnya lagi, ia tinggal menekan tombol.

    Tidak perlu mencari. Tidak perlu berharap. Tidak perlu menunggu. Cukup memutar ulang seluruh mimpi yang telah direkam.

    Di akhir ceritanya, temanku justru meminta maaf kepada tim keproduksian mimpi.

    Ia merasa selama ini terlalu keras menolak mereka. Ia menganggap semua mimpi itu sebagai gangguan. Padahal mungkin mereka hanya sedang bekerja.

    Mereka hanya sedang menunjukkan sesuatu yang selama ini ia coba sembunyikan. Dan semakin keras ia berusaha melupakan, semakin rajin pula mereka memproduksi cerita.

    Lucunya, usaha melupakan itu justru menghasilkan sesuatu yang berlawanan. Ia gagal melupakan.

    Mungkin memang begitu cara kenangan bekerja. Semakin dipaksa pergi, semakin ia mencari jalan untuk pulang. Dan mungkin tim keproduksian mimpi itu bukan sedang mengkritiknya. Mereka hanya sedang mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan dengan kalimat, “sudah, lupakan saja.”

    Akhirnya ia memilih berhenti melawan. Bukan berarti ia akan mengejar. Bukan berarti ia akan mengganggu kehidupan siapa pun.

    Ia hanya memilih menikmati apa yang datang ketika malam tiba. Diam-diam. Seperti yang sudah-sudah.

    Kepada tim keproduksian mimpi, katanya, kali ini ia menyerah. Silakan terus bekerja. Silakan produksi sebanyak yang kalian mau.

    Ia akan menikmati. Ia bahkan akan berterima kasih.

    Tetapi satu hal masih ia tunggu sampai sekarang ialah mesin perekam mimpi. Sebab ia tahu, suatu hari nanti produksi itu akan berhenti.

    Dan ketika malam tidak lagi menghadirkan cerita yang sama, ia ingin memiliki satu hal yang tersisa yaitu arsip mimpi yang kapan saja bisa ia putar ulang.

    Agar ia bisa kembali melihat sebuah kehidupan yang mungkin tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Sebuah kehidupan yang hanya pernah hidup ketika matanya terpejam. Dan mungkin, untuk seseorang yang sudah terbiasa menjadi penikmat dalam diam, itu sudah lebih dari cukup.

  • Expecto Patronum

    Ada kalanya kenangan bahagia menjadi satu-satunya hal yang bisa menolong kita ketika sedang berada di titik terendah.

    Bukan karena kenangan itu bisa mengubah keadaan. Bukan pula karena masa lalu tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Tetapi karena ketika pikiran sedang dipenuhi hal-hal buruk, kenangan bahagia bisa menjadi semacam perisai. Ia mengingatkan kita bahwa hidup tidak selamanya seburuk yang sedang kita rasakan.

    Sayangnya, tidak semua orang punya kemewahan itu.

    Ada orang-orang yang sepanjang hidupnya beruntung mengumpulkan banyak kenangan bahagia. Ada yang memiliki keluarga yang hangat, teman-teman yang baik, orang-orang yang menyayanginya, atau sekadar pernah mengalami hari-hari yang membuatnya merasa hidup.

    Tapi ada juga orang yang tidak seberuntung itu.

    Hidup terlalu sibuk memukul mereka sampai-sampai mereka tidak sempat mengumpulkan kenangan bahagia. Mereka tumbuh dengan lebih banyak kenangan buruk daripada kenangan baik. Dan ketika suatu hari mereka berada di titik terendah, mereka tidak punya banyak tempat untuk bersembunyi.

    Padahal kenangan bahagia itu penting. Sebab ketika keadaan sedang buruk, kita membutuhkan sesuatu untuk mengingatkan bahwa kita pernah baik-baik saja.

    Namun pada akhirnya, semuanya kembali kepada bagaimana kita mengelola apa yang ada di dalam kepala kita. Kenangan buruk tidak selalu bisa kita hapus. Kenangan bahagia juga tidak selalu datang ketika kita membutuhkannya. Yang bisa kita lakukan adalah belajar menentukan mana yang akan kita beri ruang lebih besar.

    Untuk kamu yang merasa belum memiliki cukup banyak kenangan bahagia, terutama ketika sedang berada di titik terendah, jangan terlalu berharap orang lain akan datang dan memberikannya kepadamu.

    Kamu sendiri adalah modal utama untuk mendapatkan kenangan itu.

    Jangan menggantungkan seluruh kemungkinan bahagiamu kepada kehadiran seseorang. Karena kalau orang itu tidak datang, atau datang lalu pergi, kamu akan kehilangan dua hal sekaligus: orangnya dan harapan yang sudah telanjur kamu titipkan kepadanya.

    Itu akan membuatmu jatuh lebih dalam.

    Maka, buatlah kenangan bahagiamu sendiri.

    Aku tidak tahu bagaimana caranya. Kamu juga mungkin belum tahu. Tidak ada rumus yang berlaku untuk semua orang. Kita punya kepala dan hati yang berbeda. Apa yang membuat seseorang bahagia belum tentu berarti apa-apa bagi orang lain.

    Tapi mungkin salah satu caranya adalah dengan mulai menyayangi diri sendiri. Bukan dalam bentuk memanjakan diri secara berlebihan. Bukan pula dengan terus mengatakan bahwa kita pantas mendapatkan semuanya.

    Menyayangi diri sendiri, menurutku, adalah memperlakukan diri sendiri dengan tulus.

    Memberi diri sendiri kesempatan untuk beristirahat. Pergi ke tempat yang ingin kita datangi. Membeli sesuatu yang sudah lama kita inginkan. Bertemu orang-orang yang membuat kita nyaman. Menonton film sendirian. Makan makanan kesukaan. Berjalan tanpa tujuan. Atau sekadar duduk diam dan mengakui bahwa hari ini memang berat.

