Mungkin, pernahkah kau berpikir bahwa sejak awal pertemuan kita, sebenarnya aku tidak sekadar ingin berkenalan denganmu?
Sebenarnya, aku sedang berusaha mengajarkanmu cara terbang.
Bukan terbang seperti burung yang mengepakkan sayap. Bukan pula seperti pesawat bermesin yang memecah langit dengan suara bisingnya. Aku ingin mengajakmu terbang melampaui atmosfer, meninggalkan segala hal yang selama ini mengikatmu pada bumi.
Sebab bumi terlalu gaduh.
Di sana, manusia sering kali sibuk mengejar ambisi hingga lupa menikmati apa yang sudah mereka miliki. Mereka berlari tanpa henti, saling mendahului, saling menabrakkan keinginan, seolah hidup adalah perlombaan yang tidak pernah mengenal garis akhir.
Karena itu, aku ingin mengajakmu pergi. Sebuah perjalanan yang jauh.
Sebelum berangkat, izinkan aku memperkenalkanmu kepada seorang teman lama. Sebuah bintang yang tidak banyak bicara, namun selalu tahu arah pulang.
Kemudian kita pun melaju. Menembus lapisan demi lapisan langit hingga bumi perlahan terlihat mengecil di belakang kita.
Di perjalanan, kau akan menyaksikan aurora kosmik menari seperti tirai cahaya raksasa yang terbentang di antara gugusan bintang. Warnanya berubah setiap detik hijau, biru, ungu, lalu keemasan. Seolah semesta sedang melukis tanpa pernah kehabisan warna.
Tak lama kemudian, kita tiba di hadapan Nebula Orion.
Hamparan awan raksasa berwarna biru dan ungu itu tampak seperti lautan yang mengambang di tengah kehampaan. Di sanalah bintang-bintang muda dilahirkan. Mereka baru belajar bersinar, baru belajar menjadi cahaya bagi kegelapan yang begitu luas.
Di tengah perjalanan, hujan meteor melintas begitu dekat.
Ribuan batu langit berpijar membelah gelap, meninggalkan jejak-jejak cahaya panjang yang perlahan menghilang di kejauhan. Saat itu kau terdiam. Untuk pertama kalinya, kau menyadari bahwa keindahan tidak selalu membutuhkan penjelasan.
Di kejauhan, cincin Saturnus berkilau seperti gelang perak yang melingkari tangan semesta. Sementara galaksi-galaksi berputar perlahan, seakan waktu sendiri sedang berjalan lebih lambat dari biasanya.
Sepanjang perjalanan, aku tidak banyak berbicara.
Aku membiarkanmu menikmati semua pemandangan yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Sebab beberapa hal memang terlalu megah untuk dirusak oleh percakapan. Ada keindahan yang lebih baik dibiarkan berbicara untuk dirinya sendiri.
Dan kemudian, bulan mulai terlihat.
Bukan sebesar yang biasa kau lihat dari jendela kamar. Bukan pula sekecil titik cahaya yang tampak dari bumi. Ia hadir sebagai sebuah dunia yang utuh. Sunyi. Tenang. Jauh dari segala keramaian yang selama ini membuat manusia lelah.
Kita telah sampai di tujuan. Untuk pertama kalinya, aku mengajakmu hidup dalam kesunyian yang ramah.
Di sana tidak ada suara klakson. Tidak ada tuntutan. Tidak ada perlombaan. Hanya kita, dan cahaya bumi yang tampak jauh di kejauhan seperti lampu kecil yang sengaja ditinggalkan.
Di atas tanah bulan, aku coba mengajakmu menikah dengan hujan sebagai penghulunya. Terserah entah darimana asalnya yang pasti butiran-butiran air yang jatuh juga akan ikut menjadi saksi.
Dan aku berhasil mewujudkan sebuah lagu yang begitu sering menemani hari-hariku semasa kuliah. Lagu milik Frau berjudul Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa. Kita lah yang menjadi pasangan itu!