besarmulut.com

Amateur Storyteller


  • Kemarin sore, di sebuah coffee shop tempat aroma kopi bercampur samar dengan bau kotoran kuda, aku bertemu teman lama. Terakhir kami bertemu sekitar 2019. Sudah cukup lama untuk membuat banyak hal berubah, tapi ternyata tidak untuk satu hal, cara dia memandang hidupnya sendiri.

    Obrolan kami mengalir ke mana-mana, seperti biasa. Tentang usia kepala tiga, tentang hidup yang makin kompleks, tentang realita yang tidak lagi bisa ditertawakan semudah dulu. Sampai kemudian aku berhenti di satu titik, saat dia mulai bercerita soal kondisinya.

    Sebenarnya ini bukan cerita baru. Dari dulu aku sudah tahu. Dulu juga aku sering menganggap enteng setiap kali dia mengatakannya. Tapi sekarang, setelah bertahun-tahun yang berubah hanya satu, kondisinya makin parah. Cara berpikirnya? Tetap sama.

    Dia bilang, dengan tenang namun dingin,
    “Keputusanku untuk tetap sendiri itu benar. Aku punya bom waktu di tubuhku. Bisa meledak kapan saja. Aku nggak mau nyusahin orang lain.”

    Bom waktu itu, jantungnya.

    Irama jantungnya kacau. Kadang lambat, lalu melambat sekali, lalu tiba-tiba melonjak cepat. Bukan cuma soal angka di alat medis, itu terasa langsung di tubuhnya. Tidak nyaman. Mengganggu. Menakutkan, kalau mau jujur membayangkannya.

    Dulu dia rutin memeriksakan diri. Sekarang? Dia memilih abai. Entah karena lelah, entah karena merasa percuma, atau mungkin dia merasa sudah “berdamai”. dan untuk alasan terakhir benar-benar mengganggu.

    Tapi berdamai dengan detak jantung yang bisa sewaktu-waktu mengkhianati tubuh sendiri? Kedengarannya bukan damai. Kedengarannya seperti menyerah.

    Kemarin, di pertemuan itu, dia cerita kondisi terbarunya. Setelah kopi kedua hari itu, dadanya mulai nyeri. Nyeri itu menjalar sampai ke siku kiri. Hari sebelumnya juga sama setelah kopi ketiga, meski belum sampai menjalar ke siku.

    Dan yang lebih parah, sampai hari ini, rasa itu belum hilang. Justru makin mengganggu. Tidurnya kacau. Detak jantungnya tetap tidak beraturan. Nyeri itu masih tinggal katanya.

    Aku sudah bilang berkali-kali untuk periksa. Jangan tunggu. Jangan anggap ini biasa.

    Jawabannya tetap sama. Singkat. Ringan. Menghindar.
    “Nantilah.”

    Jawaban yang terlalu sering diulang sampai kehilangan makna.

    Dan di titik itu, aku sadar satu hal bahwa kondisinya bukan cuma memperburuk fisiknya, tapi juga menguatkan keyakinannya untuk hidup sendiri. Bukan karena dia tidak ingin ditemani. Tapi karena dia sudah memutuskan untuk lebih baik menanggung semuanya sendiri daripada berisiko “merepotkan” orang lain saat bom waktu itu benar-benar meledak.

    Masalahnya, hidup bukan soal merepotkan atau tidak. Tapi dia sudah memilih melihatnya sesederhana itu.

    Dan mungkin, itu yang paling sulit diubah.

  • Di tengah malam, layar ponsel kembali menyala. Bukan notifikasi promo. Bukan pula kabar darurat. Pesan itu datang dari aplikasi hijau, dan dari seorang teman lama di seberang pulau.

    Pesan yang sederhana, tapi cukup membuatku untuk kembali bertarung menahan kantuk di malam itu.

    “Kau mungkin tidak akan percaya, tapi kali ini aku bertemu seseorang yang berhasil merobohkan tembok pertahanku.”

