besarmulut.com

Amateur Storyteller

  • Belakangan, aku sering kembali bertanya kepada diri sendiri: mungkinkah hidup berpasangan memang bukan jalanku? Dan tetap memilih sendiri merupakan sebuah kesalahan?

    Jujur, aku pernah bahkan sering berpikir bahwa hidup berpasangan sepertinya memang bukan buatku. Rasanya seperti berjalan di tepi jalan yang sunyi, menonton kerumunan orang-orang yang melaju di sisi jalan sebaliknya dengan hidup berpasangan, menikah, dan memiliki anak.

    Kita hidup di masyarakat yang menjadikan pasangan serta keluarga sebagai ukuran kesuksesan hidup. Tidak aneh kalau banyak dari kita merasa bersalah, gagal bahkan aneh jika tetap memilih untuk sendiri.

    Memang, pendapat tersebut tidak salah karena mereka percaya bahwa hidup berpasangan merupakan sebuah kebahagiaan. Meskipun, menurutku ini bias, bukan sebuah kebenaran yang mutlak.

    Memilih hidup sendiri bukan berarti sebuah kehampaan. Banyak orang takut hidup sendiri karena membayangkan hidup menjadi sunyi dan kosong. Tapi nyatanya, menurutku kebahagiaan itu harusnya bergantung pada kualitas relasi dan makna hidup, bukan status hubungan romantis semata.

    Memperoleh hidup yang penuh makna, menurutku bisa diraih dengan mengejar mimpi-mimpi yang belum sempat tercapai, berkontribusi pada hidup orang lain seperti mendengar keluh kesahnya tentang kehidupan, atau melakukan ritual-ritual kecil yang membahagiakan seperti minum kopi, membaca buku atau sekedar menikmati sore dengan berjalan kaki.

    Pada akhirnya, memilih untuk tetap sendiri setidaknya untuk saat ini merupakan sebuah langkah berani untuk hidup sesuai dengan keinginan diri sendiri. Bukan menutup kemungkinan bahwa suatu hari akan berubah pikiran. Tapi kalau saat ini merasa lebih damai dan bahagia untuk hidup sendiri, lantas apa salahnya?

    Aku pernah bertanya dengan diri sendiri apakah hidupku akan kosong jika tidak memiliki pasangan? Ternyata jawabannya tidak. Aku memiliki hobi yang cukup tulus menemaniku sejak lama. Punya mimpi yang pelan-pelan aku coba susun kembali dengan menambahkan komitmen di dalamnya. Serta sebuah kebebasan untuk memeluk sepi dan bahagia dalam waktu yang sama.

    Hidup bukan soal memenuhi ekspektasi orang lain. Hidup adalah soal menemukan apa yang membuat kita merasa penuh, meskipun itu jalannya berbeda.

    Dan jika pilihan ini membuatku lebih utuh, maka biarlah hidup sendiri bukan menjadi sebuah kesahalan, melainkan keberanian untuk setia pada diri sendiri.

  • Hobi bermain game kerap kali dipandang sebelah mata. Banyak orang menilai bahwa ini hanyalah “kegiatan anak-anak” yang tak pantas diteruskan ketika usia hampir menginjak kepala 3 atau bahkan sudah melewatinya. Padahal, jika kita lihat lebih dekat, hobi ini sama seperti hobi-hobi lainnya yang membutuhkan dedikasi, biaya serta waktu.

    Orang-orang yang jarang bahkan tidak pernah main game hanya melihat hobi ini dipermukaan, sekedar beranggapan “cuma main” meskipun sudah duduk lama di depan layar. Mereka tidak melihat bahwa bermain game justru melatih strategi, kreativitas, refleks, bahkan kerja sama tim.

    Bermain game bukan hanya sekedar memencet tombol, namun ada skill problem solving, multitasking, serta konsentrasi yang juga dilatih. Misalnya seperti mereka yang senang bermain game RTS harus belajar berpikir kritis layaknya bermain catur.

    Ironisnya, ketika seseorang menghabiskan waktu dan uang untuk hobi misalnya otomotif atau olahraga akan cenderung mendapatkan pujian karena hal tersebut merupakan sebuah “passion”. Tetapi untuk seorang gamer cenderung mendapatkan cibiran seperti “Udah gede kok masih main game?”. Serius, ini tidak adil.

