Hal yang sampai detik ini masih sering aku pertanyakan adalah: apa salahnya menjadi pendiam?

Bukan berarti akan selalu begitu. Tidak setiap waktu aku bungkam, tidak di semua tempat aku jadi patung tak bersuara. Tapi di tempat-tempat baru, atau di ruang-ruang yang rasanya bukan milikku, aku lebih memilih diam. Bukan karena sombong, bukan pula karena tak peduli. Meskipun sering dianggap begitu, ditambah memiliki muka yang cenderung ketus. Namun, diam adalah cara terbaik untuk merasa aman.

Masalahnya, menjadi pendiam itu seperti disalahpahami. Katanya susah bergaul. Dan ya, itu memang benar. Aku sulit dekat dengan orang baru kecuali orang baru tersebut lebih dulu membukakan pintu. Katanya aku introvert dan suka menyendiri. Lagi-lagi, benar. Belakangan aku bahkan merasa kesendirian ini seperti candu karena kesendirian ternyata mampu memberikan ketenangan.

Aku tahu, kita hidup di tengah budaya yang menjunjung tinggi keberisikan. Semakin banyak bicara, semakin lincah bersosialisasi, semakin dianggap “normal”. Tapi bagaimana dengan kami, yang lebih sering memilih diam? Kenapa seolah kami tak diberi ruang?

Padahal, kami juga punya alasan.

Kami diam, karena lebih suka mendengar. Saat seseorang butuh tempat bercerita, justru kami yang sering dicari. Mungkin karena kami tahu rasanya butuh didengar, tanpa dipotong, tanpa dibanding-bandingkan. Kadang, orang cuma ingin mengeluarkan isi kepalanya, bukan butuh solusi, apalagi ceramah. Dan kami, para pendiam, terbiasa menjadi bahu yang tak banyak bertanya. Hal ini sampai sekarang terbukti benar, karena sampai detik ini masih menjadi teman cerita dari banyak manusia.

Kami juga diam, karena merasa tak semua yang ingin kami ucapkan penting untuk didengar. Kami menimbang setiap kata dalam kepala, lalu sering kali membiarkannya tinggal di sana. Tak jarang, kami memilih menuangkan semuanya dalam tulisan. Bisa jadi dipublikasikan, bisa juga hanya disimpan sebagai draft yang tak pernah selesai. Di situlah suara kami hidup, meski tak berbunyi.

Dan alasan lainnya yang mungkin terdengar paling sepele adalah ketakutan. Takut cerita kami dianggap membosankan. Takut orang-orang memalingkan wajah di tengah-tengah. Jadi, lebih baik kami diam. Menyimpan semuanya rapat-rapat, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Tapi jangan salah. Aku bukan seorang pendiam yang ulet. Aku bisa cerewet juga, di waktu dan tempat yang tepat. Tapi kalau soal jadi penyendiri yang handal, lantas aku akan mengatakan IYA!!! dengan lantang. Aku ahlinya, aku jagonya, namun sayangnya jagonya tanpa ayam h3h3h3.