Terkadang jatuh cinta bisa menjadi sangat menyebalkan dan menakutkan, karena pada dasarnya jatuh cinta memiliki kerentanan yang cukup besar. Saat jatuh cinta, kita akan membuka hati. Kemudian, memperlihatkan sisi terdalam kita kepada orang lain. Lalu, muncul rasa takut akan ditolak, disakiti, atau kehilangan atas apa yang dirasakan.

Selain itu, jatuh cinta juga berarti memberi sebagian “kuasa” atas kebahagaian kita kepada orang lain dan wajar jika rasa itu akan membuat kita cemas. Cinta membawa harapan, namun juga kecewa turut ikut di belakang.

Selanjutnya, timbul pertanyaan apakah wajar jika seseorang takut untuk kembali jatuh hati kepada seseorang? kemudian memilih menutup perasaan sepenuhnya, meskipun terkadang ada kesempatan di depan mata.

Menurutku, hal tersebut wajar dan sangat manusiawi. Banyak orang pernah terluka, pernah merasa kehilangan atau pernah sangat kecewa, sampai akhirnya mereka membangun “tembok” di sekelilingnya. Hal itu mereka lakukan bukan karena tidak ingin mencintai atau dicintai, tapi karena mereka takut merasakan sakit yang sama lagi. Kadang rasa takut itu begitu kuat sampai rasanya lebih mudah dan terasa lebih aman untuk tetap memilih diam, menyembunyikan perasaan dan membiarkan kesempatan lewat begitu saja.

Menutup hati bukan tanda bahwa kita mahluk yang lemah, melainkan ini merupakan bentuk mekanisme perlindungan diri. Meskipun, perlindungan ini tetap memiliki risiko.

Saat seseorang pernah terluka, kehilangan, atau dikecewakan, alam bawah sadar mereka akan belajar untuk melindungi diri dari potensi rasa sakit yang pernah mereka alami sebelumnya. Dengan cara menahan diri untuk tidak terlalu terbuka, tidak mudah percaya atau bahkan menghindari kedekatan emosional dengan orang lain.

Paling tidak, langkah ini dapat memulihkan luka serta menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Namun, jika tembok tersebut dibiarkan berdiri kokoh terlalu lama dapat menjadi penghalang untuk sebuah kebahagian dan kehangatan yang mungkin siap menyapa di depan.

Pada akhirnya, hanya orang itu sendiri yang dapat memutuskan kapan siap untuk kembali membuka hati. Tidak ada yang benar atau salah, hanya menunggu apakah keberanian akan tumbuh, serta menanti kesempatan yang datang akan menuntut kita untuk siap, meski kita kerap tidak pernah benar-benar siap.

Lalu, bagaimana menurutmu? Apakah menutup hati merupakan hal yang wajar?