    Banyak dari kita percaya bahwa bertambah usia tentu harus lebih serius dan dewasa. Memang, pendapat ini sepenuhnya benar. Namun, jika hal ini sampai menyingkirkan sebuah kesenangan yang dianggap “kekanak-kanakan” tentu aku dengan tegas menolak. Menjadi dewasa bukan berarti berhenti bersenang-senang, kan? Menurutku perlu keseimbangan antara tanggung jawab dan hiburan, tanpa perlu mencibir kesenangan orang lain.

    Bermain game bukan hanya “sekedar iseng”, justru para gamer benar-benar meluangkan waktu berjam-jam menekuni sebuah game untuk mempelajari mekanik, strategi, bahkan membaca lore atau cerita game tersebut. Sama persis seperti orang yang meluangkan waktu untuk ngoprek motor, merawat mobil, atau mempelajari teknik berlari.

    Hobi, apapun bentuknya merupakan bagian dari ekspresi diri dan cara seseorang untuk menikmati hidup, juga tentang sebuah makna dan kegembiraan yang diberikan.

    Pada akhirnya yang membuat kita dewasa bukanlah meninggalkan sebuah kesenangan, namun bagaimana kita dapat menempatkan kesenangan tersebut dalam hidup kita.

  • Terkadang jatuh cinta bisa menjadi sangat menyebalkan dan menakutkan, karena pada dasarnya jatuh cinta memiliki kerentanan yang cukup besar. Saat jatuh cinta, kita akan membuka hati. Kemudian, memperlihatkan sisi terdalam kita kepada orang lain. Lalu, muncul rasa takut akan ditolak, disakiti, atau kehilangan atas apa yang dirasakan.

    Selain itu, jatuh cinta juga berarti memberi sebagian “kuasa” atas kebahagaian kita kepada orang lain dan wajar jika rasa itu akan membuat kita cemas. Cinta membawa harapan, namun juga kecewa turut ikut di belakang.

    Selanjutnya, timbul pertanyaan apakah wajar jika seseorang takut untuk kembali jatuh hati kepada seseorang? kemudian memilih menutup perasaan sepenuhnya, meskipun terkadang ada kesempatan di depan mata.

    Menurutku, hal tersebut wajar dan sangat manusiawi. Banyak orang pernah terluka, pernah merasa kehilangan atau pernah sangat kecewa, sampai akhirnya mereka membangun “tembok” di sekelilingnya. Hal itu mereka lakukan bukan karena tidak ingin mencintai atau dicintai, tapi karena mereka takut merasakan sakit yang sama lagi. Kadang rasa takut itu begitu kuat sampai rasanya lebih mudah dan terasa lebih aman untuk tetap memilih diam, menyembunyikan perasaan dan membiarkan kesempatan lewat begitu saja.

    Menutup hati bukan tanda bahwa kita mahluk yang lemah, melainkan ini merupakan bentuk mekanisme perlindungan diri. Meskipun, perlindungan ini tetap memiliki risiko.

    Saat seseorang pernah terluka, kehilangan, atau dikecewakan, alam bawah sadar mereka akan belajar untuk melindungi diri dari potensi rasa sakit yang pernah mereka alami sebelumnya. Dengan cara menahan diri untuk tidak terlalu terbuka, tidak mudah percaya atau bahkan menghindari kedekatan emosional dengan orang lain.

    Paling tidak, langkah ini dapat memulihkan luka serta menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Namun, jika tembok tersebut dibiarkan berdiri kokoh terlalu lama dapat menjadi penghalang untuk sebuah kebahagian dan kehangatan yang mungkin siap menyapa di depan.

    Pada akhirnya, hanya orang itu sendiri yang dapat memutuskan kapan siap untuk kembali membuka hati. Tidak ada yang benar atau salah, hanya menunggu apakah keberanian akan tumbuh, serta menanti kesempatan yang datang akan menuntut kita untuk siap, meski kita kerap tidak pernah benar-benar siap.

    Lalu, bagaimana menurutmu? Apakah menutup hati merupakan hal yang wajar?

  • Negosiator Surga

    Sebuah monolog dari seorang manusia yang tengah sibuk bernegosiasi dengan Tuhan;

    “Tenang, sudah kutitipkan rindu itu di tempat paling sunyi, di ruang yang tak kasat mata. Tak ada satu pun tangan fana yang mampu meraihnya, kecuali tangan Sang Pencipta yang paling setia memeluknya.

