Terkadang aku heran, mengapa banyak orang tampak khawatir setiap kali aku berkata bahwa tak apa jika kita memilih menjauh dari sebuah harapan.
Seolah harapan adalah satu-satunya cahaya yang wajib digenggam, padahal tak semua cahaya selalu mampu menghangatkan. Beberapa justru menyilaukan, membutakan langkah, membuat kita tersesat di jalan yang belum tentu kita pilih.
Bagiku, menepi dari harapan bukan berarti menyerah. Bukan pula tanda pasrah. Ia hanyalah cara lain untuk bernapas lebih panjang, untuk hidup lebih lapang, tanpa beban yang diam-diam kita titipkan pada sesuatu yang belum tentu datang.
Karena di balik setiap harapan, ada ekspektasi kecil yang tumbuh diam-diam. Ia bisa berubah jadi gunung, atau jadi duri yang menusuk tanpa kita sadari. Dan ketika kenyataan tak sejalan dengan bayangan, kita sering lupa bahwa yang menyakitkan bukan kejadian, melainkan ekspektasi yang kita pelihara sendirian.
Maka aku memilih untuk sesekali mundur, dan mengosongkan tangan. Bukan untuk menghilang, melainkan untuk memahami bahwa hidup tak selalu perlu dituntun oleh harapan. Kadang, cukup dijalani saja, dengan langkah seperlunya, dengan hidup apa adanya.
Tanpa harapan, bukan berarti tanpa tujuan. Tanpa ekspektasi, bukan berarti tanpa arah. Justru di ruang tanpa beban itu, kita menemukan tenang yang lebih tulus, milik kita sendiri.
Mungkin dunia menuntut kita lebih sedikit mendaki, dan lebih banyak menerima. Lebih sedikit menggenggam, dan lebih banyak melepaskan. Karena tak semua yang dilepas akan hilang, kadang ia justru kembali sebagai ketenangan yang tak pernah kita duga datang.