    Aku sempat mendengus kecil. Mengira ini hanya efek sisa alkohol yang biasa ia tenggak setiap akhir pekan. Siapa pula yang membahas tembok di tengah malam?

    Lalu pesan kedua masuk.

    “Setelah sekian lama aku bertahan sendiri, tembok ini pun akhirnya ada yang berhasil meruntuhkan.”

    Di titik itu aku paham, yang ia sebut tembok bukanlah beton, bukan pula besi. Melainkan lapisan-lapisan ketakutan yang ia bangun sendiri selama bertahun-tahun.

    Dulu, temanku ini pernah hancur. Benar-benar hancur.

    Bukan sekadar patah hati yang bisa sembuh dengan kopi dan lagu senja seperti kata mereka. Tapi jenis luka yang membuat seseorang memutuskan untuk lebih aman hidup sendirian.

    Ia mengunci pintu. Menutup jendela. Menjauh dari segala kemungkinan di tiap perkenalan. Bukan karena tidak ingin bahagia, melainkan karena terlalu paham bagaimana rasanya kehilangan.

    Aku pikir kabar tentang tembok yang runtuh seharusnya menjadi kabar baik. Ternyata tidak sesederhana itu. Baginya, membuka diri bukan berarti siap memiliki. Melainkan siap untuk kehilangan lagi.

    Ia bilang, membuka diri lagi hanyalah versi lain dari melatih diri untuk tidak ambruk ketika ditinggalkan kembali.

    Bukan sebuah penggalan romantis, bukan pula optimis. Melainkan jujur.

    Di tengah perasaan senang yang canggung dan takut yang tak bisa disangkal, ia sedang belajar satu hal: menerima apa pun bentuk akhirnya.

    Lalu pesan terakhirnya datang, dan pesan itu membuatku tertegun.

    “Aku tidak berteman dekat dengan harapan. Dengan perkenalan ini pun aku tidak berharap apa-apa. Aku hanya senang dipertemukan dengannya, seseorang yang berhasil membuatku luluh setelah bertahun-tahun bertahan. Aku bersyukur diberi kesempatan mengenalnya. Sekarang tugasku hanya satu yaitu membuatnya bahagia. Soal akhirnya bagaimana, terserah. Jika ia menghilang, aku siap. Jika aku harus kehilangan lagi, aku terima. Aku hadapi.”

    Tidak ada janji. Tidak ada rencana jangka panjang. Tidak ada kalimat “semoga selamanya”.

    Yang ada hanya keberanian kecil untuk berani hadir, berani tulus dan berani terluka lagi jika memang harus.

    Mungkin inilah bentuk kedewasaan paling sunyi. Bukan tentang memiliki.
    Melainkan tentang keikhalasan jika kembali menghadapi kehilangan.

    Dan entah kenapa, justru di cerita ini aku melihat keikhlasan yang paling manusiawi. Di satu sisi, temanku berani membuka diri untuk bangkit. Namun, di sisi lain juga siap untuk kembali mengelola diri jika jatuh kembali.

  • Tidak semua pernikahan gagal. Sebagian justru sukses menciptakan satu pemimpin dan satu pengikut, lalu menyebutnya cinta. Relasi semacam ini bekerja seperti akuisisi dalam dunia bisnis: satu pihak mengambil alih arah, keputusan, dan ritme hidup, sementara pihak lain perlahan melepas haknya untuk menentukan.

    Dalam dunia startup, akuisisi berarti satu pihak membeli, mengambil alih, dan menentukan arah. Identitas yang diambil boleh tetap dipajang di depan, tapi keputusan sudah bukan miliknya lagi. Anehnya, pola ini terasa sangat familiar dalam banyak rumah tangga. Satu pihak memimpin, yang lain menyesuaikan. Satu suara dianggap paling tahu, yang lain diminta percaya. Semua dibungkus rapi dengan kalimat-kalimat bernada perhatian: demi kebaikan, demi keluarga, demi masa depan.

