Author: Biru Abimanyu


  • Kemarin sore, di sebuah coffee shop tempat aroma kopi bercampur samar dengan bau kotoran kuda, aku bertemu teman lama. Terakhir kami bertemu sekitar 2019. Sudah cukup lama untuk membuat banyak hal berubah, tapi ternyata tidak untuk satu hal, cara dia memandang hidupnya sendiri.

    Obrolan kami mengalir ke mana-mana, seperti biasa. Tentang usia kepala tiga, tentang hidup yang makin kompleks, tentang realita yang tidak lagi bisa ditertawakan semudah dulu. Sampai kemudian aku berhenti di satu titik, saat dia mulai bercerita soal kondisinya.

    Sebenarnya ini bukan cerita baru. Dari dulu aku sudah tahu. Dulu juga aku sering menganggap enteng setiap kali dia mengatakannya. Tapi sekarang, setelah bertahun-tahun yang berubah hanya satu, kondisinya makin parah. Cara berpikirnya? Tetap sama.

    Dia bilang, dengan tenang namun dingin,
    “Keputusanku untuk tetap sendiri itu benar. Aku punya bom waktu di tubuhku. Bisa meledak kapan saja. Aku nggak mau nyusahin orang lain.”

    Bom waktu itu, jantungnya.

    Irama jantungnya kacau. Kadang lambat, lalu melambat sekali, lalu tiba-tiba melonjak cepat. Bukan cuma soal angka di alat medis, itu terasa langsung di tubuhnya. Tidak nyaman. Mengganggu. Menakutkan, kalau mau jujur membayangkannya.

    Dulu dia rutin memeriksakan diri. Sekarang? Dia memilih abai. Entah karena lelah, entah karena merasa percuma, atau mungkin dia merasa sudah “berdamai”. dan untuk alasan terakhir benar-benar mengganggu.

    Tapi berdamai dengan detak jantung yang bisa sewaktu-waktu mengkhianati tubuh sendiri? Kedengarannya bukan damai. Kedengarannya seperti menyerah.

    Kemarin, di pertemuan itu, dia cerita kondisi terbarunya. Setelah kopi kedua hari itu, dadanya mulai nyeri. Nyeri itu menjalar sampai ke siku kiri. Hari sebelumnya juga sama setelah kopi ketiga, meski belum sampai menjalar ke siku.

    Dan yang lebih parah, sampai hari ini, rasa itu belum hilang. Justru makin mengganggu. Tidurnya kacau. Detak jantungnya tetap tidak beraturan. Nyeri itu masih tinggal katanya.

    Aku sudah bilang berkali-kali untuk periksa. Jangan tunggu. Jangan anggap ini biasa.

    Jawabannya tetap sama. Singkat. Ringan. Menghindar.
    “Nantilah.”

    Jawaban yang terlalu sering diulang sampai kehilangan makna.

    Dan di titik itu, aku sadar satu hal bahwa kondisinya bukan cuma memperburuk fisiknya, tapi juga menguatkan keyakinannya untuk hidup sendiri. Bukan karena dia tidak ingin ditemani. Tapi karena dia sudah memutuskan untuk lebih baik menanggung semuanya sendiri daripada berisiko “merepotkan” orang lain saat bom waktu itu benar-benar meledak.

    Masalahnya, hidup bukan soal merepotkan atau tidak. Tapi dia sudah memilih melihatnya sesederhana itu.

    Dan mungkin, itu yang paling sulit diubah.

  • Di tengah malam, layar ponsel kembali menyala. Bukan notifikasi promo. Bukan pula kabar darurat. Pesan itu datang dari aplikasi hijau, dan dari seorang teman lama di seberang pulau.

    Pesan yang sederhana, tapi cukup membuatku untuk kembali bertarung menahan kantuk di malam itu.

    “Kau mungkin tidak akan percaya, tapi kali ini aku bertemu seseorang yang berhasil merobohkan tembok pertahanku.”

    Aku sempat mendengus kecil. Mengira ini hanya efek sisa alkohol yang biasa ia tenggak setiap akhir pekan. Siapa pula yang membahas tembok di tengah malam?

    Lalu pesan kedua masuk.

    “Setelah sekian lama aku bertahan sendiri, tembok ini pun akhirnya ada yang berhasil meruntuhkan.”