    Tidak perlu selalu ada alasan besar untuk bahagia. Kadang-kadang kita hanya perlu berhenti menyiksa diri sendiri.

    Aku sendiri punya satu cara sederhana untuk menjaga kepala tetap waras, aku menolak membenci orang lain.

    Bukan karena semua orang baik. Tentu saja tidak.

    Ada orang yang menyebalkan. Ada yang mengecewakan. Ada yang menyakiti. Ada pula yang memang pantas mendapatkan kebencian kita.

    Tapi aku sudah cukup lelah dengan segala masalah yang ada di dunia. Aku tidak mau menambah kelelahan itu dengan membawa kebencian terhadap orang lain ke mana-mana.

    Aku ingin mencari bahagia sebagai hadiah dari seluruh kelelahan yang sudah kulewati.

    Kalau setelah semua masalah itu aku masih harus menghabiskan energi untuk membenci seseorang, kapan aku punya waktu untuk bahagia?

    Karena itu, salah satu cara paling sederhana untuk tidak membenci orang lain adalah dengan tidak terlalu peduli terhadap kehidupan mereka, atau menganggap mereka tidak ada.

    Biarkan mereka hidup dengan pilihannya.

    Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau.

    Biarkan mereka mendapatkan apa yang mereka kejar.

    Tidak semua hal harus kita komentari. Tidak semua kehidupan harus kita bandingkan. Tidak semua orang harus kita mengerti.

    Aku punya hidupku sendiri yang harus kuurus. Dan kebahagiaanku adalah urusanku. Sebab pada akhirnya, yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaanku bukan orang lain.

    Aku sendiri.

    Jadi, kumpulkanlah kenangan bahagia sebanyak-banyaknya. Tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna. Karena kehidupan tidak akan pernah benar-benar sempurna.

    Ambil foto ketika sedang tertawa. Pergilah ke tempat yang ingin kamu datangi. Habiskan waktu dengan orang-orang yang kamu sayangi. Coba makanan baru. Mainkan permainan yang kamu suka. Dengarkan lagu yang membuatmu merasa hidup. Lakukan hal-hal kecil yang mungkin suatu hari nanti akan menjadi besar ketika dikenang.

    Sebab kita tidak pernah tahu kapan kenangan itu akan kita butuhkan.

    Dan ketika suatu hari hidup kembali membawa kita ke tempat yang paling rendah, ketika semuanya terasa terlalu berat dan kepala kita mulai dipenuhi pikiran-pikiran yang tidak seharusnya ada, coba pejamkan mata.

    Tarik napas. Lalu masuklah ke dalam kepalamu sendiri. Cari kenangan-kenangan itu.

    Satu per satu.

    Hari ketika kamu tertawa sampai perutmu sakit. Percakapan yang sampai sekarang masih membuatmu tersenyum. Perjalanan yang pernah membuatmu merasa bebas. Seseorang yang pernah membuatmu merasa dicintai. Makanan sederhana yang entah kenapa terasa begitu nikmat. Sore yang biasa saja, tetapi ternyata menjadi salah satu sore terbaik dalam hidupmu.

    Kumpulkan semuanya.

    Jelajahi masa lalu itu sedalam-dalamnya. Tarik keluar semua kenangan baik yang pernah kamu punya. Biarkan ia memenuhi kepalamu. Biarkan untuk sementara waktu kenangan-kenangan itu lebih keras daripada suara-suara buruk yang sedang berisik di kepalamu.

    Dan kalau semua kenangan itu sudah terkumpul, walaupun hidupmu masih pelik, walaupun masalahmu belum selesai, walaupun besok mungkin masih akan sama buruknya.

    Ayunkan tongkatmu.

    Angkat kepalamu.

    Lalu ucapkan dengan lantang:

    Expecto Patronum.

    Karena mungkin kita memang tidak selalu bisa mengalahkan kegelapan yang datang. Tapi setidaknya, kita punya alasan untuk tidak menyerah kepadanya.

  • Sepertinya saga bunga tidur ini belum selesai ketika aku kembali mendapatkan pesan dari seorang teman yang kembali ingin bercerita tentang mimpinya.

    Kalau kalian sempat membaca cerita sebelumnya, kalian pasti masih ingat. Teman yang satu ini memang sedang bermusuhan dengan tidurnya sendiri. Baginya, tidur bukan lagi tempat beristirahat. Tidur hanyalah pintu masuk menuju cerita-cerita yang tak pernah ia pesan.

    Akhir pekan itu matahari sedang galak-galaknya. Panas yang bahkan membuat orang malas keluar rumah. Di tengah cuaca seperti itu, ponselku berbunyi. Pesan darinya.

    “Bisa ketemu? Aku kesal.”

    Tak ada basa-basi. Tak ada kalimat pembuka yang sopan. Hanya kekesalan yang seolah sudah menunggu untuk dikeluarkan.

    Saat kami bertemu, wajahnya terlihat lebih letih dibanding beberapa waktu lalu. Bukan letih karena pekerjaan. Bukan juga karena kurang tidur. Justru letih karena tidur itu sendiri. Katanya, belakangan ini tidur menjadi aktivitas paling menyebalkan dalam hidupnya.

    Setiap kali matanya terpejam, selalu ada cerita yang datang. Cerita yang sama sekali tidak ia undang. Cerita yang ingin ia kubur jauh-jauh, tetapi justru terus diputar ulang seperti film yang tak mengenal kredit penutup.

    Ia bahkan mulai bertanya pada hal yang mungkin tidak pernah dipikirkan kebanyakan orang.

    “Siapa sebenarnya yang punya hak atas mimpi?”

    Pertanyaan itu terdengar aneh. Tapi setelah mendengar penjelasannya, aku mengerti kenapa ia bertanya demikian.