    Awalnya terlihat wajar. Bahkan tampak dewasa. Tidak ada konflik terbuka, tidak ada pertengkaran berarti. Tapi di balik ketenangan itu, satu identitas mulai tergerus. Keputusan kecil tidak lagi dibicarakan. Pilihan hidup perlahan diarahkan. Hobi dianggap tidak penting, mimpi disebut tidak realistis, suara pelan-pelan kehilangan tempat. Tidak ada larangan keras, hanya penyesuaian yang terus diminta. Dan di situlah masalahnya, penyesuaian tanpa batas.

    Kita sering diajari bahwa pernikahan menuntut pengorbanan. Bahwa cinta berarti mengalah. Bahwa keutuhan rumah tangga lebih penting dari keinginan pribadi. Tapi jarang ada yang bertanya: mengalah sampai sejauh mana? Jika keutuhan hanya bisa dijaga dengan menghapus satu pihak, maka yang dipertahankan bukan hubungan, melainkan kuasa. Pernikahan berubah menjadi sistem satu arah yang rapi, stabil, namun hampa.

    Idealnya, pernikahan bukan akuisisi. Ia lebih mirip merger. Dua individu datang dengan identitas masing-masing, lalu menyepakati arah baru bersama. Ada kesadaran bahwa tidak ada yang “dibeli”, tidak ada yang “diambil alih” yang dibangun adalah entitas baru tanpa mematikan entitas masing-masing.

    Merger memang lebih ribet. Butuh komunikasi, kesediaan mendengar, dan keberanian untuk dikoreksi. Akuisisi jauh lebih cepat dan efisien. Tapi hubungan manusia bukan perusahaan yang mengejar efisiensi. Stabilitas yang lahir dari ketergantungan dan ketakutan tidak pernah benar-benar kuat. Ia hanya diam, menunggu retak.

    Ada kondisi tertentu ketika satu pihak perlu memegang kendali lebih kuat. Dalam situasi seperti itu, dominasi sementara bisa menyelamatkan. Tapi ia harus disadari sebagai fase, bukan sistem. Jika bantuan berubah menjadi kebiasaan mengatur, dan kebiasaan mengatur dianggap sebagai hak, maka relasi telah bergeser tanpa pernah disepakati.

    Tanda paling jujur dari pernikahan yang berjalan seperti akuisisi sebenarnya sederhana saja. Ketika satu orang harus mengecil agar hubungan tetap utuh. Ketika menjadi diri sendiri terasa berbahaya. Ketika kebahagiaan pribadi selalu ditunda demi stabilitas bersama yang sebenarnya timpang.

    Menikah bukan berarti menyerahkan hidup untuk dikelola orang lain. Menikah adalah menyatukan dua kehidupan yang sama-sama ingin tumbuh. Jika sebuah pernikahan hanya bisa bertahan dengan menghilangkan salah satu pihak, maka sejak awal itu bukan cinta yang setara. Itu pengambilalihan. Pada akhirnya, yang diambil alih runtuh secara emosional. Sang pengambil alih lalu menilai keruntuhan itu sebagai kegagalan pasangan, pergi, dan mencari relasi baru untuk kembali mengulang pengambilalihan yang sama.

  • Jika hidup diukur dengan pergantian musim, maka aku sudah melewati cukup banyak hujan dan kemarau. Cukup lama untuk paham bahwa kehilangan bukan peristiwa langka. Ia bukan tragedi tunggal. Ia berulang, datang pelan-pelan, lalu pergi tanpa merasa bersalah.

    Dalam pergantian musim itu, banyak yang sudah meninggalkan. Pasangan. Teman. Bahkan barang-barang yang dulu kusebut penting. Dan hari ini, di usia tiga puluhan, aku bisa mengatakan satu hal tanpa ragu: aku sudah sampai di tahap ikhlas.

    Silakan pergi.
    Pergi sejauh-jauhnya.
    Aku tidak akan mengejar. Tidak akan menahan. Tidak akan bertanya kenapa.

