Manifesto Melankolia

Aku terkadang malu dengan apa yang kutulis sendiri. Aku hanya merasa bahwa setiap kali menulis sesuatu, ada bagian dari diriku yang terasa terlalu terbuka. Terlalu sentimentil. Terlalu banyak perasaan yang seharusnya tidak perlu diumbar kepada siapa pun.

Aku bisa menghabiskan waktu cukup lama untuk menyusun beberapa paragraf, membacanya berulang kali, memperbaiki pilihan kata, lalu berakhir pada satu keputusan yang paling sering kuambil: tidak memublikasikannya.

Kuhapus, kusimpan, atau kubiarkan tenggelam di antara catatan-catatan lain yang mungkin tidak akan pernah dibaca siapa pun.

Lucunya, aku sendiri tidak benar-benar tahu apa yang kutakutkan.

Mungkin aku takut dianggap berlebihan. Mungkin aku takut orang lain menganggapku sedang mencari perhatian. Atau mungkin aku hanya belum cukup percaya diri untuk menunjukkan bahwa di balik caraku berbicara yang kaku dan terkadang formal, ada kepala yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Jujur, aku tidak tahu.

Aku hanya tahu bahwa menulis sesuatu untuk diri sendiri terasa jauh lebih mudah daripada membiarkan orang lain membacanya.

Barangkali begitulah menjadi melankolis. Atau barangkali aku hanya terlalu sering menggunakan kata melankolis untuk menjelaskan hal-hal yang belum kupahami tentang diriku sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, aku bukan orang yang selalu berbicara dengan kalimat puitis. Aku tidak berjalan sambil memikirkan hujan, senja, dan kesepian setiap saat. Aku juga tidak menghabiskan seluruh waktuku untuk meratapi sesuatu yang sudah berlalu.

Aku bekerja. Membalas pesan. Menyelesaikan urusan. Berbicara seperlunya. Menjalani hari sebagaimana orang lain menjalani hari mereka. Namun, entah mengapa, caraku berkomunikasi kerap dianggap dingin.

Beberapa kali aku disebut ketus dan jutek hanya karena cara menyampaikan sesuatu yang menurutku biasa saja. Sebuah kalimat pendek bisa dianggap sebagai tanda kemarahan. Balasan yang formal bisa ditafsirkan sebagai ketidaksukaan. Bahkan, mungkin, tanda titik di akhir kalimat pun bisa menjadi perkara tersendiri.

Padahal, aku tidak sedang marah. Aku hanya sedang membalas pesan. Aku tidak sedang menjaga jarak. Aku hanya sedang berbicara sebagaimana biasanya.

Tentu, aku paham bahwa komunikasi bukan sekadar persoalan apa yang ingin disampaikan, melainkan juga bagaimana orang lain menerimanya. Aku mengerti bahwa bahasa memiliki nada, bahkan ketika tidak ada suara yang menyertainya. Aku pun tidak menganggap diriku selalu benar dalam menafsirkan atau menyampaikan sesuatu.

Tetapi terkadang aku lelah harus menjelaskan bahwa tidak semua kalimat pendek menyimpan kemarahan, tidak semua sikap diam mengandung kebencian, dan tidak semua orang yang kesulitan menunjukkan kehangatan berarti tidak memilikinya.

Aku tidak selalu tahu bagaimana cara membuat orang lain merasa nyaman melalui kata-kata. Aku tidak selalu pandai membungkus kalimat dengan basa-basi agar terdengar lebih ramah.

Namun, apakah itu berarti aku tidak memiliki perasaan? Apakah seseorang harus selalu terdengar hangat agar dipercaya memiliki hati?

Aku mulai menyadari bahwa dunia memiliki caranya sendiri dalam menilai manusia. Sebagian orang dinilai dari senyumnya, sebagian dari keramahannya, sebagian lagi dari kemampuannya membuat orang lain merasa diterima.

Sementara itu, ada orang-orang yang barangkali hanya ingin menyampaikan sesuatu tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

Aku tidak tahu apakah aku termasuk kelompok terakhir. Namun, aku tahu bahwa aku sering kali merasa lebih lelah menjelaskan maksudku daripada menyampaikan maksud itu sendiri.

Lalu, ada persoalan lain yang sedikit lebih sulit kujelaskan: tulisanku sendiri.

