Dalam dunia game, AFK atau Away From Keyboard merupakan hal sederhana. Ketika lelah bermain Valorant, misalnya, alih-alih menjadi hiburan, game itu justru sering menambah stres. Saat aim sedang jelek dan bertemu tim toxic penuh trashtalk dari berbagai negara SEA, rasanya lebih mudah untuk meninggalkan keyboard, rebahan di kasur, menarik napas, dan tidak kembali pada calon “dead game” tersebut.

Andai saja hidup sesederhana itu.

Sialnya, di dunia nyata tidak ada tombol pause. Tidak ada ruang aman otomatis yang menunggu ketika beban terasa terlalu berat. Hidup terus bergerak, bahkan ketika kita sudah kehabisan tenaga.

Pertanyaan “dapatkah kita AFK dari realita kehidupan ini?” terus bergumam di kepala. Meskipun jawabannya jelas: tidak bisa. Namun ada bentuk lain dari “AFK” yang sebenarnya mungkin dilakukan. Bukan keluar dari hidup, tapi keluar dari tekanan hidup.

AFK yang aku maksud adalah menepi, bukan menghilang. Melakukan AFK bukan berarti memutuskan diri sepenuhnya dari dunia, melainkan memberi diri sendiri jarak. Caraku sederhana: mematikan seluruh akses internet di ponsel agar aku tidak merasa bertanggung jawab membalas notifikasi apa pun. Menutup pintu kamar dan membiarkan dunia berjalan tanpa aku atau sekadar duduk diam sejenak tanpa perlu merasa harus produktif.

Ada masa ketika pikiran mulai bertanya hal-hal yang jarang diucapkan dengan lantang: “bagaimana rasanya kalau aku menghilang sebentar?”

Tapi jika direnungkan lebih jauh, keinginan itu bukan tentang tidak ingin hidup. Itu tentang ingin berhenti dari tuntutan, menghentikan suara bising di kepala, dan jeda dari rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ketenangan bukan datang dari menghilang, melainkan dari memberi diri ruang. Ruang kecil, sederhana, tapi cukup untuk bernapas.

AFK versi ini memang kecil. Tapi sering kali, itu cukup untuk membuatku bertahan hari demi hari.

Sebagian teman-temanku yang membaca ini mungkin mengerti mengapa aku sering “menghilang” tanpa kabar. Karena, menurutku, inilah caraku menenangkan diri dengan AFK versi diriku sendiri.

Jika rasa ingin “AFK” itu muncul karena beban terlalu besar, itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa kita sudah terlalu lama kuat sendirian, tanpa terbiasa mencari bantuan.

Hidup memang tidak menyediakan pilihan untuk AFK. Tapi kita selalu bisa menciptakan jeda versi kita sendiri.

Menepi, menarik napas, memulihkan diri, dan kembali ketika sudah sedikit lebih kuat.

Dan menurutku, itu sudah cukup.