    Kecuali mama.

    Pada satu nama itu, semua kedewasaanku runtuh. Satu-satunya kehilangan yang sampai hari ini belum bisa kupikirkan tanpa sesak di dada.

    Aku bingung, jujur saja. Bingung bagaimana nanti caraku memitigasi kepiluan saat hari itu datang. Bahkan pernah terlintas ide paling pengecut sekaligus paling jujur, yaitu kabur. Menghilang. Tanpa kabar. Karena aku tahu, mungkin aku tidak sanggup menghadapinya.

    Tapi itu juga mustahil. Tak ada ruang untuk menghilang ketika orang tua pergi. Tak ada alasan untuk absen dari duka sebesar itu.

    Aku anak tunggal. Tidak ada saudara untuk saling menguatkan, tidak ada bahu yang punya ingatan masa kecil yang sama. Soal kesendirian, aku sudah profesional. Terlalu terlatih, bahkan.

    Sejak kecil aku terbiasa sendiri. Buku, game, dan gundam-gundam di rak sudah cukup menjadi teman. Kesepian bukan hal asing bagiku.

    Tapi ini berbeda. Ini bukan soal sendiri. Ini soal kehilangan satu-satunya tempat pulang yang benar-benar pulang.

    Aku belum tahu caranya. Belum tahu apakah setelah itu hidup masih bisa dilanjutkan atau hanya sekadar dijalani. Terdengar berlebihan, mungkin. Tapi aku tidak sedang mencoba puitis. Aku hanya jujur.

    Belakangan aku berpikir, mungkin memiliki pasangan bisa membantu. Setidaknya ada seseorang yang ikut menahan beban. Namun seperti yang bisa dibaca di tulisan-tulisan sebelumnya, menuju ke sana tidak sesederhana itu. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan. Terlalu banyak yang belum selesai.

    Maka untuk saat ini, pikiran itu hanya berhenti sebagai kemungkinan, bukan pegangan.

    Jujur, kepergian mama kelak terasa seperti kiamat versi pribadiku. Akhir dari dunia yang selama ini kukenal.

    Kehilangan lain tidak membuatku sekhawatir ini. Aku sudah terbiasa. Tapi untuk mama, tidak.

    Semua boleh pergi. Silakan. Benar-benar silakan. Tapi kecuali mama.

  • Dalam dunia game, AFK atau Away From Keyboard merupakan hal sederhana. Ketika lelah bermain Valorant, misalnya, alih-alih menjadi hiburan, game itu justru sering menambah stres. Saat aim sedang jelek dan bertemu tim toxic penuh trashtalk dari berbagai negara SEA, rasanya lebih mudah untuk meninggalkan keyboard, rebahan di kasur, menarik napas, dan tidak kembali pada calon “dead game” tersebut.

    Andai saja hidup sesederhana itu.

    Sialnya, di dunia nyata tidak ada tombol pause. Tidak ada ruang aman otomatis yang menunggu ketika beban terasa terlalu berat. Hidup terus bergerak, bahkan ketika kita sudah kehabisan tenaga.

    Pertanyaan “dapatkah kita AFK dari realita kehidupan ini?” terus bergumam di kepala. Meskipun jawabannya jelas: tidak bisa. Namun ada bentuk lain dari “AFK” yang sebenarnya mungkin dilakukan. Bukan keluar dari hidup, tapi keluar dari tekanan hidup.

    AFK yang aku maksud adalah menepi, bukan menghilang. Melakukan AFK bukan berarti memutuskan diri sepenuhnya dari dunia, melainkan memberi diri sendiri jarak. Caraku sederhana: mematikan seluruh akses internet di ponsel agar aku tidak merasa bertanggung jawab membalas notifikasi apa pun. Menutup pintu kamar dan membiarkan dunia berjalan tanpa aku atau sekadar duduk diam sejenak tanpa perlu merasa harus produktif.

    Ada masa ketika pikiran mulai bertanya hal-hal yang jarang diucapkan dengan lantang: “bagaimana rasanya kalau aku menghilang sebentar?”