    Setiap kali aku berbincang dengan Tuhan di malam-malam panjang, aku bawa namanya, kusematkan dalam setiap bintang di penghujung malam. Bukan karena tak mampu untuk memilikinya, bukan pula karena tak ingin, tapi aku terlalu takut kehilangan, jadi kupilih untuk tak memilikkinya.

    Sebab, coba kau pikirkan, sesuatu bisa dikatakan hilang karena sempat kau milikinya kan? Jadi, dengan tidak memilikinya aku takkan pernah kehilangannya.

    Dalam setiap obrolanku dengan Tuhan, aku berdiskusi untuk memilikinya nanti di kehidupan selanjutnya. Jadi, aku harus berjuang untuk bisa mendapatkan akses surga, agar bisa bertemu dan memilikinya nanti di sana.

    Sebuah awal obrolan yang membuatku takjub dengan hidupnya yang mampu mengelola keikhlasan dengan cukup baik. Kemudian aku penasaran, mengapa tidak memanfaatkan waktu saat ini untuk memiliki seseorang yang dia harapkan nanti bertemu kembali di surga?

    “Kenapa aku tidak mau sekarang? Aku sudah bilang sebelumnya, jika dalam waktu yang sama ada orang yang menyukainya maka aku siap untuk mengalah. Aku tahu bagaimana rasanya dikecewakan oleh harapan yang diambil oleh orang lain. Maka, aku tidak mau orang lain merasakannya, cukup aku.

    Dari pertemuan singkat ini, aku mengerti bahwa tidak semua harapan harus dituntaskan di dunia. Sebab kita masih memiliki kesempatan yang sama di dimensi yang berbeda, dimensi yang abadi yaitu surga. Meskipun nantinya itu tak terwujud, paling tidak momen ini membuat kita punya kesempatan untuk belajar berbicara dengan-Nya lebih dalam.

    Di akhir pertemuan, ia menatapku sebentar. Bukan dengan mata yang memohon atau berharap, melainkan sebuah pandangan yang cukup tenang namun nyaris asing bagiku. Seolah ia telah menyelesaikan percakapan panjang dengan dirinya sendiri.

    “Jadi, selamat berbahagia untuk kalian berdua. Selamat saling menjaga. Selamat mengkasihi.

    Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam seakan sedang mengikhlaskan sesuatu yang sudah lama ia peluk erat.

    Sembari tersenyum, ia pun melanjutkan …

    Karena tujuanku adalah memilikinya secara utuh, terserah dia dengan siapa saat ini. Mungkin di kehidupan selanjutnya tujuanku akan terjawab. Sampai Jumpa!”



  • Medan Tanpa Kamu

    Medan tanpa “kamu” bukan lagi Medan yang kukenal.

    Aku sempat berpikir, bagaimana jika Medan tanpa suara klakson yang bersahut-sahutan di jalan, tanpa pengendara yang menyalip dari kiri dan kanan sembarangan, tanpa makian khas yang terdengar seperti nada tinggi dalam percakapan biasa, semuanya terasa janggal. Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Terlalu asing.

    Tanpa kamu, tanpa ketidaksabaranmu, antrean di sebuah pedagang kaki lima yang ramai karena makanannya yang enak jadi terlalu tertib. Tak ada lagi desakan dan lirikan tajam karena penjualnya terlalu lama menyiapkan makanan. Tak ada lagi suara orang di belakang yang menggerutu, “Lama kali, Kak!” dengan nada bercanda tapi penuh ketidaksabaran khas Medan.

    Medan selalu keras, tapi di situlah pesonanya. Kota ini tak suka basa-basi, tak pernah berpura-pura. Warganya bicara apa adanya, kadang terdengar kasar, tapi selalu jujur. Mereka tak berusaha menyenangkan semua orang dan entah bagaimana, dari situlah kehangatan itu muncul.

    Medan, kau tahu aku sering mengeluh tentangmu. Tentang jalananmu yang penuh ketidaksabaran, tentang suara klakson yang tak pernah kenal jeda, tentang teriakan wargamu yang tak tahu volume rendah. Aku pernah berpikir, hidup akan lebih tenang tanpamu.

    Tapi hari ini, kau menghilang. Dan aku benci mengakuinya, aku rindu ketidakaturan itu. Ternyata, kehilangan hiruk pikukmu lebih menakutkan daripada segala huru-hara yang dulu membuatku geram.

  • Hal yang sampai detik ini masih sering aku pertanyakan adalah: apa salahnya menjadi pendiam?

