Ada mimpi yang selesai begitu mata terbuka. Ada juga mimpi yang tetap tinggal sampai malam berikutnya datang. Malam tadi aku mendapatkan jenis yang kedua.
Entah karena terlalu indah atau karena sudah terlalu lama aku tidak bermimpi seperti itu, aku masih mengingatnya dengan cukup jelas. Bahkan ketika menulis ini, aku masih beberapa kali tersenyum sendiri. Agak memalukan memang. Untungnya hanya tembok-tembok kamar saja yang melihat.
Kalau saja manusia sudah berhasil menciptakan mesin perekam mimpi, mungkin aku sudah menekan tombol replay berkali-kali sejak pagi. Bukan karena ceritanya luar biasa. Justru karena rasanya yang luar biasa. Ada mimpi yang tidak bisa dijelaskan, namun bisa dikenang lewat perasaan.
Aku menulis ini sebagai penggantinya. Semacam kapsul waktu. Supaya kalau suatu hari nanti aku lupa, tulisan ini bisa mengingatkanku bahwa pernah ada satu pagi aku tersenyum-senyum ketika terbangun.
Dalam mimpi itu muncul seorang perempuan. Berkacamata. Berambut panjang. Aku bahkan masih ingat bagaimana senyumnya. Lucunya, aku sedang tidur di dalam mimpi, lalu terbangun di dalam mimpi itu juga. Sebuah logika yang hanya bisa diterima ketika kita sedang bermimpi. Aneh.
Ia datang, memelukku di atas kasur, lalu bertanya dengan nada yang begitu tenang.
“Bagaimana cara kita supaya terus bisa bertemu tanpa perlu diketahui orang lain?”
Aku masih memikirkan kalimat itu sampai sekarang. Orang lain yang mana? Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan? Mengapa harus diam-diam? Mimpi memang menyebalkan. Ia selalu merasa tidak punya kewajiban menjelaskan apa pun kepada kita. Yang ia lakukan hanya memberi satu adegan, lalu membiarkanku sibuk menafsirkannya seharian.
Yang paling kuingat sebenarnya bukan pertanyaannya. Melainkan senyumnya setelah mengucapkan kalimat itu. Aneh sekali. Padahal wajah manusia di mimpi biasanya cepat mengabur beberapa menit setelah bangun. Yang ini justru bertahan seharian.
Jujur saja, saat mengetik bagian ini dadaku masih ikut berdebar. Rasanya seperti anak SMA yang baru pertama kali menulis surat cinta. Memalukan. Tapi ya sudah.
Lalu, tepat ketika mimpi itu sedang bagus-bagusnya, alam bawah sadarku memutuskan membuat plot twist yang sama sekali tidak diperlukan. Aku masuk ke kamar mandi. Di sana ada tahi mengambang di kakus. Serius, dan itu berhasil membuatku bangun.
Dari sekian banyak kemungkinan adegan yang bisa dipilih otakku, mengapa justru itu? Aku tidak tahu apa maknanya. Mungkin memang tidak ada maknanya. Mungkin otak manusia memang sesekali suka menjadi editor yang buruk.
Bagian itu merusak suasana. Tapi anehnya, tidak sampai menghilangkan rasa bahagia yang tersisa setelah bangun. Sudah lama rasanya aku tidak menyambut pagi dengan perasaan seperti ini. Biasanya pagi hanya berarti alarm, mandi, berangkat kerja, pulang, lalu mengulang semuanya lagi.
Hari ini berbeda.
Aku bangun sambil tersenyum. Dan itu saja sudah terasa asing. Semakin lama kupikirkan, semakin kusadari bahwa yang membuatku takut bukanlah mimpi itu. Melainkan diriku sendiri.
Aku takut kalau ternyata aku masih bisa berdebar hanya karena seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ada. Aku takut kalau ternyata belum benar-benar selesai dari kebiasaannya jatuh kepada hal-hal yang mungkin menyakiti. Karena kalau itu benar, berarti aku harus bersiap menghadapi satu siklus yang selama ini berusaha kuhindari. Jatuh hati.
Aku tidak ingin kembali ke sana. Bukan karena jatuh hati itu buruk. Justru karena aku tahu betapa indahnya. Dan sesuatu yang terlalu indah sering kali datang bersama kemampuan untuk menghancurkan seseorang dengan sangat pelan.
Jadi mungkin memang lebih baik begini. Biarkan mimpi itu tetap menjadi mimpi. Tidak perlu diwujudkan. Tidak perlu berharap malam nanti ia datang lagi. Karena ada beberapa hal yang terasa sempurna justru karena tidak pernah benar-benar terjadi.
Lagipula, yang mengalami semua itu hanya aku. Dan mungkin memang seharusnya cukup aku saja yang tahu.