    Menurutnya, kalau manusia bisa mengatur banyak hal dalam hidupnya, kenapa mimpi justru terasa seperti wilayah yang tak bisa disentuh? Siapa yang menentukan isi mimpi seseorang? Siapa yang memilih tokoh-tokohnya? Siapa yang menyusun dialognya? Siapa yang memutuskan adegan mana yang harus diputar berulang kali?

    Ia lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih mirip orang yang menertawakan hidupnya daripada orang yang sedang bercanda.

    “Kalau memang ada orang yang mengatur semua mimpi itu, biar kutemui saja. Aku cuma mau protes. Kenapa harus cerita itu lagi?”

    Lalu ia terdiam beberapa saat. Justru setelah diam itulah pertanyaan yang lebih mengganggu muncul.

    “Jangan-jangan bukan orang lain.”

    Aku menatapnya.

    “Jangan-jangan kita sendiri.”

    Menurutnya, mungkin tidak ada sutradara di luar sana. Tidak ada penulis skenario yang diam-diam menyusup ke kepala manusia setiap malam. Mungkin semua itu adalah hasil pekerjaan pikirannya sendiri. Pikiran yang diam-diam menyimpan sesuatu yang di siang hari berusaha disangkal habis-habisan.

    Atau, mungkin mimpi hanyalah ruang arsip. Tempat semua hal yang gagal diselesaikan ketika sadar akhirnya mencari jalan keluar saat manusia tertidur.

    “Kalau memang begitu,” katanya, “berarti sumber masalahnya bukan mimpinya. Tapi pikiranku sendiri.”

    Kalimat itu meluncur pelan. Tidak marah. Tidak dramatis. Justru terdengar seperti seseorang yang akhirnya menemukan tersangka utama, tetapi tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.

    Ia mengibaratkan semua itu sebagai sebuah rumah produksi. Ada sutradara. Ada penulis skenario. Ada editor. Ada kru. Ada pemain. Dan setiap malam mereka bekerja tanpa mengenal libur.

    Tak peduli ia tidur delapan jam atau hanya dua jam. Tak peduli ia sedang lelah atau sedang baik-baik saja. Proses produksi itu tetap berjalan.

    “Aku capek,” katanya.

    “Bukan cuma karena mimpinya. Tapi karena produksi ini seperti tidak pernah berhenti.”

    Lalu ia menarik napas panjang.

    “Kalau boleh mengajukan permintaan, aku cuma ingin tim keproduksian mimpi itu istirahat sebentar. Bubarkan timnya. Lipat kameranya. Simpan naskahnya. Berhenti memutar cerita yang sama setiap malam.”

    Aku mendengarkan semuanya sampai selesai. Sesekali ia masih melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak mungkin kujawab.

    Kenapa pikiran lebih setia mengingat luka daripada kebahagiaan? Kenapa sesuatu yang ingin dilupakan justru paling rajin datang ketika mata tertutup? Kenapa tidur, yang katanya tempat manusia beristirahat, justru bisa menjadi tempat paling melelahkan bagi sebagian orang?

    Aku tidak punya jawaban.

    Mungkin memang tidak semua pertanyaan harus dijawab hari itu juga. Ada pertanyaan yang memang hanya ingin didengar. Ada kegelisahan yang sebenarnya tidak sedang mencari solusi. Hanya mencari saksi bahwa ia benar-benar pernah ada.

    Sebelum kami berpisah, ia masih sempat bergurau.

    “Kalau nanti tim keproduksian mimpi itu datang lagi malam ini, bilang ya… pemain utamanya lagi cuti.”

    Aku tertawa. Bukan karena lucu. Tapi karena kadang manusia memang hanya punya dua pilihan ketika menghadapi sesuatu yang tak mampu ia kendalikan.

    Menertawakannya. Atau membiarkannya menguasai seluruh hidup.

    Kalau kalian bertanya apakah setelah pertemuan itu mimpinya berhenti, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, ada orang-orang yang siang harinya tampak biasa saja, tetapi setiap malam harus berjuang menghadapi isi kepalanya sendiri.

    Dan mungkin, perjuangan paling sunyi memang bukan melawan dunia. Melainkan melawan cerita yang terus diproduksi oleh pikiran, bahkan ketika tubuh sedang berusaha beristirahat.

    Sebelum kalian mengakhiri tulisan ini, aku ingin bertanya. Pernahkah kalian merasa lelah bukan karena aktivitas seharian, melainkan karena tidur yang tidak benar-benar membuat kalian beristirahat?

    Kalau pernah, semoga suatu hari nanti kalian menemukan malam yang akhirnya memilih diam. Sebab, sekeras apa pun pikiran memutar ulang cerita, setiap orang tetap berhak mendapatkan tidur yang tidak dipenuhi oleh hal-hal yang ingin ia tinggalkan.

    Dan untuk temanku, aku hanya bisa berharap satu hal. Semoga suatu saat nanti, tim keproduksian mimpimu benar-benar mengambil cuti panjang.

  • Soal tidak menyukai seseorang, mungkin aku akan mengangkat tangan paling tinggi jika ada kompetisi adu siapa yang paling lama hidup tanpa menaruh hati pada siapa pun.

    Saking lamanya, aku mulai lupa bagaimana rasanya menunggu notifikasi yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan. Lupa bagaimana satu nama mampu mengubah suasana hati sepanjang hari. Bahkan lupa bagaimana rasanya menyusun puluhan kalimat, lalu menghapus semuanya karena terdengar terlalu antusias sendiri.

    Yang masih kuingat hanyalah kesibukanku dengan console-console di kamar. Menyelesaikan quest, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Rasanya cukup. Atau setidaknya, aku mengira begitu.

    Belakangan, aku lebih sering menjadi penonton.

