Ntah ada angin apa, bangun tadi pagi aku terlintas dipikiran mengenai kutipan dari Tan Malaka “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Kutipan itu terasa relevan setelah semalam sibuk mengikuti kabar rencana aksi demonstrasi di sebuah kota yang akhirnya batal digelar oleh sang inisiator.
Di satu sisi, pemuda memang kerap lekat dari idealisme. Mereka berani menyuarakan keadilan tanpa banyak kalkulasi, karena belum sepenuhnya terikat oleh kepentingan, jabatan, atau beban hidup. Idealisme menjadi semacam kompas moral yang memberi arah, bahkan ketika kenyataan di lapangan sering kali tidak ramah.
Namun, realitas kerap menghadapkan idealisme pada ujian terberatnya. Tak jarang idealisme itu harus “digadaikan” entah demi keamanan, kenyamanan, atau sekadar kebutuhan hidup yang mendesak. Dalam situasi semacam ini, seperti kutipan Tan Malaka sebelumnya, idealisme bisa kehilangan kemewahannya. Ia tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang luhur, melainkan hanya komoditas yang mudah dipertukarkan.
Pertanyaannya, apakah orang yang menggadaikan idealismenya otomatis kehilangan jati diri? Ataukah masih ada ruang untuk menebus kembali prinsip yang pernah dilepaskan? Pandangan Tan Malaka tegas: sekali kemewahan itu hilang, maka ia tak lagi ada. Idealisme yang tergadai tak lebih dari bayangan samar dan jika terus diperdagangkan, ia bisa jatuh menjadi barang murah.
Kenyataan menunjukkan, banyak yang memilih jalan kompromi. Ada yang mengorbankan idealismenya demi kelangsungan hidup, ada pula yang melepasnya demi keuntungan sesaat. Kalimat pertama mungkin masih bisa dimaklumi secara manusiawi, tapi yang kedua jelas membuat masyarakat menilai mereka sebagai oportunis.
Akhirnya, idealisme sejati bukan soal keras kepala, melainkan konsistensi menjaga nilai di tengah perubahan zaman. Ia bisa tampil dalam berbagai bentuk: turun ke jalan, bergerak di media sosial, meningkatkan literasi, atau bahkan lewat karya kreatif. Tetapi satu hal pasti, idealisme hanya tetap menjadi kemewahan jika dijaga dengan integritas, bukan ketika ia ditukar dengan kenyamanan yang menurutku hanya dapat dinikmati jangka pendek.
Kemudian pertanyaannya, apakah kita masih sanggup merawat kemewahan itu, atau rela menjadikannya sekadar barang murah yang ditukar atas dasar kepentingan?