Tulisan ini lahir karena sebuah lagu. Bukan lagu baru. Sudah berkali-kali diputar. Sudah berkali-kali lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Tapi entah kenapa hari ini, satu potongan lirik dari lagu Pertanyaan milik Gusti seperti menampar cukup kuat.
“Mengapa engkau begitu angkuh? Sehingga aku tak mengerti arah tujuanmu.”
Dan seperti biasa, otak manusia punya kebiasaan aneh. Satu kalimat bisa menyeret kita ke lorong-lorong pemikiran baru.
Aku jadi berpikir tentang satu hal yang akhir-akhir ini membuatku iri pada orang lain. Bukan kekayaan. Bukan jabatan. Bahkan bukan kecerdasan yang kadang membuat seseorang terlihat seperti hidup di level yang berbeda.
Yang paling membuatku iri justru sesuatu yang jauh lebih sederhana. Kemampuan untuk jatuh hati. Aneh memang. Di saat banyak orang seusiaku sibuk mencari pasangan, mempersiapkan pernikahan, atau setidaknya masih menikmati fase berbunga-bunga saat mengenal orang baru, aku justru berdiri di sisi yang lain. Menjadi penonton yang tidak paham kenapa mereka, sebagai pemain, begitu bersemangat memainkan permainannya.
Aku melihat orang bisa menyukai seseorang. Bisa penasaran. Bisa menunggu balasan pesan. Bisa deg-degan ketika nama tertentu muncul di layar ponsel. Dan aku cuma bisa bertanya dalam hati, “Kok bisa?” Karena yang kurasakan justru sebaliknya. Flat. Datar. Kosong.
Bertemu orang baru tidak lagi terasa seperti petualangan. Tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Tidak ada semangat untuk membangun percakapan sampai larut malam. Tidak ada dorongan untuk mencari tahu lagu favoritnya, buku kesukaannya, atau bagaimana cara dia memandang dunia. Bahkan sudah di tahap malas untuk menerima ajakan telepon maupun video call, karena aku tahu hanya akan buang-buang waktu sebab aku tahu responku bakal acuh tak acuh.
Semua terasa seperti formalitas yang bisa dilewati. Lucunya, kondisi ini membuatku mulai menganggap orang yang ingin menikah sebagai orang aneh. Bukan karena aku menganggap mereka salah. Aku hanya sudah terlalu lama berdiri di titik yang berbeda sampai-sampai sulit memahami kenapa orang lain masih begitu antusias terhadap sesuatu yang bagiku terasa hambar.
Seolah-olah semua orang sedang menikmati makanan favorit mereka, sementara lidahku kehilangan kemampuan untuk mengecap rasa. Yang lebih aneh lagi, aku tidak tahu penyebabnya.
Kalau ditanya kenapa bisa begini, aku tidak punya jawaban. Trauma Mungkin iya. Kecewa? Entahlah. Lelah? Bisa jadi.
Atau mungkin memang ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak lagi merasa perlu mencari siapa pun untuk mengisi ruang kosong karena ruang itu sendiri sudah tidak terasa kosong.
Aku tidak tahu. Dan jujur saja, aku tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu.
Karena setiap kali pertanyaan itu muncul, selalu ada jawaban yang sama datang dari dalam kepala: “Ya, terus kenapa?” Tidak semua pertanyaan harus dijawab.
Tidak semua misteri harus dipecahkan. Ada banyak hal lain yang lebih menarik untuk menghabiskan waktu. Buku yang belum selesai dibaca. Game yang belum tamat. Gunpla yang tak kunjung selesai dirakit. Pekerjaan yang belum beres. Tempat makan yang belum dikunjungi.
Mungkin suatu hari rasa itu kembali. Mungkin juga tidak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, kemungkinan itu tidak membuatku khawatir.
Jadi jika hari ini aku iri kepada seseorang, itu bukan karena isi rekeningnya. Bukan karena kariernya. Bukan karena pencapaiannya.
Aku iri karena dia masih bisa jatuh hati. Karena ternyata kemampuan itu, yang dulu terasa biasa saja, kini menjadi sesuatu yang asing bagiku.
Dan anehnya, aku bahkan tidak yakin apakah aku ingin mendapatkannya kembali.
Lalu kembali ke lagu alm. Gusti di awal tadi. “Mengapa engkau begitu angkuh? Sehingga aku tak mengerti arah tujuanmu.” Setelah begitu lama mendengarkan lagu ini untuk pertama kalinya, pertanyaan itu terasa seperti sedang diarahkan kepadaku sendiri.
Apakah aku benar-benar seangkuh itu?
Seangkuh itu untuk tetap memilih hidup sendiri. Seangkuh itu untuk menutup pintu rapat-rapat terhadap segala kemungkinan yang datang dari setiap perkenalan baru. Seangkuh itu untuk tidak memberi kesempatan pada orang lain, bahkan sebelum mereka sempat masuk lebih jauh ke dalam hidupku.
Atau jangan-jangan ini bukan soal keangkuhan sama sekali.
Mungkin benar seperti yang sering dikatakan orang-orang di sekitarku. Bahwa ini adalah mati rasa.
Masalahnya, jika ini memang mati rasa, gejalanya tidak hanya muncul dalam urusan dengan manusia. Belakangan aku menyadari perasaan datar itu mulai merembet ke mana-mana. Ke buku-buku yang biasanya membuatku betah berjam-jam. Ke film dan serial yang dulu selalu kutunggu. Ke game-game yang dulu sanggup membuatku lupa waktu. Bahkan ke hal-hal yang selama ini kusebut sebagai hobi.
Semuanya masih kulakukan. Tapi rasanya berbeda. Tidak lagi memberikan kenikmatan yang sama.
Di titik ini aku kembali memiliki pertanyaan yang tidak tahu harus ditujukan kepada siapa. Apakah ini memang sesuatu yang dialami semua orang ketika memasuki usia kepala tiga? Apakah ini fase yang diam-diam dialami banyak orang tetapi jarang dibicarakan? Atau justru hanya aku saja yang sedang tersesat di ruang bernama hambar ini?
Aku tidak tahu.
Sama seperti pertanyaan-pertanyaan lain yang memenuhi kepala belakangan ini, mungkin yang paling jujur bukanlah mencari jawabannya, melainkan mengakui bahwa sampai hari ini aku masih belum menemukannya dan mungkin memang tidak perlu untuk ditemukan.