    Aku memperhatikan teman-temanku yang bercerita sedang naksir seseorang. Ada juga yang tidak pernah bercerita, tetapi gelagatnya sudah lebih dari cukup. Cara mereka tersenyum saat menatap layar ponsel, kecepatan jemarinya membalas pesan, atau wajah yang tiba-tiba berbinar setelah sebuah notifikasi muncul, semuanya terlalu kentara untuk disebut kebetulan.

    Terus terang, menurutku mereka aneh.

    Mereka bisa bangun lebih pagi tanpa alarm hanya karena sudah berjanji ikut CFD bersama gebetan. Tiba-tiba rajin bercermin. Rajin menyetrika baju. Mulai memperhatikan parfum yang dipakai. Bahkan sepatu yang biasanya dibiarkan kusam mendadak terlihat mengilap. Padahal beberapa hari sebelumnya, ketika bertemu denganku, rambut mereka masih acak-acakan seperti baru selesai bernegosiasi dengan bantal.

    Aku mulai curiga.

    Energi apa yang sebenarnya mampu mengubah seseorang secepat itu?

    Aku pernah melihat seseorang begitu bersemangat hanya karena mendapat balasan, “Haha”. Padahal bisa saja itu hanyalah cara paling sopan untuk mengakhiri percakapan. Namun bagi orang yang sedang naksir, satu kata saja sudah cukup untuk menjadi alasan melanjutkan obrolan. Gas terus!.

    Aku tahu manusia memiliki bio-listrik, energi yang memungkinkan jantung berdetak, otot bergerak, dan otak mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh. Namun rasanya ada jenis energi lain yang belum pernah ditulis orang-orang.

    Energi yang tiba-tiba muncul ketika seseorang bertemu dengan orang yang mampu membuatnya jatuh hati.

    Energi yang membuat orang rela bangun lebih pagi, menempuh perjalanan lebih jauh, dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya demi sebuah pertemuan yang mungkin berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit.

    Apakah itu Pembangkit Listrik Tenaga Naksir?

    Sebab sebelumnya, teman-temanku selalu punya alasan untuk bermalas-malasan. Membalas pesan nanti saja. Mandi nanti saja. Beres-beres kamar nanti saja. Lalu entah bagaimana, setelah ada seseorang yang berhasil mengusik hatinya, semua kata “nanti” berubah menjadi “sekarang”.

    Aneh sekali.

    Semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa rasa naksir barangkali memang bukan tentang memiliki seseorang. Ia lebih mirip sumber energi yang diam-diam menyalakan banyak hal dalam diri manusia. Ia membuat orang ingin menjadi lebih rapi, lebih sehat, lebih berani, bahkan lebih disiplin. Bukan karena ada aturan yang memaksa, melainkan karena ada seseorang yang, entah mengapa, terasa layak untuk diperjuangkan.

    Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Aku tidak tahu mana yang lebih menyedihkan. Menjadi seseorang yang menghabiskan terlalu banyak energi untuk menyukai orang lain. Atau menjadi seseorang yang sudah begitu lama hidup tanpa ada apa pun yang sanggup menyalakan mesinnya kembali.

    Mungkin ada benarnya, bahwa rasa naksir tidak pernah benar-benar diciptakan untuk dimenangkan atau dikalahkan. Ia hanya datang sesekali, seperti listrik yang kembali mengalir setelah lama padam. Bukan untuk menerangi seluruh kota, melainkan sekadar mengingatkan bahwa di dalam diri kita masih ada ruang yang bisa menyala.

    Barangkali kita tidak pernah benar-benar membutuhkan seseorang untuk dimiliki. Kita hanya sesekali membutuhkan seseorang yang mampu menyalakan pembangkit listrik ini di dalam diri kita.

    Sialnya, seperti kebanyakan pembangkit, energi ini juga tidak selalu bekerja dengan stabil. Begitu urusan naksir selesai entah karena akhirnya jadian, berhasil memiliki, atau justru rasa penasarannya telah habis tegangan itu perlahan menurun. Orang yang dulu rela bangun sebelum matahari terbit kembali akrab dengan bangun siang. Yang dulu membalas pesan dalam hitungan detik, kini butuh berjam-jam, bahkan seharian. Baju yang sempat rajin disetrika kembali menumpuk di kursi. Parfum kembali menjadi penghuni tetap lemari.

    Seolah-olah sumber listriknya telah dicabut.

    Lucunya, bukan hanya rasa deg-degan yang hilang. Semangat yang dulu ikut menyala perlahan meredup. Energi yang membuat seseorang ingin menjadi versi terbaik dari dirinya ikut menguap bersama rasa penasarannya.

    Lalu semuanya kembali seperti semula. Rasa malas datang lagi. Rutinitas kembali terasa biasa. Mesin yang sempat meraung-raung itu kembali sunyi.

    Kalau dipikir-pikir, jangan-jangan yang selama ini kita sebut “jatuh hati” bukan hanya tentang menemukan seseorang. Bisa jadi, ia hanyalah pemantik. Sebuah starter yang menghidupkan mesin yang sebenarnya sudah lama ada di dalam diri kita.

    Pertanyaannya, mengapa mesin itu baru mau menyala ketika ada orang lain? Mengapa kita tidak bisa menjadi pembangkit bagi diri sendiri?

    Ayo coba dipikirkan? Pikirkan dengan logika!

  • Obat Pereda Mimpi

    Ada orang yang kalau bangun tidur, mimpinya langsung selesai. Hilang begitu saja, seperti pesan email masuk yang terkadang isinya dihiraukan.

    Tapi ada juga mimpi yang memilih tinggal lebih lama. Mengendap seharian. Bahkan ikut duduk di samping kita ketika sedang menyeruput kopi di sore hari.

    Cerita ini datang dari seorang teman.

