Dalam sebuah ruang yang riuh, di mana suara obrolan dan suara musik saling berebut adu. Ada 1 suara obrolan yang berhasil aku curi malam ini, ditemani secangkir Gayo Wine yang baru saja menghampiri.

Tepatnya, di meja belakangku. Terdapat sepasang manusia yang sepertinya bukan sepasang kekasih. Tetapi membicarakan perihal hati begitu intim. Otakku memproduksi asumsi. Pertama, mungkin mereka sepasang teman yang sedang berkeluh kesah. Kedua, mungkin juga sepasang teman yang terjebak rasa namun terhalang tembok pertemanan. Untuk asumsi yang kedua, aku yakin yang terjebak rasa pasti hanya salah satu dari mereka, tidak keduanya.

Dan benar, selama aku mencuri dengar, obrolan mereka berisi tentang rasa yang bertepuk sebelah tangan. Teman Pria tengah sibuk mendominasi suasana, menceritakan bagaimana rasa yang dia simpan selama mereka berteman.

Dia pun memulainya dengan kalimat “kita sudah dewasa, perihal rasa bukan lagi tentang kata yang diucapkan oleh rasa tersebut. Kita sudah sepatutnya paham cara kerja perasaan, yaitu mengucapkannya melalui semua hal yang terjadi di antara kita”.

Lalu dia melanjutkan “perihal rasa tentangmu, ibarat membangun semesta baru yang sebelumnya pernah aku hancurkan dan tak mau aku bangun lagi dan semua berubah ketika aku bertemu denganmu, semangatku berapi-api untuk membangun semesta baru. Sampai aku sadar bahwa ada sesuatu yang membatasi, namun semesta sudah keburu aku bangun. Semesta yang kali ini aku bangun tidak akan aku hancurkan lagi karena aku lelah untuk terus membangun dan menghancurkannya berkali-kali. Biarkan semesta kali ini tetap terbangun dengan aku yang terjebak di dalamnya, dan sengaja di semesta kali ini aku sudah menghilangkan pintu dan jendela agar tidak ada jalan keluarnya. Aku biarkan waktu saja yang akan menghancurkan semesta baru ini beserta isi-isinya.” 

Di tengah gigihnya aku mencuri dengar, ada suara musik yang tak asing mulai mencoba untuk merusak konsentrasi telingaku. Hingga aku melupakan mereka dan ikut bersenandung atas musik yang berhasil mencuri perhatianku. Sial, sang pencuri malah tercuri.

Ketika aku mulai sadar perhatianku dicuri oleh musik yang tak asing ku dengar. Telingaku mulai kembali untuk berkonsentarsi di meja belakang. Terdengar hentakan kaki, terlihat Teman Pria berdiri seperti ingin mengucapkan kalimat perpisahan mereka di hari itu “Tenang, santai saja. Semua yang bertemu pasti akan berpisah, sama seperti kita, kapan saja bisa terjadi. Tinggal lihat waktunya saja, cepat atau lambat. Terimakasih sudah mengajarkan keikhlasan tanpa harus mengucapkan. Tidak apa-apa kalau hasilnya sia-sia, karena tulus seharusnya tak mengharapkan apa-apa.”

Aksi curi dengar pun berakhir, Teman Pria pergi meninggalkan Teman Wanita tanpa ekspresi sedih sama sekali. Teman Wanita yang hanya berdiam diri di saat curi dengar beraksi tampak beranjak pergi dari kedai kopi yang semakin disekaki manusia. Dari apa yang sampaikan Teman Pria tadi, aku mendapatkan satu pandangan baru perihal hidup untuk cukup dan bahagia jangan terlalu sulit ataupun terlalu tinggi, sederhana saja. Seperti cukup dengan sendiri dan bahagia dengan kesendirian.

Aku pun ikut beranjak keluar meninggalkan meja dan sisa-sisa tetesan kopi yang tak ku minum dengan khidmat karena sibuk mencuri. Malam semakin menujukkan dirinya, manusia-manusia terus berdatangan. Aku yang habis mendengarkan orasi singkat dari Teman Pria mencoba mencari jalan untuk mulai hidup bahagia dengan kesendirian.