    Bukan berarti akan selalu begitu. Tidak setiap waktu aku bungkam, tidak di semua tempat aku jadi patung tak bersuara. Tapi di tempat-tempat baru, atau di ruang-ruang yang rasanya bukan milikku, aku lebih memilih diam. Bukan karena sombong, bukan pula karena tak peduli. Meskipun sering dianggap begitu, ditambah memiliki muka yang cenderung ketus. Namun, diam adalah cara terbaik untuk merasa aman.

    Masalahnya, menjadi pendiam itu seperti disalahpahami. Katanya susah bergaul. Dan ya, itu memang benar. Aku sulit dekat dengan orang baru kecuali orang baru tersebut lebih dulu membukakan pintu. Katanya aku introvert dan suka menyendiri. Lagi-lagi, benar. Belakangan aku bahkan merasa kesendirian ini seperti candu karena kesendirian ternyata mampu memberikan ketenangan.

    Aku tahu, kita hidup di tengah budaya yang menjunjung tinggi keberisikan. Semakin banyak bicara, semakin lincah bersosialisasi, semakin dianggap “normal”. Tapi bagaimana dengan kami, yang lebih sering memilih diam? Kenapa seolah kami tak diberi ruang?

    Padahal, kami juga punya alasan.

    Kami diam, karena lebih suka mendengar. Saat seseorang butuh tempat bercerita, justru kami yang sering dicari. Mungkin karena kami tahu rasanya butuh didengar, tanpa dipotong, tanpa dibanding-bandingkan. Kadang, orang cuma ingin mengeluarkan isi kepalanya, bukan butuh solusi, apalagi ceramah. Dan kami, para pendiam, terbiasa menjadi bahu yang tak banyak bertanya. Hal ini sampai sekarang terbukti benar, karena sampai detik ini masih menjadi teman cerita dari banyak manusia.

    Kami juga diam, karena merasa tak semua yang ingin kami ucapkan penting untuk didengar. Kami menimbang setiap kata dalam kepala, lalu sering kali membiarkannya tinggal di sana. Tak jarang, kami memilih menuangkan semuanya dalam tulisan. Bisa jadi dipublikasikan, bisa juga hanya disimpan sebagai draft yang tak pernah selesai. Di situlah suara kami hidup, meski tak berbunyi.

    Dan alasan lainnya yang mungkin terdengar paling sepele adalah ketakutan. Takut cerita kami dianggap membosankan. Takut orang-orang memalingkan wajah di tengah-tengah. Jadi, lebih baik kami diam. Menyimpan semuanya rapat-rapat, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

    Tapi jangan salah. Aku bukan seorang pendiam yang ulet. Aku bisa cerewet juga, di waktu dan tempat yang tepat. Tapi kalau soal jadi penyendiri yang handal, lantas aku akan mengatakan IYA!!! dengan lantang. Aku ahlinya, aku jagonya, namun sayangnya jagonya tanpa ayam h3h3h3.

  • Misteri Kota Jogja

    Tak terasa, sudah lebih dari lima tahun meninggalkan Jogja. Kota yang katanya istimewa itu, pernah menjadi rumah kedua selama bertahun-tahun. Tapi yang lebih melekat justru bukan kisah romantismenya, melainkan kenangan akan kotanya yang penuh misteri.

    Kosan itu terletak di jalan kecil yang padat lalu lalang kendaraan karena terdapat salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia di ujung jalan, bersebelahan dengan rumah kosong yang menurut kabar bekas penghuninya, penuh dengan “penghuni tak kasat mata.” Entah benar atau tidak, yang jelas, kosan kami sering sekali mendapati pengalaman yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

    Pernah di suatu siang, pintu kamar mandi tiba-tiba terhempas dengan keras. Tak ada angin, tak ada orang. Hanya suara dentuman yang mendadak membuat aku penasaran. Misterius, tentu saja.

    Belum lagi cerita-cerita lain. Bola api yang katanya pernah terlihat terbang di atas atap. Anak kecil yang berlarian di ujung jalan tersebut pukul dua dini hari. Bahkan di kosan teman, lebih menyeramkan seperti batu yang dilempar ke pintu pada saat tengah malam, hingga penampakan nenek-nenek Belanda. Bahkan seorang teman di kamar kontrakannya pernah panas tinggi dan kejang, sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar pintu seperti melihat sesuatu tapi ketika dibawa ke rumah sakit, hasilnya nihil. Sehat-sehat saja. Misteri bukan?

