Kemarin sore, di sebuah coffee shop tempat aroma kopi bercampur samar dengan bau kotoran kuda, aku bertemu teman lama. Terakhir kami bertemu sekitar 2019. Sudah cukup lama untuk membuat banyak hal berubah, tapi ternyata tidak untuk satu hal, cara dia memandang hidupnya sendiri.
Obrolan kami mengalir ke mana-mana, seperti biasa. Tentang usia kepala tiga, tentang hidup yang makin kompleks, tentang realita yang tidak lagi bisa ditertawakan semudah dulu. Sampai kemudian aku berhenti di satu titik, saat dia mulai bercerita soal kondisinya.
Sebenarnya ini bukan cerita baru. Dari dulu aku sudah tahu. Dulu juga aku sering menganggap enteng setiap kali dia mengatakannya. Tapi sekarang, setelah bertahun-tahun yang berubah hanya satu, kondisinya makin parah. Cara berpikirnya? Tetap sama.
Dia bilang, dengan tenang namun dingin,
“Keputusanku untuk tetap sendiri itu benar. Aku punya bom waktu di tubuhku. Bisa meledak kapan saja. Aku nggak mau nyusahin orang lain.”
Bom waktu itu, jantungnya.
Irama jantungnya kacau. Kadang lambat, lalu melambat sekali, lalu tiba-tiba melonjak cepat. Bukan cuma soal angka di alat medis, itu terasa langsung di tubuhnya. Tidak nyaman. Mengganggu. Menakutkan, kalau mau jujur membayangkannya.
Dulu dia rutin memeriksakan diri. Sekarang? Dia memilih abai. Entah karena lelah, entah karena merasa percuma, atau mungkin dia merasa sudah “berdamai”. dan untuk alasan terakhir benar-benar mengganggu.
Tapi berdamai dengan detak jantung yang bisa sewaktu-waktu mengkhianati tubuh sendiri? Kedengarannya bukan damai. Kedengarannya seperti menyerah.
Kemarin, di pertemuan itu, dia cerita kondisi terbarunya. Setelah kopi kedua hari itu, dadanya mulai nyeri. Nyeri itu menjalar sampai ke siku kiri. Hari sebelumnya juga sama setelah kopi ketiga, meski belum sampai menjalar ke siku.
Dan yang lebih parah, sampai hari ini, rasa itu belum hilang. Justru makin mengganggu. Tidurnya kacau. Detak jantungnya tetap tidak beraturan. Nyeri itu masih tinggal katanya.
Aku sudah bilang berkali-kali untuk periksa. Jangan tunggu. Jangan anggap ini biasa.
Jawabannya tetap sama. Singkat. Ringan. Menghindar.
“Nantilah.”
Jawaban yang terlalu sering diulang sampai kehilangan makna.
Dan di titik itu, aku sadar satu hal bahwa kondisinya bukan cuma memperburuk fisiknya, tapi juga menguatkan keyakinannya untuk hidup sendiri. Bukan karena dia tidak ingin ditemani. Tapi karena dia sudah memutuskan untuk lebih baik menanggung semuanya sendiri daripada berisiko “merepotkan” orang lain saat bom waktu itu benar-benar meledak.
Masalahnya, hidup bukan soal merepotkan atau tidak. Tapi dia sudah memilih melihatnya sesederhana itu.
Dan mungkin, itu yang paling sulit diubah.