Sebenarnya aku cukup jengah tiap kali mendengar anggapan bahwa setelah menikah, seorang perempuan akan kehilangan sebagian kemerdekaannya. Seolah-olah, ketika status berubah menjadi “istri,” maka ruang gerak, pilihan, dan bahkan kebebasannya ikut menyusut. Jujur saja, aku tidak setuju akan kondisi ini. Aku tetap percaya bahwa kemerdekaan seorang perempuan setelah menikah tetap bisa terjamin, asal hubungan dibangun di atas kepercayaan, dan komunikasi.
Aku melihat banyak perempuan merasa kehilangan ruangnya setelah menikah. Hal ini tidak terlepas dari budaya patriarki yang masih kental, di mana laki-laki dianggap sebagai pusat pengambil keputusan, sementara perempuan diharapkan patuh dan mengikuti. Pandangan seperti ini membuat pernikahan sering dipahami sebagai “kepemilikan,” bukan “kemitraan.” Padahal, menurutku, pernikahan seharusnya menjadi ruang kesetaraan.
Salah satu hal yang sering jadi bahan perdebatan jika aku menyampaikan pendapat ini ke orang-orang di sekitarku adalah soal anak. Buatku pribadi, keputusan untuk memiliki anak atau tidak, aku serahkan sepenuhnya kepada pasanganku. Alasannya sederhana: dialah yang akan mengandung, menanggung semua perubahan fisik dan emosional, serta menghadapi tantangan sembilan bulan ke depan. Aku merasa wajar bila dia punya suara terbesar dalam keputusan itu.
Namun, itu tidak berarti aku melepaskan tanggung jawab. Aku sadar betul bahwa perjalanan memiliki anak bukan hanya soal kehamilan, tetapi juga kehidupan setelahnya. Itu adalah perjalanan panjang yang akan dijalani bersama. Karena itu, aku tetap ingin terlibat dalam percakapan, mendengar, dan berbagi pandangan. Aku ingin pasanganku tahu bahwa aku mendukung apa pun pilihannya, tapi aku juga siap hadir sebagai teman diskusi.
Bagiku, langkah ini menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki. Aku tidak mau kehadiranku dalam pernikahan menjadikan pasanganku kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
Hal lain yang juga kerap menimbulkan perdebatan adalah pernikahan tidak seharusnya memutus tali pertemanan. Aku tidak ingin melarang atau membatasi pasanganku berteman, apalagi dengan orang-orang yang sudah dikenalnya jauh sebelum aku datang. Bagiku, teman adalah bagian penting dalam hidup seseorang. Kita semua butuh mereka, sebagai tempat bercerita, tempat berbagi, dan tempat kembali saat dunia terasa berat. Terkadang, sadar atau tidak, setuju atau tidak, ada beberapa hal masalah yang tidak bisa kita ceritakan ke pasangan.
Aku percaya, membiarkan pasangan tetap menjaga pertemanannya bukan berarti aku mengurangi peranku dalam hidupnya. Justru itu wujud dari kepercayaan. Selama hubungan dibangun di atas keterbukaan, aku tidak merasa perlu mengatur siapa yang boleh atau tidak boleh menjadi temannya.
Dalam masyarakat patriarkis, tidak jarang perempuan justru dipaksa meninggalkan lingkar sosialnya setelah menikah. Tapi aku tidak ingin terjebak dalam lingkaran itu. Sama seperti aku menghargai ruang sosial pasanganku, aku juga berharap ruang itu tetap ada untukku.
Pada akhirnya, aku tidak melihat pernikahan sebagai akhir dari kebebasan. Menurutku, pernikahan adalah perjalanan untuk menemukan bentuk baru dari sebuah kemerdekaan. Bukan lagi hanya “aku,” tetapi “kami.” Bukan lagi berdiri sendiri, tapi saling menyokong satu sama lain.
Kemerdekaan bukan berarti berjalan sendirian tanpa batas, melainkan tetap punya ruang untuk menjadi diri sendiri, sambil menghormati keberadaan pasangan. Dan menurutku, inilah cara paling sehat untuk melawan budaya patriarki yang mencoba mengurung perempuan dalam pernikahan.
Pernikahan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya. Justru di dalamnya, aku percaya, kita bisa tumbuh bersama tanpa harus merasa kehilangan kemerdekaan masing-masing.