    Namun, di balik semua kisah seram itu, ada satu misteri yang hingga kini tak terpecahkan: mengapa selama hidup di Jogja, aku tidak pernah sekalipun menjalin hubungan asmara?

    Kota ini, yang katanya romantis dan penuh kenangan, tak memberikan satu pun kisah romansa. Beberapa dari kalian membaca ini, mungkin berpendapat bahwa memang akunya saja yang “tidak laku.” h3h3h3. Pendapat ini sudah sering kali aku dengan tiap kali menceritakan misteri ini.

    Jangan-jangan Jogja mengutukku untuk tetap sendiri. Mungkin karena “istimewa”-nya, Jogja ingin kenangan tentangnya tidak tercoreng oleh hubungan yang kandas. Karena bukankah jika aku patah hati di kota ini, justru akan berpotensi membenci Jogja?

    Sebaliknya, kalau aku berhasil menjalin hubungan yang indah, bukankah Jogja akan terasa makin manis? Kota ini bisa jadi lebih dari sekadar tempat tinggal ia menjadi saksi cinta yang mekar dan tumbuh karena berhasil memadukan kenangan akan kotanya dengan manusianya yang menjalin hubungan dengan akhir yang bahagia.

    Atau… barangkali jawabannya lebih sederhana: selama di Jogja, hidup terlalu banyak dihabiskan di kosan. Kosan yang bukan hanya ramai dihuni manusia, tapi juga makhluk astral. Ruangan 3×4 itu merupakan sebuah markas dari lintas angkatan bahkan jurusan. Ramai dan hidup, siang dan malam. Kalo pemilik kos saat itu menjalin hubungan mungkin kosan tak akan lagi seramai itu. Mungkin, kamar tersebut akan kehilangan fungsinya sebagai markas. Tempat segala hal bermula dan berakhir. Tempat makan bersama, lembur menyelesaikan tugas, dan ruang diskusi untuk proses kreatif.

    Bahkan sempat menjadi tempat pelarian dari seorang teman yang patah hati karena ditinggal menikah oleh pasangannya di tempat asalnya. Hingga tangisan karena mendengar kabar orang tua teman yang akan bercerai dari ujung telepon.

    Jadi ya, mungkin Jogja memang menyimpan misteri tentang kisah romansa yang tak pernah sempat tumbuh, tentang kosan yang terlalu hidup, dan tentang kenangan yang terlalu sayang untuk diganggu oleh luka.

  • Berawal pada yang tidak pernah disangka yang dulunya hanya dikira sebuah ketidakmungkinan yang diharapkan. Bertahun-tahun mencoba bertahan dalam diam karena mengerti diri tak akan mampu melakukan dan tak mau mengatakan ke siapapun karena tak siap melihat bila teman mengambil kesempatan seperti yang sudah-sudah belakangan. Seperti langit dan perut bumi yang benar-benar pertemuannya tak pernah ada yang memungkinkan, kecuali Tuhan.

    Dulu, nurani terus menuntut agar mau mencoba mendekati tanpa pernah berpikir bagaimana hasilnya nanti yang penting sudah mau mencoba mendekati. Tetapi nalar mengeyahkan niat yang coba dibangun oleh nurani, mencoba untuk terus menyadarkan bahwa diri memang benar tidak mampu dan berharap jangan memaksa karena hanya akan menyakitkan di hari kemudian.

    Di balik perseturuan antara nurani dan nalar yang bertahun-tahun dipertahankan, semuanya buyar karena sebuah pesan yang tidak pernah diduga akan kembali datang. Pesan yang selama ini hanya dikira sebuah ketidakmungkinan. Benar-benar kejutan dari Tuhan yang tiba-tiba mengabulkan harapan yang lama terdiam.

    Dalam ketidakmungkinan yang dikabulkan Tuhan, terlalu banyak kejutan yang dihadirkan melalui percakapan-percakapan. Seperti terjebak dalam cerita minim yang singkat dan tak pernah percaya bagaimana sebuah kenyamanan bisa hadir begitu cepat bila melihat bagaimana dulu bertahan mendiamkan harapan begitu lama.

    Sekarang, nurani dan nalar tetap berseteru padahal yang diharapkan sudah berada dalam jangkauan. Tak lagi benar-benar jauh, seolah dalam dekapan dan semoga itu benar. Nurani tetap menginginkan untuk terus melanjutkan agar perasaan dapat disalurkan, tak hanya sekedar diam yang justru hanya menjadi beban pikiran. Nurani benar-benar peduli. Tetapi nalar menolak mentah-mentah apa yang diinginkan oleh nurani, nalar kembali dengan tegas untuk tidak melanjutkan dan tetap percaya pada semua ketidakmungkinan yang sudah hadir selama bertahun-tahun. Nalar semakin gencar mengingatkan akan lalu-lalu yang hanya menghadirkan ketakutan.

