Menikah, ternyata jauh lebih menakutkan daripada yang sering kita bayangkan. Bukan karena omongan keluarga yang sibuk menilai kualitas pesta atau janji sehidup semati yang diucapkan di depan orang banyak, melainkan karena ekspektasi yang kadang tidak kita sadari tumbuh dalam diam.

Menyeramkan rasanya ketika kita menemukan pasangan yang berharap pernikahan menjadi jalan keluar untuk memperbaiki kehidupan dia dan keluarganya. Betapa berat beban itu, apalagi jika sejak awal kita tidak cukup mengenali pasangan kita dengan baik.

Menikah, bukan sekedar menyatukan dua orang. Menikah merupakan sebuah proses perjalanan panjang untuk belajar saling memahami, mendukung, dan paling penting saling terbuka akan niat, harapan, serta ketakutan-ketakutan yang kita bawa. Tanpa itu, rasa sayang di awal hubungan aku rasa dapat menjadi tekanan yang perlahan mengikis kebahagiaan.

Pada akhirnya, menaruh hati juga sebuah proses berdamai. Seberapa pun besar rasa sayang kita kepada pasangan, kita pasti akan menemukan setidaknya satu hal yang benar-benar menggangu, yang kita benci, hingga membuat kita ragu. Entah itu sifatnya, kebiasaannya, atau bahkan masa lalunya. Di saat itulah menurutku kita dihadapkan pada dua pilihan, yaitu melepaskan atau berdamai untuk belajar menerima bahwa ia adalah sosok yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Berdamai bukan berarti menutup mata, atau memaksakan hati, tapi menyadari bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya sempurna sesuai dengan imajinasi kita.

Ketika kekurangan itu muncul, menyelesaikan masalah bukan soal siapa yang paling benar atau siapa yang paling sabar. Kuncinya terletak pada keberanian untuk mau saling bicara. Kita perlu membuka ruang untuk mengungkapkan rasa kecewa, kesal, atau sakit hati. Bukan malah sibuk mencari kekurangan pasangan di orang lain, karena rasa sayang tidak tumbuh dari perbandingan, melainkan dari kemauan untuk tetap saling memilih meskipun tahu sisi gelap masing-masing.

Hubungan sehat adalah ketika kita mampu bersama-sama menghadapi masalah. Bukan saling memusuhi atau lari ke pelarian lain.

Mencintai, menikah dan mempertahankan hubungan memang tidak pernah sederhana karena tidak ada dendeng balado dan ayam pop. Tapi mungkin justru di situlah letak keseruannya. Kita terus belajar, terus tumbuh, dan terus memilih satu sama lain, meski tahu ada banyak yang tidak sempurna atau tak semuanya dapat menjadi perintis :”)