    Tapi jika direnungkan lebih jauh, keinginan itu bukan tentang tidak ingin hidup. Itu tentang ingin berhenti dari tuntutan, menghentikan suara bising di kepala, dan jeda dari rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai.

    Ketenangan bukan datang dari menghilang, melainkan dari memberi diri ruang. Ruang kecil, sederhana, tapi cukup untuk bernapas.

    AFK versi ini memang kecil. Tapi sering kali, itu cukup untuk membuatku bertahan hari demi hari.

    Sebagian teman-temanku yang membaca ini mungkin mengerti mengapa aku sering “menghilang” tanpa kabar. Karena, menurutku, inilah caraku menenangkan diri dengan AFK versi diriku sendiri.

    Jika rasa ingin “AFK” itu muncul karena beban terlalu besar, itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa kita sudah terlalu lama kuat sendirian, tanpa terbiasa mencari bantuan.

    Hidup memang tidak menyediakan pilihan untuk AFK. Tapi kita selalu bisa menciptakan jeda versi kita sendiri.

    Menepi, menarik napas, memulihkan diri, dan kembali ketika sudah sedikit lebih kuat.

    Dan menurutku, itu sudah cukup.

  • Terkadang aku heran, mengapa banyak orang tampak khawatir setiap kali aku berkata bahwa tak apa jika kita memilih menjauh dari sebuah harapan.

    Seolah harapan adalah satu-satunya cahaya yang wajib digenggam, padahal tak semua cahaya selalu mampu menghangatkan. Beberapa justru menyilaukan, membutakan langkah, membuat kita tersesat di jalan yang belum tentu kita pilih.

    Bagiku, menepi dari harapan bukan berarti menyerah. Bukan pula tanda pasrah. Ia hanyalah cara lain untuk bernapas lebih panjang, untuk hidup lebih lapang, tanpa beban yang diam-diam kita titipkan pada sesuatu yang belum tentu datang.

    Karena di balik setiap harapan, ada ekspektasi kecil yang tumbuh diam-diam. Ia bisa berubah jadi gunung, atau jadi duri yang menusuk tanpa kita sadari. Dan ketika kenyataan tak sejalan dengan bayangan, kita sering lupa bahwa yang menyakitkan bukan kejadian, melainkan ekspektasi yang kita pelihara sendirian.

    Maka aku memilih untuk sesekali mundur, dan mengosongkan tangan. Bukan untuk menghilang, melainkan untuk memahami bahwa hidup tak selalu perlu dituntun oleh harapan. Kadang, cukup dijalani saja, dengan langkah seperlunya, dengan hidup apa adanya.

    Tanpa harapan, bukan berarti tanpa tujuan. Tanpa ekspektasi, bukan berarti tanpa arah. Justru di ruang tanpa beban itu, kita menemukan tenang yang lebih tulus, milik kita sendiri.

    Mungkin dunia menuntut kita lebih sedikit mendaki, dan lebih banyak menerima. Lebih sedikit menggenggam, dan lebih banyak melepaskan. Karena tak semua yang dilepas akan hilang, kadang ia justru kembali sebagai ketenangan yang tak pernah kita duga datang.

  • Hari ini aku kembali duduk di sebuah obrolan lama, tentang hal yang seolah tak pernah lekang dimakan usia; “Udah umur segitu, kenapa belum menikah?”. Pertanyaan klasik yang rasanya sudah aku hafal nadanya, lengkap dengan tatapan heran yang menuntut jawaban logika.

    Aku sudah berhenti merasa perlu menjawab dengan defensif. Kini aku punya satu jawaban yang selalu siap kutaruh di meja percakapan; “Aku masih mengejar targetku”.

    Target yang sederhana tapi juga rumit. Aku ingin sebelum menikah, paling tidak punya tabungan untuk hidup tiga orang selama satu tahun. Tiga orang itu siapa? Aku, pasanganku, dan anakku. Meskipun aku belum tahu apakah nanti akan benar-benar punya anak, karena soal itu, keputusannya aku serahkan sepenuhnya kepada pasangan.