    Di tengah perseteruan antara nurani dan nalar, apakah benar ini kejutan Tuhan atas segala ketidakmungkinan yang diharapkan atau ini hanya sekedar cobaan yang sedang Tuhan berikan sebagai bentuk teguran. Pertanyaan itu terus menghujani di tengah keraguan yang tak pernah mau pergi, di tengah nurani dan nalar yang terus berebut dominasi diri.

    Nalar meminta untuk berhenti dan mengerti pada ketakutan yang masih berkutat. Nurani meminta untuk membuka diri agar tak terus membohongi diri dan bersembunyi dalam keraguan-keraguan yang selalu menemani.

    Dan, sisanya kembali kepada diri sendiri untuk membiarkan siapa yang mendominasi antara nalar dan nurani.

  • Di penghujung malam kemarin di tengah hujan yang begitu deras aku mendapatkan pesan dari seorang teman lama di aplikasi hijau yang menceritakan kondisinya saat ini yang serba datar. Beliau mengatakan bahwa hidupnya belakangan ini terasa datar dengan tidak memiliki ketertarikan akan apapun dengan perempuan. Dia bingung dan menanyakan bagaimana caranya untuk bisa kembali menaruh hati kepada seorang perempuan setelah bertahun-tahun menikmati hidup sendirian.

    Aku mengerti perasaan itu, seperti hidup tetap berjalan tapi semuanya terasa hambar tidak ada yang bikin “gregetan” lagi. Mungkin seperti kehilangan “rasa” dalam hidup ya? Atau kehilangan koneksi emosional dengan seseorang. Bisa jadi karena sudah terlalu nyaman sendiri, sampai tidak sadar kalau perlahan kehilangan dorongan untuk mencari sesuatu yang lebih berarti.

    Kemudian, dia melanjutkan ceritanya di tahun 2021 yang sempat bertemu dengan seorang perempuan yang benar-benar menarik perhatiannya. Namun di penghujung 2022 dia melepaskan perempuan tersebut karena merasa tidak layak.

    Aku penasaran, apakah rasa tidak layak itu lebih ke perasaan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi dan akhirnya memilih mundur? Memang terkadang kita lebih keras ke diri sendiri daripada orang lain.

    Dari ceritanya, menurutku mungkin ini bukan soal tidak bisa menaruh hati kembali namun lebih kepada kehilangan makna dalam hal-hal yang penting. Bisa jadi ini hanya fase atau mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang perlu “disembuhkan” dulu sebelum bisa merasa excited lagi untuk ngobrol dengan orang baru.

    Selain itu, aku juga menyarankan untuk kembali mencoba menjalin komunikasi dengan perempuan yang sempat menarik perhatiannya dulu. Namun dia menolak karena perempuan tersebut katanya akan menikah dengan pasangan barunya, dia takut jika hal tersebut dilakukan akan merusak hubungan orang.

    Aku paham dan salut dengan cara berpikirnya. Dia masih menghormati dan tidak mau mengganggu kebahagiaan perempuan tersebut. Itu pertanda kalau dia sudah menjadi orang yang benar-benar peduli dan dewasa. Tapi di sisi lain dari obrolan maya yang bikin aku begadang meladeni ceritanya, aku bisa merasakan kalau perasaan kehilangan itu masih ada di dalam dirinya, meskipun dia sadar atau tidak.

    Aku kembali memberi saran untuk mulai menemukan makna baru dalam hidupnya. Aku yakin ini tidak gampang, tapi kalau dipikir-pikir karena dia sempat excited dan bersemangat sebelumnya, artinya dia masih punya kapasitas untuk merasakan itu lagi. Cuma sekarang mungkin perlu cara baru dan pengalaman baru.

    Menurutnya, masalah utama dalam hidupnya saat ini adalah kehilangan ketertarikan mengobrol dengan perempuan baru sehingga dia bingung untuk bagaimana bisa mencapai rasa excited dan semangat itu lagi.