    Di titik itu aku paham, yang ia sebut tembok bukanlah beton, bukan pula besi. Melainkan lapisan-lapisan ketakutan yang ia bangun sendiri selama bertahun-tahun.

    Dulu, temanku ini pernah hancur. Benar-benar hancur.

    Bukan sekadar patah hati yang bisa sembuh dengan kopi dan lagu senja seperti kata mereka. Tapi jenis luka yang membuat seseorang memutuskan untuk lebih aman hidup sendirian.

    Ia mengunci pintu. Menutup jendela. Menjauh dari segala kemungkinan di tiap perkenalan. Bukan karena tidak ingin bahagia, melainkan karena terlalu paham bagaimana rasanya kehilangan.

    Aku pikir kabar tentang tembok yang runtuh seharusnya menjadi kabar baik. Ternyata tidak sesederhana itu. Baginya, membuka diri bukan berarti siap memiliki. Melainkan siap untuk kehilangan lagi.

    Ia bilang, membuka diri lagi hanyalah versi lain dari melatih diri untuk tidak ambruk ketika ditinggalkan kembali.

    Bukan sebuah penggalan romantis, bukan pula optimis. Melainkan jujur.

    Di tengah perasaan senang yang canggung dan takut yang tak bisa disangkal, ia sedang belajar satu hal: menerima apa pun bentuk akhirnya.

    Lalu pesan terakhirnya datang, dan pesan itu membuatku tertegun.

    “Aku tidak berteman dekat dengan harapan. Dengan perkenalan ini pun aku tidak berharap apa-apa. Aku hanya senang dipertemukan dengannya, seseorang yang berhasil membuatku luluh setelah bertahun-tahun bertahan. Aku bersyukur diberi kesempatan mengenalnya. Sekarang tugasku hanya satu yaitu membuatnya bahagia. Soal akhirnya bagaimana, terserah. Jika ia menghilang, aku siap. Jika aku harus kehilangan lagi, aku terima. Aku hadapi.”

    Tidak ada janji. Tidak ada rencana jangka panjang. Tidak ada kalimat “semoga selamanya”.

    Yang ada hanya keberanian kecil untuk berani hadir, berani tulus dan berani terluka lagi jika memang harus.

    Mungkin inilah bentuk kedewasaan paling sunyi. Bukan tentang memiliki.
    Melainkan tentang keikhalasan jika kembali menghadapi kehilangan.

    Dan entah kenapa, justru di cerita ini aku melihat keikhlasan yang paling manusiawi. Di satu sisi, temanku berani membuka diri untuk bangkit. Namun, di sisi lain juga siap untuk kembali mengelola diri jika jatuh kembali.

  • Tidak semua pernikahan gagal. Sebagian justru sukses menciptakan satu pemimpin dan satu pengikut, lalu menyebutnya cinta. Relasi semacam ini bekerja seperti akuisisi dalam dunia bisnis: satu pihak mengambil alih arah, keputusan, dan ritme hidup, sementara pihak lain perlahan melepas haknya untuk menentukan.

    Dalam dunia startup, akuisisi berarti satu pihak membeli, mengambil alih, dan menentukan arah. Identitas yang diambil boleh tetap dipajang di depan, tapi keputusan sudah bukan miliknya lagi. Anehnya, pola ini terasa sangat familiar dalam banyak rumah tangga. Satu pihak memimpin, yang lain menyesuaikan. Satu suara dianggap paling tahu, yang lain diminta percaya. Semua dibungkus rapi dengan kalimat-kalimat bernada perhatian: demi kebaikan, demi keluarga, demi masa depan.

    Awalnya terlihat wajar. Bahkan tampak dewasa. Tidak ada konflik terbuka, tidak ada pertengkaran berarti. Tapi di balik ketenangan itu, satu identitas mulai tergerus. Keputusan kecil tidak lagi dibicarakan. Pilihan hidup perlahan diarahkan. Hobi dianggap tidak penting, mimpi disebut tidak realistis, suara pelan-pelan kehilangan tempat. Tidak ada larangan keras, hanya penyesuaian yang terus diminta. Dan di situlah masalahnya, penyesuaian tanpa batas.