    Ia mengirim pesan usai aku menghadapi kerumuman kendaraan saat menuju tempat kerja. Katanya, ada sesuatu yang mengganggu kepalanya sejak bangun pagi. Bukan karena pekerjaan. Bukan juga karena tagihan. Hanya karena semalam ia bermimpi.

    Usai bertarung dengan pekerjaan masing-masing kami bertemu di sebuah coffee shop di pusat kota dekat sebuah lapangan yang tak kunjung selesai direnovasi, ia tertawa kecil sebelum mulai bercerita.

    “Lucu ya. Sudah lama aku nggak mimpi begini,” katanya.

    Ia bilang, kalau saja manusia berhasil menciptakan mesin perekam mimpi, mungkin sejak pagi ia sudah menekan tombol replay berkali-kali. Bukan karena jalan ceritanya hebat. Justru karena perasaan yang ditinggalkan mimpi itu terasa terlalu nyata.

    “Mimpi ini pingin aku tulis,” ucapnya. “Biar kalau nanti lupa, aku masih punya bukti kalau pernah ada satu pagi aku bangun sambil senyum-senyum sendiri.”

    Lalu ia mulai menceritakan isi mimpinya.

    Di sana ada seorang perempuan.

    Berkacamata. Rambutnya panjang. Senyumnya… anehnya masih sangat jelas diingatnya.

    Satu hal yang membuatku cukup mengelitik dari mimpinya itu adalah di saat ia tidur ia bermimpi, dan di dalam mimpi ia terbangun dari tidurnya.

    Perempuan itu datang. Duduk di samping kasur. Memeluknya.

    Lalu bertanya pelan.

    “Bagaimana cara kita supaya terus bisa bertemu tanpa perlu diketahui orang lain?”

    Ia mengaku sampai sekarang masih memikirkan kalimat itu. Orang lain yang mana? Apa yang sedang disembunyikan? Kenapa harus diam-diam?

    Mimpi memang kurang ajar. Selalu memberi satu adegan tanpa pernah merasa berkewajiban menjelaskan apa pun. Sisanya, kita sendiri yang sibuk menafsirkan.

    Yang paling membekas ternyata bukan pertanyaan itu.

    Melainkan senyum perempuan tersebut. Padahal biasanya wajah-wajah di dalam mimpi mulai kabur beberapa menit setelah bangun. Yang ini justru bertahan seharian.

    Sampai ketika bercerita pun, ia beberapa kali tersenyum sendiri.

    “Memalukan ya,” katanya sambil tertawa. “Rasanya kayak anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta.”

    Lalu, tepat ketika semua adegan sedang terasa begitu hangat, alam bawah sadarnya memutuskan menjadi penulis skenario yang buruk.

    Tiba-tiba ia masuk ke kamar mandi. Di dalam kakus ada tahi yang mengambang.

    “Iya, serius. Terus aku langsung bangun,” jelasnya sambil tertawa heran.

    Dari sekian banyak kemungkinan adegan yang bisa dipilih otak manusia, kenapa justru itu? Tidak ada yang tahu. Mungkin memang tidak ada maknanya. Mungkin sesekali otak memang sengaja menjadi sutradara yang buruk.

    Anehnya, bagian paling absurd itu tidak berhasil menghapus rasa bahagia yang tertinggal setelah bangun. Sudah lama, katanya, pagi hanya berisi alarm, mandi, berangkat kerja, pulang, lalu mengulang semuanya lagi.

    Hari itu berbeda. Ia bangun sambil tersenyum.

    Dan justru itu yang membuatnya takut. Bukan karena mimpinya. Melainkan karena dirinya sendiri.

    Ia takut ternyata dirinya masih bisa berdebar hanya karena seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ada. Ia takut ternyata dirinya belum selesai dengan kebiasaan jatuh kepada sesuatu yang mungkin akan menyakitinya nanti.

    Karena kalau itu benar, berarti satu siklus lama bisa saja datang lagi. Jatuh hati.

    Katanya, ia tidak ingin kembali ke sana. Bukan karena jatuh hati itu buruk. Justru karena ia tahu betul betapa indahnya dan sesuatu yang terlalu indah sering kali datang bersama kemampuan untuk menghancurkan seseorang secara perlahan.

    Mungkin memang lebih baik mimpi itu tetap tinggal sebagai mimpi. Tidak perlu diwujudkan. Tidak perlu berharap mimpi itu datang lagi malam nanti. Karena ada beberapa hal yang terasa sempurna justru karena tidak pernah benar-benar terjadi.

    Sebelum kami pulang, ia menghabiskan sisa kopinya, memandangi meja beberapa detik, lalu berkata pelan,

    “Aku suka dengan mimpi ini. Suka sekali. Aku bahagia. Namun entah kenapa, setelah mimpi ini selesai, aku benar-benar merasa lelah. Tak tahu lelah karena apa. Tapi aku benar-benar lelah. Menyimpan sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi ternyata juga bisa menguras tenaga. Kadang aku berpikir… mungkin mimpi memang bukan untuk dikejar. Mungkin ia hanya datang untuk mengingatkan kalau hatiku ternyata masih hidup. Tapi kalau suatu hari nanti ia kembali menyapaku lagi di tiap mimpi, apakah sebaiknya aku menyerah saja?”

    Menyerah pada apa, ia pun tak tahu. Sebab bahkan ia sendiri tak pernah mampu menjelaskan arti dari kalimat itu. Apakah menyerah berarti tetap membiarkan semua perasaannya terkunci rapat, atau menyerah berarti menghilang dari semua yang selama ini disebut kehidupan. Tak ada jawaban. Ia hanya terdiam, seolah pertanyaan itu memang tidak pernah meminta jawaban.

    Atau… mungkin ia perlu pergi ke masa depan, menemui seekor kucing biru yang menggemaskan, lalu bertanya apakah di dalam kantong ajaibnya ada obat pereda mimpi. Siapa tahu, itu satu-satunya cara untuk membantu temanku.