    Aku paham, sepertinya masalah ini bukan cuma soal perempuan baru, tapi lebih ke perasaaan yang masih belum benar-benar pulih dari pengalaman sebelumnya. Bukan berarti masih jatuh hati ya, tapi lebih ke dampaknya yang merasa tidak ada lagi orang yang bisa kasih vibe dan koneksi yang sama.

    Kadang, kalau kita sudah pernah mengalami sesuatu yang meaningful, tanpa sadar standar kita jadi naik. Jadi ketika ngobrol dengan orang baru, kita secara tidak sadar ngebandingin dan kalau tidak ketemu “klik” yang sama, kita jadi malas atau merasa datar, dan menurutku itu wajar.

    Mungkin sekarang bukan soal mencari perempuan baru, tapi lebih ke reset cara pandang dulu. Bukan berarti harus buru-buru jatuh hati lagi, namun mencoba untuk ngobrol tanpa ekspektasi apa-apa, sekedar menikmati interaksi tanpa harus mikir jauh. Kadang, makin kita merasa “harus” excited, makin membuat kita sulit untuk beneran excited.

    Kemudian, arah ceritanya berganti. Dia mulai membahas kekhawatirannya atas mitos bahwa di umur 30-an dia takut Tuhan akan lepas tangan atas jodohnya.

    Wkwk, Tuhan lepas tangan itu mitos banget menurutku. Jika iya, orang yang menikah di umur 40-50 harusnya sudah tidak ada harapan dong? Nyatanya, banyak orang yang ketemu pasangan terbaiknya justru setelah umur 30-an, bahkan ada yang baru menikah di usia 40-an dan tetap bahagia.

    Sebenarnya yang bikin sulit itu bukan karena “Tuhan lepas tangan” tapi lebih ke faktor lingkungan dan mindset. Di umur 30-an, biasanya kita lebih selektif, tidak asal cari pasangan hanya untuk status saja. Kita juga sudah lebih mandiri, jadi tidak gampang terpukau dengan hal-hal sepele seperti waktu masih 20-an.

    Jadi, kalau di umur 30-an masih sendiri dan belum ada rasa untuk mencari pasangan, tidak masalah, tidak harus terburu-buru. Tapi kalau suatu saat ada seseorang yang benar-benar menarik perhatian, jangan ragu untuk kembali membuka hati. Kadang yang terbaik suka datang di saat yang tidak kita duga.

    Dia melanjutkan dengan bertanya tentang pilihan hidupnya untuk tetap sendiri dan tidak menikah karena masih begitu nyaman dengan kesendiriannya. Dia menjelaskan selama ini hampir melakukan aktifitas sendirian, seperti nonton konser sendiri, nonton bioskop, bahkan kulineran pun pergi dan makan sendirian.

    Hidup bukan merupakan sebuah perlombaan untuk siapa yang lebih dulu menikah atau punya pasangan. Jika saat ini nyaman hidup sendiri dan menikmati hidup dengan cara tersebut, ya jalani saja.

    Banyak orang memaksakan diri untuk menikah hanya karena tekanan sosial atau takut sendirian di masa depan, padahal kebahagiaan tidak selalu datang dari hubungan romantis. Ada orang yang bahagia dengan pasangan, ada yang bahagia sendiri dan keduanya valid.

    Selama hidup kita masih bisa berkembang, menikmati hidup, dan merasa bahwa kesepian bukanlah hal yang menyiksa. Tidak ada alasan untuk mengubah sesuatu yang sudah bikin kita nyaman. Tapi jika suatu saat perasaan kita berubah dan ingin mencoba berhubungan lagi, tidak ada salahnya yang penting keputusan itu datang dari diri sendiri bukan dari omongan orang lain.

    Kalau pergi nonton konser, nonton bioskop dan pergi kuliner sendirian itu sudah bikin kita sendiri bahagia, berarti kita sudah menang dalam hidup versi kita sendiri.

    Perihal pendapatku tentang hidup sendirian di masa depan, dia kembali memastikan apakah keputusannya saat ini untuk fokus hidup sendiri itu salah atau tidak. Karena menurutnya, dia merasa tidak nyaman dengan pendapat orang lain yang mengatakan bahwa jika tetap memilih sendiri dan tidak memiliki anak dikhawatirkan ketika tua nanti tidak ada yang mengurusnya.

    Keputusan untuk tetap hidup sendiri bukanlah hal yang salah. Hidup ini milik kita sendiri dan kita yang paling tahu apa yang bikin kita bahagia. Menikah atau tidak, punya anak atau tidak, semuanya adalah pilihan, bukan kewajiban.