    Kita sering diajari bahwa pernikahan menuntut pengorbanan. Bahwa cinta berarti mengalah. Bahwa keutuhan rumah tangga lebih penting dari keinginan pribadi. Tapi jarang ada yang bertanya: mengalah sampai sejauh mana? Jika keutuhan hanya bisa dijaga dengan menghapus satu pihak, maka yang dipertahankan bukan hubungan, melainkan kuasa. Pernikahan berubah menjadi sistem satu arah yang rapi, stabil, namun hampa.

    Idealnya, pernikahan bukan akuisisi. Ia lebih mirip merger. Dua individu datang dengan identitas masing-masing, lalu menyepakati arah baru bersama. Ada kesadaran bahwa tidak ada yang “dibeli”, tidak ada yang “diambil alih” yang dibangun adalah entitas baru tanpa mematikan entitas masing-masing.

    Merger memang lebih ribet. Butuh komunikasi, kesediaan mendengar, dan keberanian untuk dikoreksi. Akuisisi jauh lebih cepat dan efisien. Tapi hubungan manusia bukan perusahaan yang mengejar efisiensi. Stabilitas yang lahir dari ketergantungan dan ketakutan tidak pernah benar-benar kuat. Ia hanya diam, menunggu retak.

    Ada kondisi tertentu ketika satu pihak perlu memegang kendali lebih kuat. Dalam situasi seperti itu, dominasi sementara bisa menyelamatkan. Tapi ia harus disadari sebagai fase, bukan sistem. Jika bantuan berubah menjadi kebiasaan mengatur, dan kebiasaan mengatur dianggap sebagai hak, maka relasi telah bergeser tanpa pernah disepakati.

    Tanda paling jujur dari pernikahan yang berjalan seperti akuisisi sebenarnya sederhana saja. Ketika satu orang harus mengecil agar hubungan tetap utuh. Ketika menjadi diri sendiri terasa berbahaya. Ketika kebahagiaan pribadi selalu ditunda demi stabilitas bersama yang sebenarnya timpang.

    Menikah bukan berarti menyerahkan hidup untuk dikelola orang lain. Menikah adalah menyatukan dua kehidupan yang sama-sama ingin tumbuh. Jika sebuah pernikahan hanya bisa bertahan dengan menghilangkan salah satu pihak, maka sejak awal itu bukan cinta yang setara. Itu pengambilalihan. Pada akhirnya, yang diambil alih runtuh secara emosional. Sang pengambil alih lalu menilai keruntuhan itu sebagai kegagalan pasangan, pergi, dan mencari relasi baru untuk kembali mengulang pengambilalihan yang sama.

  • Jika hidup diukur dengan pergantian musim, maka aku sudah melewati cukup banyak hujan dan kemarau. Cukup lama untuk paham bahwa kehilangan bukan peristiwa langka. Ia bukan tragedi tunggal. Ia berulang, datang pelan-pelan, lalu pergi tanpa merasa bersalah.

    Dalam pergantian musim itu, banyak yang sudah meninggalkan. Pasangan. Teman. Bahkan barang-barang yang dulu kusebut penting. Dan hari ini, di usia tiga puluhan, aku bisa mengatakan satu hal tanpa ragu: aku sudah sampai di tahap ikhlas.

    Silakan pergi.
    Pergi sejauh-jauhnya.
    Aku tidak akan mengejar. Tidak akan menahan. Tidak akan bertanya kenapa.

    Kecuali mama.

    Pada satu nama itu, semua kedewasaanku runtuh. Satu-satunya kehilangan yang sampai hari ini belum bisa kupikirkan tanpa sesak di dada.

    Aku bingung, jujur saja. Bingung bagaimana nanti caraku memitigasi kepiluan saat hari itu datang. Bahkan pernah terlintas ide paling pengecut sekaligus paling jujur, yaitu kabur. Menghilang. Tanpa kabar. Karena aku tahu, mungkin aku tidak sanggup menghadapinya.

    Tapi itu juga mustahil. Tak ada ruang untuk menghilang ketika orang tua pergi. Tak ada alasan untuk absen dari duka sebesar itu.

    Aku anak tunggal. Tidak ada saudara untuk saling menguatkan, tidak ada bahu yang punya ingatan masa kecil yang sama. Soal kesendirian, aku sudah profesional. Terlalu terlatih, bahkan.