Ketika berbicara, aku bisa begitu formal hingga dianggap dingin. Ketika menulis, aku justru bisa begitu melankolis hingga merasa malu terhadap diriku sendiri.

Seolah-olah aku memiliki dua cara yang bertolak belakang untuk menyembunyikan sesuatu.

Dalam percakapan sehari-hari, aku menyederhanakan kalimat. Dalam tulisan, aku justru memperpanjang perasaan.

Aku bisa membalas pesan dengan beberapa kata, tetapi menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak pernah kutanyakan kepada siapa pun.

Aku bisa terlihat biasa saja di hadapan orang lain, lalu pulang dan memikirkan hal-hal yang mungkin sudah lama mereka lupakan.

Aku bisa mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, bukan karena sedang berbohong, melainkan karena aku sendiri belum menemukan kalimat yang cukup tepat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya kurasakan.

Dan ketika akhirnya berhasil menuliskannya, aku malah merasa malu.

Mungkin karena tulisan membuat sesuatu yang abstrak menjadi nyata. Perasaan yang sebelumnya hanya berputar di kepala kini memiliki bentuk, susunan, dan pilihan kata. Aku bisa membacanya kembali dan melihat betapa seriusnya aku memikirkan sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak begitu penting.

Aku kemudian bertanya kepada diri sendiri, untuk apa semua ini ditulis? Siapa yang perlu tahu? Apa gunanya memublikasikan sesuatu yang begitu personal ketika orang lain bahkan belum tentu peduli?

Pertanyaan-pertanyaan itu cukup untuk membuatku mengurungkan niat. Namun, ada satu hal yang selalu menggangguku: jika aku memang tidak ingin orang lain membacanya, mengapa aku menulisnya dengan begitu sungguh-sungguh?

Barangkali ada bagian dari diriku yang ingin didengar, meskipun aku sendiri tidak cukup berani untuk bersuara.

Barangkali aku ingin seseorang membaca tulisanku dan memahami sesuatu yang tidak pernah berhasil kusampaikan melalui percakapan. Atau mungkin aku hanya ingin meninggalkan bukti bahwa pada suatu waktu, aku pernah merasakan sesuatu dengan begitu dalam.

Aku tidak tahu. Lagi-lagi, aku tidak tahu.

Aku terkadang berpikir bahwa menjadi melankolis adalah persoalan yang sedikit merepotkan.

Bukan karena kesedihan selalu menjadi bagian dari hidupku. Bukan pula karena aku menganggap diriku lebih dalam daripada orang lain. Aku tidak percaya bahwa orang yang melankolis otomatis lebih peka, lebih bijaksana, atau lebih mampu memahami kehidupan.

Aku hanya merasa bahwa ada banyak hal yang berlangsung di dalam diriku yang tidak selalu menemukan jalan keluar dengan mudah.

Aku bisa memahami apa yang ingin kukatakan, tetapi kesulitan menentukan bagaimana cara mengatakannya.

Aku bisa mengetahui bahwa aku tidak sedang marah, tetapi tidak selalu tahu bagaimana meyakinkan orang lain tentang itu.

Aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan, tetapi tidak selalu berani membiarkan orang lain membacanya.

Mungkin masalahnya bukan karena aku memiliki terlalu banyak perasaan. Mungkin aku hanya belum menemukan cara yang tepat untuk berdamai dengan cara perasaan itu muncul dalam diriku.

Aku juga harus mengakui bahwa kata melankolis terkadang menjadi tempat persembunyian yang nyaman. Dengan menyebut diriku melankolis, aku bisa menjelaskan mengapa aku banyak berpikir, mengapa aku menyukai tulisan-tulisan reflektif, atau mengapa aku tidak selalu mudah mengekspresikan kehangatan.

Namun, label itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Aku tidak ingin menjadikan kepribadianku sebagai pembenaran atas setiap kesalahpahaman. Aku tidak ingin berlindung di balik sifat melankolis setiap kali caraku berkomunikasi membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Aku ingin belajar menjadi lebih mudah dipahami tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Aku ingin menulis dengan jujur tanpa terus-menerus meminta maaf atas apa yang kurasakan.

Dan, yang paling sulit, aku ingin berhenti menganggap bahwa memperlihatkan isi pikiranku kepada orang lain adalah sebuah kelemahan. Sebab, sejujurnya, aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus menyimpan tulisan-tulisan itu.

