Tidak semua pernikahan gagal. Sebagian justru sukses menciptakan satu pemimpin dan satu pengikut, lalu menyebutnya cinta. Relasi semacam ini bekerja seperti akuisisi dalam dunia bisnis: satu pihak mengambil alih arah, keputusan, dan ritme hidup, sementara pihak lain perlahan melepas haknya untuk menentukan.
Dalam dunia startup, akuisisi berarti satu pihak membeli, mengambil alih, dan menentukan arah. Identitas yang diambil boleh tetap dipajang di depan, tapi keputusan sudah bukan miliknya lagi. Anehnya, pola ini terasa sangat familiar dalam banyak rumah tangga. Satu pihak memimpin, yang lain menyesuaikan. Satu suara dianggap paling tahu, yang lain diminta percaya. Semua dibungkus rapi dengan kalimat-kalimat bernada perhatian: demi kebaikan, demi keluarga, demi masa depan.
Awalnya terlihat wajar. Bahkan tampak dewasa. Tidak ada konflik terbuka, tidak ada pertengkaran berarti. Tapi di balik ketenangan itu, satu identitas mulai tergerus. Keputusan kecil tidak lagi dibicarakan. Pilihan hidup perlahan diarahkan. Hobi dianggap tidak penting, mimpi disebut tidak realistis, suara pelan-pelan kehilangan tempat. Tidak ada larangan keras, hanya penyesuaian yang terus diminta. Dan di situlah masalahnya, penyesuaian tanpa batas.
Kita sering diajari bahwa pernikahan menuntut pengorbanan. Bahwa cinta berarti mengalah. Bahwa keutuhan rumah tangga lebih penting dari keinginan pribadi. Tapi jarang ada yang bertanya: mengalah sampai sejauh mana? Jika keutuhan hanya bisa dijaga dengan menghapus satu pihak, maka yang dipertahankan bukan hubungan, melainkan kuasa. Pernikahan berubah menjadi sistem satu arah yang rapi, stabil, namun hampa.
Idealnya, pernikahan bukan akuisisi. Ia lebih mirip merger. Dua individu datang dengan identitas masing-masing, lalu menyepakati arah baru bersama. Ada kesadaran bahwa tidak ada yang “dibeli”, tidak ada yang “diambil alih” yang dibangun adalah entitas baru tanpa mematikan entitas masing-masing.
Merger memang lebih ribet. Butuh komunikasi, kesediaan mendengar, dan keberanian untuk dikoreksi. Akuisisi jauh lebih cepat dan efisien. Tapi hubungan manusia bukan perusahaan yang mengejar efisiensi. Stabilitas yang lahir dari ketergantungan dan ketakutan tidak pernah benar-benar kuat. Ia hanya diam, menunggu retak.
Ada kondisi tertentu ketika satu pihak perlu memegang kendali lebih kuat. Dalam situasi seperti itu, dominasi sementara bisa menyelamatkan. Tapi ia harus disadari sebagai fase, bukan sistem. Jika bantuan berubah menjadi kebiasaan mengatur, dan kebiasaan mengatur dianggap sebagai hak, maka relasi telah bergeser tanpa pernah disepakati.
Tanda paling jujur dari pernikahan yang berjalan seperti akuisisi sebenarnya sederhana saja. Ketika satu orang harus mengecil agar hubungan tetap utuh. Ketika menjadi diri sendiri terasa berbahaya. Ketika kebahagiaan pribadi selalu ditunda demi stabilitas bersama yang sebenarnya timpang.
Menikah bukan berarti menyerahkan hidup untuk dikelola orang lain. Menikah adalah menyatukan dua kehidupan yang sama-sama ingin tumbuh. Jika sebuah pernikahan hanya bisa bertahan dengan menghilangkan salah satu pihak, maka sejak awal itu bukan cinta yang setara. Itu pengambilalihan. Pada akhirnya, yang diambil alih runtuh secara emosional. Sang pengambil alih lalu menilai keruntuhan itu sebagai kegagalan pasangan, pergi, dan mencari relasi baru untuk kembali mengulang pengambilalihan yang sama.