    Sejak kecil aku terbiasa sendiri. Buku, game, dan gundam-gundam di rak sudah cukup menjadi teman. Kesepian bukan hal asing bagiku.

    Tapi ini berbeda. Ini bukan soal sendiri. Ini soal kehilangan satu-satunya tempat pulang yang benar-benar pulang.

    Aku belum tahu caranya. Belum tahu apakah setelah itu hidup masih bisa dilanjutkan atau hanya sekadar dijalani. Terdengar berlebihan, mungkin. Tapi aku tidak sedang mencoba puitis. Aku hanya jujur.

    Belakangan aku berpikir, mungkin memiliki pasangan bisa membantu. Setidaknya ada seseorang yang ikut menahan beban. Namun seperti yang bisa dibaca di tulisan-tulisan sebelumnya, menuju ke sana tidak sesederhana itu. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan. Terlalu banyak yang belum selesai.

    Maka untuk saat ini, pikiran itu hanya berhenti sebagai kemungkinan, bukan pegangan.

    Jujur, kepergian mama kelak terasa seperti kiamat versi pribadiku. Akhir dari dunia yang selama ini kukenal.

    Kehilangan lain tidak membuatku sekhawatir ini. Aku sudah terbiasa. Tapi untuk mama, tidak.

    Semua boleh pergi. Silakan. Benar-benar silakan. Tapi kecuali mama.

  • Dalam dunia game, AFK atau Away From Keyboard merupakan hal sederhana. Ketika lelah bermain Valorant, misalnya, alih-alih menjadi hiburan, game itu justru sering menambah stres. Saat aim sedang jelek dan bertemu tim toxic penuh trashtalk dari berbagai negara SEA, rasanya lebih mudah untuk meninggalkan keyboard, rebahan di kasur, menarik napas, dan tidak kembali pada calon “dead game” tersebut.

    Andai saja hidup sesederhana itu.

    Sialnya, di dunia nyata tidak ada tombol pause. Tidak ada ruang aman otomatis yang menunggu ketika beban terasa terlalu berat. Hidup terus bergerak, bahkan ketika kita sudah kehabisan tenaga.

    Pertanyaan “dapatkah kita AFK dari realita kehidupan ini?” terus bergumam di kepala. Meskipun jawabannya jelas: tidak bisa. Namun ada bentuk lain dari “AFK” yang sebenarnya mungkin dilakukan. Bukan keluar dari hidup, tapi keluar dari tekanan hidup.

    AFK yang aku maksud adalah menepi, bukan menghilang. Melakukan AFK bukan berarti memutuskan diri sepenuhnya dari dunia, melainkan memberi diri sendiri jarak. Caraku sederhana: mematikan seluruh akses internet di ponsel agar aku tidak merasa bertanggung jawab membalas notifikasi apa pun. Menutup pintu kamar dan membiarkan dunia berjalan tanpa aku atau sekadar duduk diam sejenak tanpa perlu merasa harus produktif.

    Ada masa ketika pikiran mulai bertanya hal-hal yang jarang diucapkan dengan lantang: “bagaimana rasanya kalau aku menghilang sebentar?”

    Tapi jika direnungkan lebih jauh, keinginan itu bukan tentang tidak ingin hidup. Itu tentang ingin berhenti dari tuntutan, menghentikan suara bising di kepala, dan jeda dari rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai.

    Ketenangan bukan datang dari menghilang, melainkan dari memberi diri ruang. Ruang kecil, sederhana, tapi cukup untuk bernapas.

    AFK versi ini memang kecil. Tapi sering kali, itu cukup untuk membuatku bertahan hari demi hari.

    Sebagian teman-temanku yang membaca ini mungkin mengerti mengapa aku sering “menghilang” tanpa kabar. Karena, menurutku, inilah caraku menenangkan diri dengan AFK versi diriku sendiri.

    Jika rasa ingin “AFK” itu muncul karena beban terlalu besar, itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa kita sudah terlalu lama kuat sendirian, tanpa terbiasa mencari bantuan.

    Hidup memang tidak menyediakan pilihan untuk AFK. Tapi kita selalu bisa menciptakan jeda versi kita sendiri.

    Menepi, menarik napas, memulihkan diri, dan kembali ketika sudah sedikit lebih kuat.

    Dan menurutku, itu sudah cukup.