Terkadang, aku bingung. Perlukah kita menunjukkan rasa kesal kepada seorang teman atas sikapnya yang telanjur membuat kita kehilangan respek, atau sebaiknya diam saja dan membiarkan semuanya berlalu?

Semua bermula dari sebuah pesan sederhana di aplikasi hijau, pada suatu malam ketika hujan turun begitu deras. Pesan dari seorang teman lama yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba. Aku sempat bertanya-tanya, ada apa gerangan?

Ternyata, ia datang membawa cerita yang tidak sederhana.

Tanpa banyak basa-basi, ia mengabarkan bahwa dirinya sedang mengandung anak dari pacarnya. Masalahnya, sang pacar tidak bersedia bertanggung jawab. Malam itu, ia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Seseorang yang bisa diajak bicara ketika keadaan terasa begitu buntu.

Lalu, percakapan kami berkembang ke berbagai arah. Mulai dari bagaimana membuat pasangannya bersedia bertanggung jawab, hingga kemungkinan mengakhiri kehamilan. Ia bertanya tentang manfaat nanas muda, jenis obat yang bisa dikonsumsi, dan berbagai hal lain yang terus terang berada di luar pengetahuanku.

Aku bukan dokter. Bukan pula orang yang punya pengalaman atau keahlian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Jadi, mengapa aku?

Apakah ia mengira aku tahu banyak tentang hal-hal tersebut? Atau justru ada asumsi lain yang tidak pernah terucap? Entahlah. Bisa jadi, malam itu aku hanyalah satu-satunya orang yang terpikir olehnya untuk diajak bicara.

Aku mencoba mendengarkan sebisaku. Setidaknya, di tengah kebingungan yang sedang ia hadapi, masih ada seseorang yang bersedia meluangkan waktu.

Meski begitu, ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku.

Bagaimana mungkin dua orang yang katanya saling mencintai bisa sampai pada keadaan seperti ini, tanpa benar-benar siap menghadapi konsekuensi dari apa yang mereka lakukan?

Ketika kutanya mengapa pasangannya menolak bertanggung jawab, jawabannya sederhana: belum siap.

Belum siap.

Aku jadi berpikir, memangnya ada manusia yang benar-benar siap menghadapi semua kemungkinan dalam hidup? Barangkali tidak. Namun, bukankah setidaknya kita bisa belajar untuk berpikir sebelum bertindak? Memahami risiko sebelum mengambil keputusan, lalu mencari jalan keluar ketika risiko itu benar-benar datang mengetuk pintu.

Kita memang tidak bisa mengendalikan semua hal. Tetapi, bukan berarti kita boleh sepenuhnya mengabaikan kemungkinan yang sejak awal seharusnya bisa dipertimbangkan.

Waktu terus berjalan. Sampai akhirnya, ia mengabarkan bahwa dirinya memilih jalan terakhir: mengakhiri kehamilannya.

Aku tidak tahu seluruh pertimbangan yang ada di balik keputusan itu. Aku juga tidak berada di posisinya untuk memahami setiap ketakutan, tekanan, dan kebingungan yang ia hadapi. Namun, malam itu, aku tahu bahwa ia sedang berada dalam keadaan yang sangat sulit.

Dan aku mendengarkan.

Aku mendengarkan ketika ia mencaci pasangannya. Aku mendengarkan ketika ia berulang kali menceritakan kekecewaannya. Bahkan, ketika ia bersikeras meminta telepon pada sepertiga malam, aku tetap mengangkatnya.

Ah, lagi-lagi. Satu kehidupan yang bahkan belum sempat mengenal dunia harus berakhir sebelum waktunya. Semua bermula dari sebuah malam yang mungkin bagi kedua orang tuanya terasa seperti ungkapan cinta, tetapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.


Ironis, ya. Sesuatu yang dilakukan atas nama cinta justru berujung pada sebuah keputusan yang begitu berat. Dan di tengah semua itu, ada kehidupan yang keberadaannya bahkan belum sempat menyapa dunia.

Malam itu, waktu tidurku habis untuk mendengarkan tangisnya yang tak kunjung reda. Besok paginya, aku tetap harus bersiap berangkat kerja, membawa kantuk yang belum sempat terbayar dan rutinitas yang tidak bisa menunggu siapa pun selesai menghadapi masalahnya.

Tidak masalah, pikirku. Toh, teman sedang kesulitan. Kalau bukan sekarang kita mendengarkan, kapan lagi?

Setelah pesan terakhir tentang keputusannya itu, percakapan kami perlahan berhenti. Tidak ada kabar baru selama berbulan-bulan.

Sampai suatu hari, aku melihatnya sendiri.

Di sebuah pusat perbelanjaan di kota ini, tepatnya di arena permainan, aku melihat mereka kembali bersama. Ya, dia dan laki-laki yang beberapa bulan sebelumnya menjadi tokoh utama dalam cerita panjang tentang kekecewaan, tangis, dan ketidakbertanggungjawaban.

Aku sempat berpikir, mungkin mereka hanya kebetulan bertemu. Aku berusaha mencari penjelasan yang paling masuk akal, sebab siapa tahu memang ada hal-hal yang tidak kuketahui.