    Bagi sebagian orang mungkin terdengar berlebihan. Tapi begini pikirku, pasangan yang kelak kupinang adalah seseorang yang sudah dijaga seumur hidup oleh orang tuanya, diberi kenyamanan, bahkan mungkin dilindungi dari kerasnya dunia. Lalu aku datang, masa cuma membawa janji dan kata cinta? Aku ingin datang membawa rasa aman, bukan membawa beban baru dalam hidupnya.

    Aku tidak ingin menjadi sebab seseorang harus menurunkan standar bahagianya. Aku ingin ketika sesuatu terjadi, kami masih bisa bernapas tenang, setidaknya untuk satu tahun ke depan.

    Lalu ada hal lain yang sering membuat langkahku tertunda, yakni perjanjian pranikah. Banyak yang salah paham, mengira itu tanda ketidakpercayaan. Padahal bagiku, itu tanda kesiapan. Aku tak ingin hanya menyiapkan pesta, aku ingin menyiapkan perlindungan, bahkan dari diriku sendiri, jika suatu hari nanti aku berubah menjadi orang yang paling bangsat di muka bumi.

    Sayangnya, dari banyak perkenalan yang kulalui, hal ini sering menjadi batu sandungan. Mereka bilang terlalu ribet, terlalu kaku. Padahal aturan itu hanya jadi rumit kalau dilanggar, bukan?

    Temanku sempat tertawa dan berkata,
    “Dibalik orang yang udah kepala tiga tapi masih main game, ternyata pikiranmu cukup matang untuk pernikahan.”

    Mungkin benar, mungkin aku terlalu matang, sampai-sampai setiap langkah kualasi dengan kehati-hatian berlebih.

    Tapi begitulah kenyataannya. Aku tidak ingin menikah hanya untuk menjawab pertanyaan orang. Aku ingin menikah ketika aku sudah siap untuk tidak merepotkan siapa-siapa.

    Dan jika itu membuatku terlihat menunda, tak apa. Karena bagiku, menunda bukan berarti takut. Kadang, itu merupakan jalan lain untuk menuju siap.

  • Mengejar Jejak Gundah

    Kita sering bertanya-tanya: mengapa seseorang memilih pergi saat ketika rasa sedang bermekar? Mengapa ada hati yang tega menyakiti?, padahal ada kesetiaan yang sabar menanti? Mengapa seseorang sanggup menenun kisah baru, sementara kisah lama belum juga ia akhiri?

    Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggema di dalam kepala karena sempat terlena dalam keindahan rasa. Kita sibuk menyalahkan mereka yang pergi, tanpa pernah benar-benar mau menengok ke dalam diri.

    Padahal, bisa jadi gundah yang kini hadir adalah cermin dari apa yang pernah kita lakukan. Pernahkah tanpa sadar kita menyakiti hati orang lain? Pernahkah kita menorehkan luka hingga membuat seseorang menangis dalam malam yang sepi, tanpa memiliki tempat untuk bersandar dan bercerita? Pernahkah kita menutup telinga pada keluh yang dibisikkan, lalu berlalu seolah tak ada apa-apa?

    Jika iya, mungkin gundah ini hanyalah manifestasi dari peristiwa lalu. Sebuah balasan halus atas benih luka yang tanpa sadar pernah kita tabur. Sebab sebagai manusia, kita memang kerap buta terhadap kesalahan sendiri, namun begitu piawai menunjuk jari pada kesalahan orang lain.

    Mungkin Semesta sedang menitipkan pesan lewat mereka, bahwa apa yang dulu pernah kita lakukan, kini kembali mengetuk dalam wujud yang berbeda. Dan bila engkau yakin sungguh tidak pernah menyakiti siapa pun, bisa jadi Semesta sedang menjadikanmu sebagai pesan untuk orang lain. Suatu saat, ia yang kini memberimu gundah akan merasakan kembali apa yang telah ia tanam.