  • Tulisan ini lahir karena sebuah lagu. Bukan lagu baru. Sudah berkali-kali diputar. Sudah berkali-kali lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Tapi entah kenapa hari ini, satu potongan lirik dari lagu Pertanyaan milik Gusti seperti menampar cukup kuat.

    “Mengapa engkau begitu angkuh? Sehingga aku tak mengerti arah tujuanmu.”

    Dan seperti biasa, otak manusia punya kebiasaan aneh. Satu kalimat bisa menyeret kita ke lorong-lorong pemikiran baru.

    Aku jadi berpikir tentang satu hal yang akhir-akhir ini membuatku iri pada orang lain. Bukan kekayaan. Bukan jabatan. Bahkan bukan kecerdasan yang kadang membuat seseorang terlihat seperti hidup di level yang berbeda.

    Yang paling membuatku iri justru sesuatu yang jauh lebih sederhana. Kemampuan untuk jatuh hati. Aneh memang. Di saat banyak orang seusiaku sibuk mencari pasangan, mempersiapkan pernikahan, atau setidaknya masih menikmati fase berbunga-bunga saat mengenal orang baru, aku justru berdiri di sisi yang lain. Menjadi penonton yang tidak paham kenapa mereka, sebagai pemain, begitu bersemangat memainkan permainannya.

    Aku melihat orang bisa menyukai seseorang. Bisa penasaran. Bisa menunggu balasan pesan. Bisa deg-degan ketika nama tertentu muncul di layar ponsel. Dan aku cuma bisa bertanya dalam hati, “Kok bisa?” Karena yang kurasakan justru sebaliknya. Flat. Datar. Kosong.

    Bertemu orang baru tidak lagi terasa seperti petualangan. Tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Tidak ada semangat untuk membangun percakapan sampai larut malam. Tidak ada dorongan untuk mencari tahu lagu favoritnya, buku kesukaannya, atau bagaimana cara dia memandang dunia. Bahkan sudah di tahap malas untuk menerima ajakan telepon maupun video call, karena aku tahu hanya akan buang-buang waktu sebab aku tahu responku bakal acuh tak acuh.

    Semua terasa seperti formalitas yang bisa dilewati. Lucunya, kondisi ini membuatku mulai menganggap orang yang ingin menikah sebagai orang aneh. Bukan karena aku menganggap mereka salah. Aku hanya sudah terlalu lama berdiri di titik yang berbeda sampai-sampai sulit memahami kenapa orang lain masih begitu antusias terhadap sesuatu yang bagiku terasa hambar.

    Seolah-olah semua orang sedang menikmati makanan favorit mereka, sementara lidahku kehilangan kemampuan untuk mengecap rasa. Yang lebih aneh lagi, aku tidak tahu penyebabnya.

    Kalau ditanya kenapa bisa begini, aku tidak punya jawaban. Trauma Mungkin iya. Kecewa? Entahlah. Lelah? Bisa jadi.

    Atau mungkin memang ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak lagi merasa perlu mencari siapa pun untuk mengisi ruang kosong karena ruang itu sendiri sudah tidak terasa kosong.

    Aku tidak tahu. Dan jujur saja, aku tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu.

    Karena setiap kali pertanyaan itu muncul, selalu ada jawaban yang sama datang dari dalam kepala: “Ya, terus kenapa?” Tidak semua pertanyaan harus dijawab.

    Tidak semua misteri harus dipecahkan. Ada banyak hal lain yang lebih menarik untuk menghabiskan waktu. Buku yang belum selesai dibaca. Game yang belum tamat. Gunpla yang tak kunjung selesai dirakit. Pekerjaan yang belum beres. Tempat makan yang belum dikunjungi.

    Mungkin suatu hari rasa itu kembali. Mungkin juga tidak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, kemungkinan itu tidak membuatku khawatir.

    Jadi jika hari ini aku iri kepada seseorang, itu bukan karena isi rekeningnya. Bukan karena kariernya. Bukan karena pencapaiannya.

    Aku iri karena dia masih bisa jatuh hati. Karena ternyata kemampuan itu, yang dulu terasa biasa saja, kini menjadi sesuatu yang asing bagiku.

    Dan anehnya, aku bahkan tidak yakin apakah aku ingin mendapatkannya kembali.

    Lalu kembali ke lagu alm. Gusti di awal tadi. “Mengapa engkau begitu angkuh? Sehingga aku tak mengerti arah tujuanmu.” Setelah begitu lama mendengarkan lagu ini untuk pertama kalinya, pertanyaan itu terasa seperti sedang diarahkan kepadaku sendiri.

    Apakah aku benar-benar seangkuh itu?

    Seangkuh itu untuk tetap memilih hidup sendiri. Seangkuh itu untuk menutup pintu rapat-rapat terhadap segala kemungkinan yang datang dari setiap perkenalan baru. Seangkuh itu untuk tidak memberi kesempatan pada orang lain, bahkan sebelum mereka sempat masuk lebih jauh ke dalam hidupku.

    Atau jangan-jangan ini bukan soal keangkuhan sama sekali.

    Mungkin benar seperti yang sering dikatakan orang-orang di sekitarku. Bahwa ini adalah mati rasa.

    Masalahnya, jika ini memang mati rasa, gejalanya tidak hanya muncul dalam urusan dengan manusia. Belakangan aku menyadari perasaan datar itu mulai merembet ke mana-mana. Ke buku-buku yang biasanya membuatku betah berjam-jam. Ke film dan serial yang dulu selalu kutunggu. Ke game-game yang dulu sanggup membuatku lupa waktu. Bahkan ke hal-hal yang selama ini kusebut sebagai hobi.

    Semuanya masih kulakukan. Tapi rasanya berbeda. Tidak lagi memberikan kenikmatan yang sama.

