Hari ini aku kembali duduk di sebuah obrolan lama, tentang hal yang seolah tak pernah lekang dimakan usia; “Udah umur segitu, kenapa belum menikah?”. Pertanyaan klasik yang rasanya sudah aku hafal nadanya, lengkap dengan tatapan heran yang menuntut jawaban logika.

Aku sudah berhenti merasa perlu menjawab dengan defensif. Kini aku punya satu jawaban yang selalu siap kutaruh di meja percakapan; “Aku masih mengejar targetku”.

Target yang sederhana tapi juga rumit. Aku ingin sebelum menikah, paling tidak punya tabungan untuk hidup tiga orang selama satu tahun. Tiga orang itu siapa? Aku, pasanganku, dan anakku. Meskipun aku belum tahu apakah nanti akan benar-benar punya anak, karena soal itu, keputusannya aku serahkan sepenuhnya kepada pasangan.

Bagi sebagian orang mungkin terdengar berlebihan. Tapi begini pikirku, pasangan yang kelak kupinang adalah seseorang yang sudah dijaga seumur hidup oleh orang tuanya, diberi kenyamanan, bahkan mungkin dilindungi dari kerasnya dunia. Lalu aku datang, masa cuma membawa janji dan kata cinta? Aku ingin datang membawa rasa aman, bukan membawa beban baru dalam hidupnya.

Aku tidak ingin menjadi sebab seseorang harus menurunkan standar bahagianya. Aku ingin ketika sesuatu terjadi, kami masih bisa bernapas tenang, setidaknya untuk satu tahun ke depan.

Lalu ada hal lain yang sering membuat langkahku tertunda, yakni perjanjian pranikah. Banyak yang salah paham, mengira itu tanda ketidakpercayaan. Padahal bagiku, itu tanda kesiapan. Aku tak ingin hanya menyiapkan pesta, aku ingin menyiapkan perlindungan, bahkan dari diriku sendiri, jika suatu hari nanti aku berubah menjadi orang yang paling bangsat di muka bumi.

Sayangnya, dari banyak perkenalan yang kulalui, hal ini sering menjadi batu sandungan. Mereka bilang terlalu ribet, terlalu kaku. Padahal aturan itu hanya jadi rumit kalau dilanggar, bukan?

Temanku sempat tertawa dan berkata,
“Dibalik orang yang udah kepala tiga tapi masih main game, ternyata pikiranmu cukup matang untuk pernikahan.”

Mungkin benar, mungkin aku terlalu matang, sampai-sampai setiap langkah kualasi dengan kehati-hatian berlebih.

Tapi begitulah kenyataannya. Aku tidak ingin menikah hanya untuk menjawab pertanyaan orang. Aku ingin menikah ketika aku sudah siap untuk tidak merepotkan siapa-siapa.

Dan jika itu membuatku terlihat menunda, tak apa. Karena bagiku, menunda bukan berarti takut. Kadang, itu merupakan jalan lain untuk menuju siap.