    Sebab tak pernah ada asap tanpa api. Begitulah aku selalu memaknai gundah yang singgah menyesaki kepala ini, bukan sekadar perasaan asing yang datang tanpa sebab, melainkan bagian dari skenario besar Semesta. Setiap gundah adalah pesan, pengingat, dan mungkin pula pengganti doa yang tak sempat kita panjatkan.

    Pada akhirnya, yang tersisa hanya pilihan: apakah kita sekadar menjadi penerima pesan, atau justru menjadi pesan itu sendiri bagi orang lain. Jika dipandang dari sisi itu, mungkin gundah tak lagi terasa begitu menyakitkan. Ia bisa dinikmati sebagai tanda bahwa hidup sedang mengajarkan sesuatu yang berharga, dengan cara yang indah, meski terkadang perih.

  • Sebenarnya aku cukup jengah tiap kali mendengar anggapan bahwa setelah menikah, seorang perempuan akan kehilangan sebagian kemerdekaannya. Seolah-olah, ketika status berubah menjadi “istri,” maka ruang gerak, pilihan, dan bahkan kebebasannya ikut menyusut. Jujur saja, aku tidak setuju akan kondisi ini. Aku tetap percaya bahwa kemerdekaan seorang perempuan setelah menikah tetap bisa terjamin, asal hubungan dibangun di atas kepercayaan, dan komunikasi.

    Aku melihat banyak perempuan merasa kehilangan ruangnya setelah menikah. Hal ini tidak terlepas dari budaya patriarki yang masih kental, di mana laki-laki dianggap sebagai pusat pengambil keputusan, sementara perempuan diharapkan patuh dan mengikuti. Pandangan seperti ini membuat pernikahan sering dipahami sebagai “kepemilikan,” bukan “kemitraan.” Padahal, menurutku, pernikahan seharusnya menjadi ruang kesetaraan.

    Salah satu hal yang sering jadi bahan perdebatan jika aku menyampaikan pendapat ini ke orang-orang di sekitarku adalah soal anak. Buatku pribadi, keputusan untuk memiliki anak atau tidak, aku serahkan sepenuhnya kepada pasanganku. Alasannya sederhana: dialah yang akan mengandung, menanggung semua perubahan fisik dan emosional, serta menghadapi tantangan sembilan bulan ke depan. Aku merasa wajar bila dia punya suara terbesar dalam keputusan itu.

    Namun, itu tidak berarti aku melepaskan tanggung jawab. Aku sadar betul bahwa perjalanan memiliki anak bukan hanya soal kehamilan, tetapi juga kehidupan setelahnya. Itu adalah perjalanan panjang yang akan dijalani bersama. Karena itu, aku tetap ingin terlibat dalam percakapan, mendengar, dan berbagi pandangan. Aku ingin pasanganku tahu bahwa aku mendukung apa pun pilihannya, tapi aku juga siap hadir sebagai teman diskusi.

    Bagiku, langkah ini menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki. Aku tidak mau kehadiranku dalam pernikahan menjadikan pasanganku kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

    Hal lain yang juga kerap menimbulkan perdebatan adalah pernikahan tidak seharusnya memutus tali pertemanan. Aku tidak ingin melarang atau membatasi pasanganku berteman, apalagi dengan orang-orang yang sudah dikenalnya jauh sebelum aku datang. Bagiku, teman adalah bagian penting dalam hidup seseorang. Kita semua butuh mereka, sebagai tempat bercerita, tempat berbagi, dan tempat kembali saat dunia terasa berat. Terkadang, sadar atau tidak, setuju atau tidak, ada beberapa hal masalah yang tidak bisa kita ceritakan ke pasangan.

    Aku percaya, membiarkan pasangan tetap menjaga pertemanannya bukan berarti aku mengurangi peranku dalam hidupnya. Justru itu wujud dari kepercayaan. Selama hubungan dibangun di atas keterbukaan, aku tidak merasa perlu mengatur siapa yang boleh atau tidak boleh menjadi temannya.