Namun, semakin kupikirkan, semakin sulit rasanya untuk tidak mengingat percakapan malam itu. Bagaimana ia memaki-maki laki-laki tersebut, bagaimana ia meminta didengarkan sampai larut malam, dan bagaimana aku harus menjalani hari berikutnya setelah semalaman menjadi tempat menampung segala keluh kesahnya.

Kini, mereka justru terlihat menghabiskan waktu bersama di sebuah arena permainan.

Lucu juga, ya.

Beberapa waktu kemudian, kabar tentang mereka kembali kudengar dari seorang teman. Kali ini, ketika aku sedang duduk di sebuah kedai kopi dalam gedung tua, tak jauh dari lapangan yang revitalisasinya seolah tak kunjung menemukan garis finis meskipun sudah sempat diadakan upacara peresmian.

Aku tidak tahu cerita lengkap di balik hubungan mereka sekarang. Bisa jadi, mereka sudah berdamai. Bisa jadi, ada hal-hal yang telah berubah. Bisa jadi pula, hubungan manusia memang sesederhana itu: hari ini saling membenci, besok kembali mencari.

Dan tentu saja, itu hak mereka.

Namun, ada satu hal yang tetap mengganjal bagiku.

Bukan karena mereka kembali bersama. Bukan pula karena aku merasa berhak mengatur bagaimana seseorang harus menjalani hubungannya.

Yang mengganjal adalah ingatanku sendiri tentang malam-malam itu. Tentang waktu yang kulonggarkan, jam istirahat yang kugunakan untuk mendengarkan ceritanya, dan tidur yang kukorbankan demi menjadi seseorang yang bisa ia hubungi ketika dunianya terasa berantakan.

Aku tidak pernah meminta balasan atas semua itu. Tidak pula berharap ia harus terus mengingat jasaku setiap kali kami bertemu.

Aku hanya tidak menyangka bahwa pengalaman yang begitu serius bagiku sebagai seorang pendengar ternyata bisa menjadi sesuatu yang begitu jauh dari kehidupan kami setelahnya.

Mungkin, baginya, aku memang hanya tempat bercerita pada satu fase yang sulit. Ketika fase itu berakhir, hidup kembali berjalan seperti biasa. Tidak ada yang salah dengan itu.

Hanya saja, sebagai orang yang ikut mendengarkan dan menyaksikan betapa beratnya malam-malam tersebut, aku butuh waktu untuk mencerna kenyataan bahwa semuanya ternyata bisa kembali seperti semula.

Di situlah letak rasa kesalku.

Bukan pada keputusan yang mereka ambil setelahnya, melainkan pada perasaan aneh ketika menyadari bahwa aku telah memberikan begitu banyak perhatian kepada sebuah cerita yang ternyata tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari hidupku.

Seolah tertipu.

Bukan kehilangan uang, tentu saja. Melainkan kehilangan waktu tidur, waktu istirahat, dan sedikit ketenangan yang ternyata tidak bisa diminta kembali.

Haha.

Mungkin memang begitu salah satu risiko menjadi tempat bercerita. Kita bisa ikut memikirkan masalah seseorang sampai larut malam, sementara ketika matahari terbit, kita harus kembali menjadi orang biasa yang menjalani hidupnya sendiri.

Kita mendengarkan seolah sedang membantu seseorang melewati badai. Padahal, kita tidak pernah tahu apakah setelah badai itu berlalu, orang tersebut akan mengingat siapa yang menemaninya berteduh.

Dan mungkin, memang tidak harus.

Sebab empati bukanlah utang yang wajib dibayar. Mendengarkan bukan berarti kita berhak menentukan keputusan seseorang. Kita juga tidak bisa menuntut orang lain untuk terus menjadi seperti versi dirinya yang kita kenal ketika sedang kesusahan.

Namun, barangkali kita tetap boleh merasa kecewa.

Boleh merasa bahwa waktu dan perhatian yang kita berikan ternyata meninggalkan rasa yang tidak menyenangkan. Boleh mengambil jarak, bukan untuk menghukum siapa pun, melainkan untuk menjaga diri sendiri agar tidak terus-menerus menjadi tempat singgah bagi masalah yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita.

Tentang mereka, biarlah mereka menjalani hidupnya sendiri.

Tentang aku, mungkin sudah waktunya belajar bahwa menjadi pendengar yang baik bukan berarti harus selalu tersedia, kapan pun seseorang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, kita pun punya hidup yang perlu dijaga. Punya waktu istirahat yang berharga. Punya batas yang kadang baru kita sadari setelah terlalu jauh memberikan ruang bagi orang lain.

Lalu, apakah ini sebuah contoh dari diksi “cinta buta?”

Entahlah.

Mungkin cinta memang bisa membuat seseorang kembali kepada orang yang pernah menyakitinya. Mungkin pula manusia punya caranya sendiri untuk berdamai dengan keputusan yang pernah diambilnya.

Namun, untuk urusan empati, aku rasa ada satu hal yang perlu kuingat baik-baik: kita boleh membantu seseorang melewati malam yang paling buruk dalam hidupnya, tetapi kita tidak harus ikut kehilangan malam-malam kita sendiri.

Dan jika suatu hari seseorang kembali datang membawa cerita yang sama rumitnya, mungkin aku masih akan mendengarkan. Hanya saja, kali ini, aku akan belajar mengenali batas antara peduli dan membiarkan diriku sendiri kelelahan.

Sebab ternyata, tidak semua cerita yang kita dengarkan harus kita bawa pulang.