Jika hidup diukur dengan pergantian musim, maka aku sudah melewati cukup banyak hujan dan kemarau. Cukup lama untuk paham bahwa kehilangan bukan peristiwa langka. Ia bukan tragedi tunggal. Ia berulang, datang pelan-pelan, lalu pergi tanpa merasa bersalah.

Dalam pergantian musim itu, banyak yang sudah meninggalkan. Pasangan. Teman. Bahkan barang-barang yang dulu kusebut penting. Dan hari ini, di usia tiga puluhan, aku bisa mengatakan satu hal tanpa ragu: aku sudah sampai di tahap ikhlas.

Silakan pergi.
Pergi sejauh-jauhnya.
Aku tidak akan mengejar. Tidak akan menahan. Tidak akan bertanya kenapa.

Kecuali mama.

Pada satu nama itu, semua kedewasaanku runtuh. Satu-satunya kehilangan yang sampai hari ini belum bisa kupikirkan tanpa sesak di dada.

Aku bingung, jujur saja. Bingung bagaimana nanti caraku memitigasi kepiluan saat hari itu datang. Bahkan pernah terlintas ide paling pengecut sekaligus paling jujur, yaitu kabur. Menghilang. Tanpa kabar. Karena aku tahu, mungkin aku tidak sanggup menghadapinya.

Tapi itu juga mustahil. Tak ada ruang untuk menghilang ketika orang tua pergi. Tak ada alasan untuk absen dari duka sebesar itu.

Aku anak tunggal. Tidak ada saudara untuk saling menguatkan, tidak ada bahu yang punya ingatan masa kecil yang sama. Soal kesendirian, aku sudah profesional. Terlalu terlatih, bahkan.

Sejak kecil aku terbiasa sendiri. Buku, game, dan gundam-gundam di rak sudah cukup menjadi teman. Kesepian bukan hal asing bagiku.

Tapi ini berbeda. Ini bukan soal sendiri. Ini soal kehilangan satu-satunya tempat pulang yang benar-benar pulang.

Aku belum tahu caranya. Belum tahu apakah setelah itu hidup masih bisa dilanjutkan atau hanya sekadar dijalani. Terdengar berlebihan, mungkin. Tapi aku tidak sedang mencoba puitis. Aku hanya jujur.

Belakangan aku berpikir, mungkin memiliki pasangan bisa membantu. Setidaknya ada seseorang yang ikut menahan beban. Namun seperti yang bisa dibaca di tulisan-tulisan sebelumnya, menuju ke sana tidak sesederhana itu. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan. Terlalu banyak yang belum selesai.

Maka untuk saat ini, pikiran itu hanya berhenti sebagai kemungkinan, bukan pegangan.

Jujur, kepergian mama kelak terasa seperti kiamat versi pribadiku. Akhir dari dunia yang selama ini kukenal.

Kehilangan lain tidak membuatku sekhawatir ini. Aku sudah terbiasa. Tapi untuk mama, tidak.

Semua boleh pergi. Silakan. Benar-benar silakan. Tapi kecuali mama.