Mungkin karena itulah aku pernah berpikir untuk membentuk sebuah organisasi bawah tanah.

Bernama Sindikat Melankolia.

Aku membayangkan sebuah perkumpulan bagi orang-orang yang terlalu sering dianggap dingin, terlalu sering mengoreksi kalimatnya sendiri, dan terlalu sering menyimpan sesuatu yang sebenarnya ingin mereka katakan.

Sebuah perkumpulan yang tidak membutuhkan kartu anggota, seragam, ataupun kantor sekretariat. Tidak ada perekrutan terbuka. Tidak ada upacara pelantikan. Tidak ada kewajiban untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan mengapa seseorang layak menjadi bagian darinya.

Syarat keanggotaannya sederhana: pernah merasa bahwa dirinya tidak sepenuhnya dipahami, tetapi juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan dirinya sendiri.

Di dalamnya, seseorang boleh menulis tentang kesepian tanpa harus dianggap sedang meminta pertolongan. Boleh menggunakan kalimat formal tanpa dicap sombong. Boleh diam tanpa dicurigai sedang menyimpan kebencian. Boleh pula menulis sesuatu yang begitu sentimental tanpa perlu merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.

Kami tidak harus sepakat tentang segala hal. Kami tidak harus memiliki pengalaman hidup yang sama. Kami bahkan tidak harus selalu bersedih.

Kami hanya perlu memahami bahwa manusia tidak selalu sesederhana kesan pertama yang mereka berikan. Bahwa seseorang bisa terdengar dingin, tetapi tidak berniat menyakiti. Bahwa seseorang bisa terlihat tenang, tetapi membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Bahwa seseorang bisa menulis tentang sesuatu dengan begitu melankolis, lalu merasa malu ketika tulisannya selesai. Dan bahwa tidak semua yang sulit dijelaskan harus dianggap tidak masuk akal.

Tentu saja, Sindikat Melankolia mungkin hanya gagasan yang lahir dari kejenuhanku sendiri. Sebuah lelucon kecil untuk menertawakan kebiasaanku yang terlalu banyak berpikir. Aku tidak tahu apakah perkumpulan semacam itu benar-benar dibutuhkan.

Namun, setidaknya, gagasan itu memberiku satu hal yang selama ini jarang kuberikan kepada diriku sendiri: kesempatan untuk tidak merasa aneh sendirian.

Dan jika di antara kalian ada yang merasa menemukan sedikit bagian dari dirinya dalam tulisan ini, barangkali kita memang perlu saling memberi kabar. Aku tidak tahu siapa kalian, di mana kalian berada, atau berapa banyak hal yang selama ini kalian simpan sendirian.

Namun, jika gagasan tentang Sindikat Melankolia ini menarik perhatian kalian, mari saling menyapa. Kita bisa bertukar cerita, berbagi tulisan, atau sekadar membicarakan hal-hal yang mungkin sulit kita jelaskan kepada orang lain.

Tidak perlu terburu-buru membangun perkumpulan besar atau merumuskan manifesto yang muluk-muluk. Barangkali, semuanya bisa dimulai dari percakapan sederhana antara orang-orang yang sama-sama ingin dipahami tanpa harus menjelaskan dirinya terlalu panjang.

Jika kalian tertarik, beri aku kabar.

Pada akhirnya, aku tidak ingin menghabiskan seluruh hidupku dengan menganggap bahwa ada sesuatu yang salah dengan diriku hanya karena aku tidak selalu bisa mengekspresikan diri sebagaimana orang lain.

Aku tidak ingin terus-menerus mengedit kepribadianku agar sesuai dengan ekspektasi setiap orang yang kutemui.

Aku juga tidak ingin menggunakan kata melankolis sebagai gelar kehormatan, seolah-olah kesedihan dan kerumitan pikiran membuat seseorang menjadi lebih istimewa daripada manusia lainnya.

Aku hanyalah seseorang yang terkadang terlalu banyak berpikir, terlalu berhati-hati memilih kata, dan terlalu sering meragukan sesuatu yang sebenarnya ingin ia lakukan.

Aku bisa keliru. Aku bisa menyakiti orang lain tanpa sengaja. Aku bisa menulis sesuatu yang buruk dan memalukan. Aku bisa berubah pikiran setelah membaca kembali apa yang pernah kutulis.

Itu semua tidak membuatku kurang layak menjadi diriku sendiri.