    Dalam masyarakat patriarkis, tidak jarang perempuan justru dipaksa meninggalkan lingkar sosialnya setelah menikah. Tapi aku tidak ingin terjebak dalam lingkaran itu. Sama seperti aku menghargai ruang sosial pasanganku, aku juga berharap ruang itu tetap ada untukku.

    Pada akhirnya, aku tidak melihat pernikahan sebagai akhir dari kebebasan. Menurutku, pernikahan adalah perjalanan untuk menemukan bentuk baru dari sebuah kemerdekaan. Bukan lagi hanya “aku,” tetapi “kami.” Bukan lagi berdiri sendiri, tapi saling menyokong satu sama lain.

    Kemerdekaan bukan berarti berjalan sendirian tanpa batas, melainkan tetap punya ruang untuk menjadi diri sendiri, sambil menghormati keberadaan pasangan. Dan menurutku, inilah cara paling sehat untuk melawan budaya patriarki yang mencoba mengurung perempuan dalam pernikahan.

    Pernikahan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya. Justru di dalamnya, aku percaya, kita bisa tumbuh bersama tanpa harus merasa kehilangan kemerdekaan masing-masing.

  • Ntah ada angin apa, bangun tadi pagi aku terlintas dipikiran mengenai kutipan dari Tan Malaka “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Kutipan itu terasa relevan setelah semalam sibuk mengikuti kabar rencana aksi demonstrasi di sebuah kota yang akhirnya batal digelar oleh sang inisiator.

    Di satu sisi, pemuda memang kerap lekat dari idealisme. Mereka berani menyuarakan keadilan tanpa banyak kalkulasi, karena belum sepenuhnya terikat oleh kepentingan, jabatan, atau beban hidup. Idealisme menjadi semacam kompas moral yang memberi arah, bahkan ketika kenyataan di lapangan sering kali tidak ramah.

    Namun, realitas kerap menghadapkan idealisme pada ujian terberatnya. Tak jarang idealisme itu harus “digadaikan” entah demi keamanan, kenyamanan, atau sekadar kebutuhan hidup yang mendesak. Dalam situasi semacam ini, seperti kutipan Tan Malaka sebelumnya, idealisme bisa kehilangan kemewahannya. Ia tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang luhur, melainkan hanya komoditas yang mudah dipertukarkan.

    Pertanyaannya, apakah orang yang menggadaikan idealismenya otomatis kehilangan jati diri? Ataukah masih ada ruang untuk menebus kembali prinsip yang pernah dilepaskan? Pandangan Tan Malaka tegas: sekali kemewahan itu hilang, maka ia tak lagi ada. Idealisme yang tergadai tak lebih dari bayangan samar dan jika terus diperdagangkan, ia bisa jatuh menjadi barang murah.

    Kenyataan menunjukkan, banyak yang memilih jalan kompromi. Ada yang mengorbankan idealismenya demi kelangsungan hidup, ada pula yang melepasnya demi keuntungan sesaat. Kalimat pertama mungkin masih bisa dimaklumi secara manusiawi, tapi yang kedua jelas membuat masyarakat menilai mereka sebagai oportunis.

    Akhirnya, idealisme sejati bukan soal keras kepala, melainkan konsistensi menjaga nilai di tengah perubahan zaman. Ia bisa tampil dalam berbagai bentuk: turun ke jalan, bergerak di media sosial, meningkatkan literasi, atau bahkan lewat karya kreatif. Tetapi satu hal pasti, idealisme hanya tetap menjadi kemewahan jika dijaga dengan integritas, bukan ketika ia ditukar dengan kenyamanan yang menurutku hanya dapat dinikmati jangka pendek.

    Kemudian pertanyaannya, apakah kita masih sanggup merawat kemewahan itu, atau rela menjadikannya sekadar barang murah yang ditukar atas dasar kepentingan?