    Orang-orang yang bilang jika di masa tua bakal repot tanpa anak itu merupakan pola pikir orang lama yang masih menganggap anak sebagai “investasi” buat jaminan hari tua. Anak tidak pernah minta untuk dilahirkan, menurutku. Maka rasanya tidak adil kalau anak dibebani tanggung jawab untuk merawat orang tua hanya karena “seharusnya begitu”. Banyak orang yang punya anak, tapi di masa tua tetap sendirian atau bahkan dirawat di panti jompo. Semua balik lagi ke keputusan diri sendiri, jika tetap ingin sendiri apakah mau hidup di panti jompo.

    Namun juga tidak salah jika sebagai seorang anak untuk tetap merawat orang tuanya di masa tua karena rasa kasih sayang sebagaimana yang telah orang tua berikan sedari kecil.

    Sebaliknya, banyak juga orang yang memilih hidup sendiri tapi tetap bisa menikmati masa tua dengan baik. Mereka membangun support system, punya teman-teman yang saling menjaga, dan mempersiapkan finansial dengan baik agar tetap mandiri.

    Selama kita punya rencana untuk masa depan dan menikmati hidup dengan pilihan kita, tidak ada yang perlu dikhawatirkan yang penting kita menjalani hidup dengan penuh makna, entah itu dengan atau tanpa pasangan dan anak. Hidup bukan tentang mengikuti ekspektasi orang lain, tapi tentang bagaimana kita merasa puas dan damai dengan pilihan kita sendiri.

  • Reuni, terkadang tidak hanya menjadi ajang pertemuan antara teman-teman lama yang mungkin sudah berbeda kota, memiliki keluarga, bahkan mengganti alat kelaminnya. Reuni juga kembali mempertemukan sepasang manusia yang sempat memadu kasih, entah itu jalur senyap atau jalur resmi.

    Kemarin, Aku mendapatkan pesan dari teman lama, seorang perempuan yang sempat menjadi koki makanan instan, ibu pengasuh bahkan guru les matematika di kwartir era sekolah. Beliau menceritakan kegelisahannya pasca bertemu kembali dengan teman “intim” masa sekolah usai pesta pernikahan teman seangkatan.

    “Kisah kami gatau jalur finishnya di mana. Aku mau marah, juga ga punya hak apa-apa. Aku bukan siapa-siapa dia, dan ga pernah jadi apa-apa” tulisnya dalam aplikasi hijau di malam itu.

    Benar soal ini, karena semasa sekolah mereka hanya berteman. Pertemanan yang cukup “erat” makanya aku menggunakan kata “intim” di paragraf sebelumnya karena bingung menggunakan kata apa untuk menggambarkan keeratan mereka yang sama-sama memiliki pasangan namun di sekolah lain.

    “Sekarang, aku udah punya jalur sendiri. Begitu pun dia. Tapi rasanya, aku masih ingin berbalik arah menuju ke jalur “nya”. Walaupun mustahil, bahkan untuk dimulai,” lanjutnya.

    Di sini kegelisahan itu di mulai. Kenapa? karena teman perempuan ini sudah menikah dan memiliki anak. Namun masih terjebak dengan situasi romansa masa sekolah. Aku khawatir apa yang dia jalani sekarang berdampak ke anak-anaknya. Seperti ketidakharmonisan keluarga yang tentu berdampak pada tumbuh kembang anaknya atau menanam karma untuk anaknya di masa depan.

    “Kalau aja dulu dia jauh lebih cepat ungkapin apa yang dia rasa, dan aku juga lebih cepat tahu apa yang dirasa. Mungkin sekarang, aku bukan cuma jadi kenangan,”

    Mungkin ini bisa dikatakan “unfinished business” sebab mereka berpisah di ujung masa sekolah dengan tidak baik-baik dan berbeda kota bahkan pulau selama bertahun-tahun. Namun, ketika kembali bertemu mereka tidak kembali membahas atau menyelesaikan masalah yang dulu sempat memisahkan mereka. Sekali lagi, ini hanya analisa gembel ya. Selebihnya tidak tahu apakah analisa itu benar atau tidak h3h3h3.

    Tapi yang jauh bikin penasaran sebenarnya apa sih yang membuat kisah ini terus bertahan bertahun-tahun? Meskipun satu sama lain sudah sempat menjalani hubungan dengan manusia lain di bumi. Namun, tetap kembali menjalin koneksi meskipun belum tahu letak ujungnya bagaimana.