Tak terasa, sudah lebih dari lima tahun meninggalkan Jogja. Kota yang katanya istimewa itu, pernah menjadi rumah kedua selama bertahun-tahun. Tapi yang lebih melekat justru bukan kisah romantismenya, melainkan kenangan akan kotanya yang penuh misteri.
Kosan itu terletak di jalan kecil yang padat lalu lalang kendaraan karena terdapat salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia di ujung jalan, bersebelahan dengan rumah kosong yang menurut kabar bekas penghuninya, penuh dengan “penghuni tak kasat mata.” Entah benar atau tidak, yang jelas, kosan kami sering sekali mendapati pengalaman yang tidak bisa dijelaskan secara logika.
Pernah di suatu siang, pintu kamar mandi tiba-tiba terhempas dengan keras. Tak ada angin, tak ada orang. Hanya suara dentuman yang mendadak membuat aku penasaran. Misterius, tentu saja.
Belum lagi cerita-cerita lain. Bola api yang katanya pernah terlihat terbang di atas atap. Anak kecil yang berlarian di ujung jalan tersebut pukul dua dini hari. Bahkan di kosan teman, lebih menyeramkan seperti batu yang dilempar ke pintu pada saat tengah malam, hingga penampakan nenek-nenek Belanda. Bahkan seorang teman di kamar kontrakannya pernah panas tinggi dan kejang, sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar pintu seperti melihat sesuatu tapi ketika dibawa ke rumah sakit, hasilnya nihil. Sehat-sehat saja. Misteri bukan?
Namun, di balik semua kisah seram itu, ada satu misteri yang hingga kini tak terpecahkan: mengapa selama hidup di Jogja, aku tidak pernah sekalipun menjalin hubungan asmara?
Kota ini, yang katanya romantis dan penuh kenangan, tak memberikan satu pun kisah romansa. Beberapa dari kalian membaca ini, mungkin berpendapat bahwa memang akunya saja yang “tidak laku.” h3h3h3. Pendapat ini sudah sering kali aku dengan tiap kali menceritakan misteri ini.
Jangan-jangan Jogja mengutukku untuk tetap sendiri. Mungkin karena “istimewa”-nya, Jogja ingin kenangan tentangnya tidak tercoreng oleh hubungan yang kandas. Karena bukankah jika aku patah hati di kota ini, justru akan berpotensi membenci Jogja?
Sebaliknya, kalau aku berhasil menjalin hubungan yang indah, bukankah Jogja akan terasa makin manis? Kota ini bisa jadi lebih dari sekadar tempat tinggal ia menjadi saksi cinta yang mekar dan tumbuh karena berhasil memadukan kenangan akan kotanya dengan manusianya yang menjalin hubungan dengan akhir yang bahagia.
Atau… barangkali jawabannya lebih sederhana: selama di Jogja, hidup terlalu banyak dihabiskan di kosan. Kosan yang bukan hanya ramai dihuni manusia, tapi juga makhluk astral. Ruangan 3×4 itu merupakan sebuah markas dari lintas angkatan bahkan jurusan. Ramai dan hidup, siang dan malam. Kalo pemilik kos saat itu menjalin hubungan mungkin kosan tak akan lagi seramai itu. Mungkin, kamar tersebut akan kehilangan fungsinya sebagai markas. Tempat segala hal bermula dan berakhir. Tempat makan bersama, lembur menyelesaikan tugas, dan ruang diskusi untuk proses kreatif.
Bahkan sempat menjadi tempat pelarian dari seorang teman yang patah hati karena ditinggal menikah oleh pasangannya di tempat asalnya. Hingga tangisan karena mendengar kabar orang tua teman yang akan bercerai dari ujung telepon.
Jadi ya, mungkin Jogja memang menyimpan misteri tentang kisah romansa yang tak pernah sempat tumbuh, tentang kosan yang terlalu hidup, dan tentang kenangan yang terlalu sayang untuk diganggu oleh luka.