Barangkali aku memang perlu belajar berbicara dengan lebih hangat. Barangkali aku perlu belajar menerima bahwa tidak semua tulisan harus sempurna sebelum dipublikasikan. Barangkali aku juga perlu belajar bahwa kerentanan bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan.

Jika suatu hari Sindikat Melankolia benar-benar berdiri, aku ingin organisasi itu memiliki satu prinsip yang sederhana: kami tidak berkumpul untuk meratapi diri sendiri, melainkan untuk berhenti memperlakukan diri sendiri sebagai sesuatu yang memalukan.

Kami boleh melankolis, tetapi kami tidak harus menjadi tawanan dari kemelankolisan kami sendiri. Kami boleh berhati-hati dalam berbicara, tetapi kami tetap harus belajar mendengarkan. Kami boleh menyimpan tulisan, tetapi kami juga berhak membiarkannya dibaca.

Dan jika suatu hari seseorang mengatakan bahwa kami terlalu dingin, terlalu formal, atau terlalu melankolis, mungkin kami tidak perlu langsung menyangkalnya. Kami cukup memeriksa diri, memperbaiki apa yang memang perlu diperbaiki, lalu melanjutkan hidup.

Mungkin, dengan menulis semua ini, aku sebenarnya sedang mencoba mendobrak sesuatu yang selama ini kubangun sendiri. Aku terlalu sering membayangkan bagaimana orang akan membaca tulisanku, bagaimana mereka menilainya, dan apakah mereka akan menganggapku berlebihan.

Aku bahkan kerap membiarkan kemungkinan-kemungkinan itu menghentikanku sebelum siapa pun sempat membaca satu kalimat pun.

Namun, sampai kapan aku akan terus membiarkan pendapat yang bahkan belum tentu ada menentukan apa yang boleh dan tidak boleh kuungkapkan?

Barangkali sudah waktunya aku mendobrak ketakutan itu. Bukan karena aku mendadak tidak peduli pada penilaian orang lain, melainkan karena aku tidak ingin selamanya hidup di bawah bayang-bayangnya. Aku ingin belajar menerima bahwa tulisanku mungkin tidak disukai, mungkin disalahpahami, atau mungkin tidak dianggap penting oleh siapa pun. Dan itu tidak apa-apa.

Aku ingin menjadikan tulisan ini sebagai sebuah tonggak, sebuah penanda bahwa aku pernah memutuskan untuk melawan ketakutanku sendiri sebagai seorang melankolis.

Bukan dengan menyangkal siapa diriku, bukan pula dengan berpura-pura menjadi seseorang yang lebih berani, melainkan dengan menerima bahwa keraguan akan selalu ada, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus bersembunyi.

Aku tidak ingin kemelankolianku menjadi penjara yang kubangun dari prasangka terhadap penilaian orang lain. Aku ingin menulis, menyelesaikan tulisanku, lalu membiarkannya dibaca tanpa harus terlebih dahulu meminta izin kepada rasa takutku sendiri.

Jadi, kali ini, aku ingin memublikasikan tulisan ini. Bukan untuk membuktikan bahwa aku seorang penulis yang hebat, bukan pula untuk mencari pengakuan atas kemelankolianku. Aku hanya ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku bisa melangkah meskipun masih takut.

Bahwa keberanian bukan berarti tidak lagi meragukan diri sendiri, melainkan memilih untuk tetap melangkah meski keraguan itu belum selesai. Dan jika kelak aku kembali merasa malu atau ingin menarik tulisanku ini, setidaknya aku akan ingat bahwa pernah ada satu hari ketika aku memilih untuk tidak lagi tunduk pada ketakutanku sendiri.

Aku sadar tulisan ini cukup panjang dan mungkin melelahkan untuk dibaca di tengah kesibukan kalian. Barangkali ada hal lain yang lebih layak mendapat perhatian daripada isi kepala seorang melankolis yang masih berusaha memahami dirinya sendiri.

Namun, jika kalian berhasil sampai di penghujung tulisan ini, terima kasih telah meluangkan waktu. Aku tidak tahu apakah ada bagian yang terasa dekat dengan pengalaman kalian atau justru akan segera terlupakan setelah halaman ini ditutup.

Apa pun itu, aku menghargai waktu yang telah kalian berikan. Setidaknya, selama beberapa menit tadi, aku tidak merasa sedang berbicara sendirian.