    Di titik ini aku kembali memiliki pertanyaan yang tidak tahu harus ditujukan kepada siapa. Apakah ini memang sesuatu yang dialami semua orang ketika memasuki usia kepala tiga? Apakah ini fase yang diam-diam dialami banyak orang tetapi jarang dibicarakan? Atau justru hanya aku saja yang sedang tersesat di ruang bernama hambar ini?

    Aku tidak tahu.

    Sama seperti pertanyaan-pertanyaan lain yang memenuhi kepala belakangan ini, mungkin yang paling jujur bukanlah mencari jawabannya, melainkan mengakui bahwa sampai hari ini aku masih belum menemukannya dan mungkin memang tidak perlu untuk ditemukan.

  • Mungkin, pernahkah kau berpikir bahwa sejak awal pertemuan kita, sebenarnya aku tidak sekadar ingin berkenalan denganmu?

    Sebenarnya, aku sedang berusaha mengajarkanmu cara terbang.

    Bukan terbang seperti burung yang mengepakkan sayap. Bukan pula seperti pesawat bermesin yang memecah langit dengan suara bisingnya. Aku ingin mengajakmu terbang melampaui atmosfer, meninggalkan segala hal yang selama ini mengikatmu pada bumi.

    Sebab bumi terlalu gaduh.

    Di sana, manusia sering kali sibuk mengejar ambisi hingga lupa menikmati apa yang sudah mereka miliki. Mereka berlari tanpa henti, saling mendahului, saling menabrakkan keinginan, seolah hidup adalah perlombaan yang tidak pernah mengenal garis akhir.

    Karena itu, aku ingin mengajakmu pergi. Sebuah perjalanan yang jauh.

    Sebelum berangkat, izinkan aku memperkenalkanmu kepada seorang teman lama. Sebuah bintang yang tidak banyak bicara, namun selalu tahu arah pulang.

    Kemudian kita pun melaju. Menembus lapisan demi lapisan langit hingga bumi perlahan terlihat mengecil di belakang kita.

    Di perjalanan, kau akan menyaksikan aurora kosmik menari seperti tirai cahaya raksasa yang terbentang di antara gugusan bintang. Warnanya berubah setiap detik hijau, biru, ungu, lalu keemasan. Seolah semesta sedang melukis tanpa pernah kehabisan warna.

    Tak lama kemudian, kita tiba di hadapan Nebula Orion.

    Hamparan awan raksasa berwarna biru dan ungu itu tampak seperti lautan yang mengambang di tengah kehampaan. Di sanalah bintang-bintang muda dilahirkan. Mereka baru belajar bersinar, baru belajar menjadi cahaya bagi kegelapan yang begitu luas.

    Di tengah perjalanan, hujan meteor melintas begitu dekat.

    Ribuan batu langit berpijar membelah gelap, meninggalkan jejak-jejak cahaya panjang yang perlahan menghilang di kejauhan. Saat itu kau terdiam. Untuk pertama kalinya, kau menyadari bahwa keindahan tidak selalu membutuhkan penjelasan.

    Di kejauhan, cincin Saturnus berkilau seperti gelang perak yang melingkari tangan semesta. Sementara galaksi-galaksi berputar perlahan, seakan waktu sendiri sedang berjalan lebih lambat dari biasanya.

    Sepanjang perjalanan, aku tidak banyak berbicara.

    Aku membiarkanmu menikmati semua pemandangan yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Sebab beberapa hal memang terlalu megah untuk dirusak oleh percakapan. Ada keindahan yang lebih baik jika dibiarkan berbicara untuk dirinya sendiri.

    Dan kemudian, bulan mulai terlihat.

    Bukan sebesar yang biasa kau lihat dari jendela kamar. Bukan pula sekecil titik cahaya yang tampak dari bumi. Ia hadir sebagai sebuah dunia yang utuh. Sunyi. Tenang. Jauh dari segala keramaian yang selama ini membuat manusia lelah.

    Kita telah sampai di tujuan. Untuk pertama kalinya, aku mengajakmu hidup dalam kesunyian yang ramah.

    Di sana tidak ada suara klakson. Tidak ada tuntutan. Tidak ada perlombaan. Hanya kita, dan cahaya bumi yang tampak jauh di kejauhan seperti lampu kecil yang sengaja ditinggalkan.

    Di atas tanah bulan, aku coba mengajakmu menikah dengan hujan sebagai penghulunya. Terserah entah darimana asalnya yang pasti butiran-butiran air yang jatuh juga akan ikut menjadi saksi.

    Dan aku berhasil mewujudkan sebuah lagu yang begitu sering menemani hari-hariku semasa kuliah. Lagu milik Frau berjudul Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa. Kita lah yang menjadi pasangan itu!


  • Kemarin sore, di sebuah coffee shop tempat aroma kopi bercampur samar dengan bau kotoran kuda, aku bertemu teman lama. Terakhir kami bertemu sekitar 2019. Sudah cukup lama untuk membuat banyak hal berubah, tapi ternyata tidak untuk satu hal, cara dia memandang hidupnya sendiri.

    Obrolan kami mengalir ke mana-mana, seperti biasa. Tentang usia kepala tiga, tentang hidup yang makin kompleks, tentang realita yang tidak lagi bisa ditertawakan semudah dulu. Sampai kemudian aku berhenti di satu titik, saat dia mulai bercerita soal kondisinya.

    Sebenarnya ini bukan cerita baru. Dari dulu aku sudah tahu. Dulu juga aku sering menganggap enteng setiap kali dia mengatakannya. Tapi sekarang, setelah bertahun-tahun yang berubah hanya satu, kondisinya makin parah. Cara berpikirnya? Tetap sama.

