Di sebuah malam dengan hujan yang sangat deras, disertai suara petir yang menggelegar, aku kembali mendapat pesan di aplikasi hijau dari seorang teman yang masih sibuk dengan mimpinya yang kerap hadir di tiap malam.
Saga mimpi ini ternyata belum selesai-selesai juga. Aku kira urusan ini sudah tamat. Ternyata belum.
Sehari setelah surat diplomasi dikeluarkan, setelah ia merasa sudah cukup jelas menyampaikan penolakannya kepada semesta, tim itu justru tetap bekerja seperti biasa. Tidak menggubris surat. Tidak peduli pada keputusan. Mereka terus memproduksi cerita dan menayangkannya setiap kali temanku tertidur.
Kali ini lebih menyebalkan, katanya.
Ia tidak suka dengan apa yang disajikan. Ceritanya tidak ia izinkan. Tokohnya tidak ia minta. Kemungkinannya tidak pernah ia pesan. Tetapi anehnya, ia tetap menikmatinya.
“Kalau dipikir-pikir, aku sebenarnya tidak tahu mereka mau apa,” katanya ketika menceritakan tim keproduksian mimpi.
Mungkin memang tidak ada maksud apa-apa. Mungkin mimpi hanya mimpi. Atau mungkin otaknya sedang memainkan ulang sesuatu yang selama ini ia paksa untuk disimpan di tempat paling jauh dari pikirannya.
Entahlah, yang jelas setiap malam selalu ada pertunjukan baru.
Kadang ia diberi hiburan. Kadang diperlihatkan sebuah kemungkinan. Kadang disodorkan harapan tentang sesuatu yang sebenarnya sudah ia putuskan untuk tidak dimiliki.
Dan lucunya, semua itu terasa nyata. Ia akhirnya sampai pada satu kesimpulan sederhana: untuk apa melawan?
Bukankah selama ini ia memang sudah terbiasa menikmati sesuatu dalam diam?
Rasa yang disimpan sendiri. Kekaguman yang tidak pernah disampaikan. Harapan yang tidak pernah diumumkan. Keinginan yang cukup diketahui oleh dirinya sendiri.
Lalu kenapa mimpi harus diperlakukan berbeda?
Kalau memang setiap malam tim keproduksian mimpi ingin menyajikan cerita, biarkan saja mereka bekerja. Ia tidak perlu lagi mengajukan protes. Tidak perlu mengirim surat keberatan. Tidak perlu mencoba menghentikan produksinya.
Nikmati saja. Diam-diam. Seperti kebiasaannya selama ini.
Katanya, setiap kali matanya terpejam, sosok itu kembali muncul. Terus menari di antara gelap. Terus memperbaiki ingatan yang sebenarnya sudah susah payah ia rusak sendiri.
Terus mendulang kenangan yang seharusnya tidak perlu dikembalikan. Dan ia menyerah.
Bukan karena tidak mampu melawan, tetapi karena melawan ternyata menghabiskan lebih banyak tenaga daripada menikmati.
Lagipula, apa yang salah dengan menikmati sesuatu yang indah meskipun hanya dalam mimpi?
Di sana semuanya bisa terjadi persis seperti yang ia inginkan. Tidak ada penolakan. Tidak ada jarak. Tidak ada keadaan yang mengharuskan seseorang pergi. Tidak ada kenyataan yang datang untuk membubarkan semuanya.
Semuanya sempurna. Terlalu sempurna, malah.
Ia kemudian mengatakan sesuatu yang menurutku cukup gila.
“Kalau bisa, aku mau hidup di sana.”
Aku tertawa ketika membaca pesannya.
Baginya, dunia dalam mimpi itu seperti sebuah Artificial Life. Kehidupan buatan yang tidak benar-benar hidup, tetapi mampu memberikan sesuatu yang tidak ia dapatkan di kehidupan nyata.
Kalau memang harus memilih, katanya, ia rela kehilangan wujudnya di dunia nyata asalkan masih memiliki wujud kehidupan itu di tempat lain.
Setidaknya di sana, cerita tersebut masih ada.
Kemudian ia punya satu permintaan kepada tim keproduksian mimpi. Satu saja. Ia ingin mimpi itu direkam.
Katanya, kalau mesin perekam mimpi memang ada, ia ingin memilikinya.
Ia hanya ingin menyimpan mimpinya sebagai arsip. Sebab ia tahu suatu hari nanti tim keproduksian mimpi itu mungkin akan berhenti bekerja.
Mereka mungkin bosan. Mereka mungkin kehabisan cerita. Atau mungkin mereka pergi dan mulai bekerja untuk manusia lain.
Kalau hari itu tiba, ia tidak ingin kehilangan semuanya begitu saja.
Ia ingin punya rekamannya. Ia ingin bisa memutar kembali cerita itu kapan pun ia mau. Ketika rindu datang, ia tinggal menyalakan mesin. Ketika ingin melihatnya lagi, ia tinggal menekan tombol.
Tidak perlu mencari. Tidak perlu berharap. Tidak perlu menunggu. Cukup memutar ulang seluruh mimpi yang telah direkam.
Di akhir ceritanya, temanku justru meminta maaf kepada tim keproduksian mimpi.
Ia merasa selama ini terlalu keras menolak mereka. Ia menganggap semua mimpi itu sebagai gangguan. Padahal mungkin mereka hanya sedang bekerja.
Mereka hanya sedang menunjukkan sesuatu yang selama ini ia coba sembunyikan. Dan semakin keras ia berusaha melupakan, semakin rajin pula mereka memproduksi cerita.
Lucunya, usaha melupakan itu justru menghasilkan sesuatu yang berlawanan. Ia gagal melupakan.
Mungkin memang begitu cara kenangan bekerja. Semakin dipaksa pergi, semakin ia mencari jalan untuk pulang. Dan mungkin tim keproduksian mimpi itu bukan sedang mengkritiknya. Mereka hanya sedang mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan dengan kalimat, “sudah, lupakan saja.”
Akhirnya ia memilih berhenti melawan. Bukan berarti ia akan mengejar. Bukan berarti ia akan mengganggu kehidupan siapa pun.
Ia hanya memilih menikmati apa yang datang ketika malam tiba. Diam-diam. Seperti yang sudah-sudah.
Kepada tim keproduksian mimpi, katanya, kali ini ia menyerah. Silakan terus bekerja. Silakan produksi sebanyak yang kalian mau.
Ia akan menikmati. Ia bahkan akan berterima kasih.
Tetapi satu hal masih ia tunggu sampai sekarang ialah mesin perekam mimpi. Sebab ia tahu, suatu hari nanti produksi itu akan berhenti.
Dan ketika malam tidak lagi menghadirkan cerita yang sama, ia ingin memiliki satu hal yang tersisa yaitu arsip mimpi yang kapan saja bisa ia putar ulang.
Agar ia bisa kembali melihat sebuah kehidupan yang mungkin tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Sebuah kehidupan yang hanya pernah hidup ketika matanya terpejam. Dan mungkin, untuk seseorang yang sudah terbiasa menjadi penikmat dalam diam, itu sudah lebih dari cukup.
