Di tengah malam, layar ponsel kembali menyala. Bukan notifikasi promo. Bukan pula kabar darurat. Pesan itu datang dari aplikasi hijau, dan dari seorang teman lama di seberang pulau.
Pesan yang sederhana, tapi cukup untuk membuatku harus kembali menahan kantuk di malam itu.
“Kau mungkin tidak akan percaya, tapi kali ini aku bertemu seseorang yang berhasil merobohkan tembok pertahanku.”
Aku sempat mendengus kecil. Mengira ini hanya efek sisa alkohol yang biasa ia tenggak setiap akhir pekan. Siapa pula yang membahas tembok di tengah malam?
Lalu pesan kedua masuk.
“Setelah sekian lama aku bertahan sendiri, tembok ini pun akhirnya ada yang berhasil meruntuhkan.”
Di titik itu aku paham, yang ia sebut tembok bukanlah beton, bukan pula besi. Melainkan lapisan-lapisan ketakutan yang ia bangun sendiri selama bertahun-tahun.
Dulu, temanku ini pernah hancur. Benar-benar hancur.
Bukan sekadar patah hati yang bisa sembuh dengan kopi dan lagu senja seperti kata mereka. Tapi jenis luka yang membuat seseorang memutuskan untuk lebih aman hidup sendirian.
Ia mengunci pintu. Menutup jendela. Menjauh dari segala kemungkinan di tiap perkenalan. Bukan karena tidak ingin bahagia, melainkan karena terlalu paham bagaimana rasanya kehilangan.
Aku pikir kabar tentang tembok yang runtuh seharusnya menjadi kabar baik. Ternyata tidak sesederhana itu. Baginya, membuka diri bukan berarti siap memiliki. Melainkan siap untuk kehilangan lagi.
Ia bilang, membuka diri lagi hanyalah versi lain dari melatih diri untuk tidak ambruk ketika ditinggalkan kembali.
Bukan sebuah penggalan romantis, bukan pula optimis. Melainkan jujur.
Di tengah perasaan senang yang canggung dan takut yang tak bisa disangkal, ia sedang belajar satu hal: menerima apa pun bentuk akhirnya.
Lalu pesan terakhirnya datang, dan pesan itu membuatku tertegun.
“Aku tidak berteman dekat dengan harapan. Dengan perkenalan ini pun aku tidak berharap apa-apa. Aku hanya senang dipertemukan dengannya, seseorang yang berhasil membuatku luluh setelah bertahun-tahun bertahan. Aku bersyukur diberi kesempatan mengenalnya. Sekarang tugasku hanya satu yaitu membuatnya bahagia. Soal akhirnya bagaimana, terserah. Jika ia menghilang, aku siap. Jika aku harus kehilangan lagi, aku terima. Aku hadapi.”
Tidak ada janji. Tidak ada rencana jangka panjang. Tidak ada kalimat “semoga selamanya”.
Yang ada hanya keberanian kecil untuk berani hadir, berani tulus dan berani terluka lagi jika memang harus.
Mungkin inilah bentuk kedewasaan paling sunyi. Bukan tentang memiliki.
Melainkan tentang keikhalasan jika kembali menghadapi kehilangan.
Dan entah kenapa, justru di cerita ini aku melihat keikhlasan yang paling manusiawi. Di satu sisi, temanku berani membuka diri untuk bangkit. Namun, di sisi lain juga siap untuk kembali mengelola diri jika jatuh kembali.