Hobi bermain game kerap kali dipandang sebelah mata. Banyak orang menilai bahwa ini hanyalah “kegiatan anak-anak” yang tak pantas diteruskan ketika usia hampir menginjak kepala 3 atau bahkan sudah melewatinya. Padahal, jika kita lihat lebih dekat, hobi ini sama seperti hobi-hobi lainnya yang membutuhkan dedikasi, biaya serta waktu.
Orang-orang yang jarang bahkan tidak pernah main game hanya melihat hobi ini dipermukaan, sekedar beranggapan “cuma main” meskipun sudah duduk lama di depan layar. Mereka tidak melihat bahwa bermain game justru melatih strategi, kreativitas, refleks, bahkan kerja sama tim.
Bermain game bukan hanya sekedar memencet tombol, namun ada skill problem solving, multitasking, serta konsentrasi yang juga dilatih. Misalnya seperti mereka yang senang bermain game RTS harus belajar berpikir kritis layaknya bermain catur.
Ironisnya, ketika seseorang menghabiskan waktu dan uang untuk hobi misalnya otomotif atau olahraga akan cenderung mendapatkan pujian karena hal tersebut merupakan sebuah “passion”. Tetapi untuk seorang gamer cenderung mendapatkan cibiran seperti “Udah gede kok masih main game?”. Serius, ini tidak adil.
Banyak dari kita percaya bahwa bertambah usia tentu harus lebih serius dan dewasa. Memang, pendapat ini sepenuhnya benar. Namun, jika hal ini sampai menyingkirkan sebuah kesenangan yang dianggap “kekanak-kanakan” tentu aku dengan tegas menolak. Menjadi dewasa bukan berarti berhenti bersenang-senang, kan? Menurutku perlu keseimbangan antara tanggung jawab dan hiburan, tanpa perlu mencibir kesenangan orang lain.
Bermain game bukan hanya “sekedar iseng”, justru para gamer benar-benar meluangkan waktu berjam-jam menekuni sebuah game untuk mempelajari mekanik, strategi, bahkan membaca lore atau cerita game tersebut. Sama persis seperti orang yang meluangkan waktu untuk ngoprek motor, merawat mobil, atau mempelajari teknik berlari.
Hobi, apapun bentuknya merupakan bagian dari ekspresi diri dan cara seseorang untuk menikmati hidup, juga tentang sebuah makna dan kegembiraan yang diberikan.
Pada akhirnya yang membuat kita dewasa bukanlah meninggalkan sebuah kesenangan, namun bagaimana kita dapat menempatkan kesenangan tersebut dalam hidup kita.