    Dia bilang, dengan tenang namun dingin,
    “Keputusanku untuk tetap sendiri itu benar. Aku punya bom waktu di tubuhku. Bisa meledak kapan saja. Aku nggak mau nyusahin orang lain.”

    Bom waktu itu, jantungnya.

    Irama jantungnya kacau. Kadang lambat, lalu melambat sekali, lalu tiba-tiba melonjak cepat. Bukan cuma soal angka di alat medis, itu terasa langsung di tubuhnya. Tidak nyaman. Mengganggu. Menakutkan, kalau mau jujur membayangkannya.

    Dulu dia rutin memeriksakan diri. Sekarang? Dia memilih abai. Entah karena lelah, entah karena merasa percuma, atau mungkin dia merasa sudah “berdamai”. dan untuk alasan terakhir benar-benar mengganggu.

    Tapi berdamai dengan detak jantung yang bisa sewaktu-waktu mengkhianati tubuh sendiri? Kedengarannya bukan damai. Kedengarannya seperti menyerah.

    Kemarin, di pertemuan itu, dia cerita kondisi terbarunya. Setelah kopi kedua hari itu, dadanya mulai nyeri. Nyeri itu menjalar sampai ke siku kiri. Hari sebelumnya juga sama setelah kopi ketiga, meski belum sampai menjalar ke siku.

    Dan yang lebih parah, sampai hari ini, rasa itu belum hilang. Justru makin mengganggu. Tidurnya kacau. Detak jantungnya tetap tidak beraturan. Nyeri itu masih tinggal katanya.

    Aku sudah bilang berkali-kali untuk periksa. Jangan tunggu. Jangan anggap ini biasa.

    Jawabannya tetap sama. Singkat. Ringan. Menghindar.
    “Nantilah.”

    Jawaban yang terlalu sering diulang sampai kehilangan makna.

    Dan di titik itu, aku sadar satu hal bahwa kondisinya bukan cuma memperburuk fisiknya, tapi juga menguatkan keyakinannya untuk hidup sendiri. Bukan karena dia tidak ingin ditemani. Tapi karena dia sudah memutuskan untuk lebih baik menanggung semuanya sendiri daripada berisiko “merepotkan” orang lain saat bom waktu itu benar-benar meledak.

    Masalahnya, hidup bukan soal merepotkan atau tidak. Tapi dia sudah memilih melihatnya sesederhana itu.

    Dan mungkin, itu yang paling sulit diubah.

  • Di tengah malam, layar ponsel kembali menyala. Bukan notifikasi promo. Bukan pula kabar darurat. Pesan itu datang dari aplikasi hijau, dan dari seorang teman lama di seberang pulau.

    Pesan yang sederhana, tapi cukup membuatku untuk kembali bertarung menahan kantuk di malam itu.

    “Kau mungkin tidak akan percaya, tapi kali ini aku bertemu seseorang yang berhasil merobohkan tembok pertahanku.”

    Aku sempat mendengus kecil. Mengira ini hanya efek sisa alkohol yang biasa ia tenggak setiap akhir pekan. Siapa pula yang membahas tembok di tengah malam?

    Lalu pesan kedua masuk.

    “Setelah sekian lama aku bertahan sendiri, tembok ini pun akhirnya ada yang berhasil meruntuhkan.”

    Di titik itu aku paham, yang ia sebut tembok bukanlah beton, bukan pula besi. Melainkan lapisan-lapisan ketakutan yang ia bangun sendiri selama bertahun-tahun.

    Dulu, temanku ini pernah hancur. Benar-benar hancur.

    Bukan sekadar patah hati yang bisa sembuh dengan kopi dan lagu senja seperti kata mereka. Tapi jenis luka yang membuat seseorang memutuskan untuk lebih aman hidup sendirian.

    Ia mengunci pintu. Menutup jendela. Menjauh dari segala kemungkinan di tiap perkenalan. Bukan karena tidak ingin bahagia, melainkan karena terlalu paham bagaimana rasanya kehilangan.

    Aku pikir kabar tentang tembok yang runtuh seharusnya menjadi kabar baik. Ternyata tidak sesederhana itu. Baginya, membuka diri bukan berarti siap memiliki. Melainkan siap untuk kehilangan lagi.

    Ia bilang, membuka diri lagi hanyalah versi lain dari melatih diri untuk tidak ambruk ketika ditinggalkan kembali.

    Bukan sebuah penggalan romantis, bukan pula optimis. Melainkan jujur.

    Di tengah perasaan senang yang canggung dan takut yang tak bisa disangkal, ia sedang belajar satu hal: menerima apa pun bentuk akhirnya.

    Lalu pesan terakhirnya datang, dan pesan itu membuatku tertegun.

    “Aku tidak berteman dekat dengan harapan. Dengan perkenalan ini pun aku tidak berharap apa-apa. Aku hanya senang dipertemukan dengannya, seseorang yang berhasil membuatku luluh setelah bertahun-tahun bertahan. Aku bersyukur diberi kesempatan mengenalnya. Sekarang tugasku hanya satu yaitu membuatnya bahagia. Soal akhirnya bagaimana, terserah. Jika ia menghilang, aku siap. Jika aku harus kehilangan lagi, aku terima. Aku hadapi.”

    Tidak ada janji. Tidak ada rencana jangka panjang. Tidak ada kalimat “semoga selamanya”.

    Yang ada hanya keberanian kecil untuk berani hadir, berani tulus dan berani terluka lagi jika memang harus.

    Mungkin inilah bentuk kedewasaan paling sunyi. Bukan tentang memiliki.
    Melainkan tentang keikhalasan jika kembali menghadapi kehilangan.

    Dan entah kenapa, justru di cerita ini aku melihat keikhlasan yang paling manusiawi. Di satu sisi, temanku berani membuka diri untuk bangkit. Namun, di sisi lain juga siap untuk kembali mengelola diri jika jatuh kembali.