Expecto Patronum

Ada kalanya kenangan bahagia menjadi satu-satunya hal yang bisa menolong kita ketika sedang berada di titik terendah.

Bukan karena kenangan itu bisa mengubah keadaan. Bukan pula karena masa lalu tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Tetapi karena ketika pikiran sedang dipenuhi hal-hal buruk, kenangan bahagia bisa menjadi semacam perisai. Ia mengingatkan kita bahwa hidup tidak selamanya seburuk yang sedang kita rasakan.

Sayangnya, tidak semua orang punya kemewahan itu.

Ada orang-orang yang sepanjang hidupnya beruntung mengumpulkan banyak kenangan bahagia. Ada yang memiliki keluarga yang hangat, teman-teman yang baik, orang-orang yang menyayanginya, atau sekadar pernah mengalami hari-hari yang membuatnya merasa hidup.

Tapi ada juga orang yang tidak seberuntung itu.

Hidup terlalu sibuk memukul mereka sampai-sampai mereka tidak sempat mengumpulkan kenangan bahagia. Mereka tumbuh dengan lebih banyak kenangan buruk daripada kenangan baik. Dan ketika suatu hari mereka berada di titik terendah, mereka tidak punya banyak tempat untuk bersembunyi.

Padahal kenangan bahagia itu penting. Sebab ketika keadaan sedang buruk, kita membutuhkan sesuatu untuk mengingatkan bahwa kita pernah baik-baik saja.

Namun pada akhirnya, semuanya kembali kepada bagaimana kita mengelola apa yang ada di dalam kepala kita. Kenangan buruk tidak selalu bisa kita hapus. Kenangan bahagia juga tidak selalu datang ketika kita membutuhkannya. Yang bisa kita lakukan adalah belajar menentukan mana yang akan kita beri ruang lebih besar.

Untuk kamu yang merasa belum memiliki cukup banyak kenangan bahagia, terutama ketika sedang berada di titik terendah, jangan terlalu berharap orang lain akan datang dan memberikannya kepadamu.

Kamu sendiri adalah modal utama untuk mendapatkan kenangan itu.

Jangan menggantungkan seluruh kemungkinan bahagiamu kepada kehadiran seseorang. Karena kalau orang itu tidak datang, atau datang lalu pergi, kamu akan kehilangan dua hal sekaligus: orangnya dan harapan yang sudah telanjur kamu titipkan kepadanya.

Itu akan membuatmu jatuh lebih dalam.

Maka, buatlah kenangan bahagiamu sendiri.

Aku tidak tahu bagaimana caranya. Kamu juga mungkin belum tahu. Tidak ada rumus yang berlaku untuk semua orang. Kita punya kepala dan hati yang berbeda. Apa yang membuat seseorang bahagia belum tentu berarti apa-apa bagi orang lain.

Tapi mungkin salah satu caranya adalah dengan mulai menyayangi diri sendiri. Bukan dalam bentuk memanjakan diri secara berlebihan. Bukan pula dengan terus mengatakan bahwa kita pantas mendapatkan semuanya.

Menyayangi diri sendiri, menurutku, adalah memperlakukan diri sendiri dengan tulus.

Memberi diri sendiri kesempatan untuk beristirahat. Pergi ke tempat yang ingin kita datangi. Membeli sesuatu yang sudah lama kita inginkan. Bertemu orang-orang yang membuat kita nyaman. Menonton film sendirian. Makan makanan kesukaan. Berjalan tanpa tujuan. Atau sekadar duduk diam dan mengakui bahwa hari ini memang berat.

Tidak perlu selalu ada alasan besar untuk bahagia. Kadang-kadang kita hanya perlu berhenti menyiksa diri sendiri.

Aku sendiri punya satu cara sederhana untuk menjaga kepala tetap waras, aku menolak membenci orang lain.

Bukan karena semua orang baik. Tentu saja tidak.

Ada orang yang menyebalkan. Ada yang mengecewakan. Ada yang menyakiti. Ada pula yang memang pantas mendapatkan kebencian kita.

Tapi aku sudah cukup lelah dengan segala masalah yang ada di dunia. Aku tidak mau menambah kelelahan itu dengan membawa kebencian terhadap orang lain ke mana-mana.

Aku ingin mencari bahagia sebagai hadiah dari seluruh kelelahan yang sudah kulewati.

Kalau setelah semua masalah itu aku masih harus menghabiskan energi untuk membenci seseorang, kapan aku punya waktu untuk bahagia?

Karena itu, salah satu cara paling sederhana untuk tidak membenci orang lain adalah dengan tidak terlalu peduli terhadap kehidupan mereka, atau menganggap mereka tidak ada.

Biarkan mereka hidup dengan pilihannya.

Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau.

Biarkan mereka mendapatkan apa yang mereka kejar.

Tidak semua hal harus kita komentari. Tidak semua kehidupan harus kita bandingkan. Tidak semua orang harus kita mengerti.

Aku punya hidupku sendiri yang harus kuurus. Dan kebahagiaanku adalah urusanku. Sebab pada akhirnya, yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaanku bukan orang lain.

Aku sendiri.

Jadi, kumpulkanlah kenangan bahagia sebanyak-banyaknya. Tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna. Karena kehidupan tidak akan pernah benar-benar sempurna.

Ambil foto ketika sedang tertawa. Pergilah ke tempat yang ingin kamu datangi. Habiskan waktu dengan orang-orang yang kamu sayangi. Coba makanan baru. Mainkan permainan yang kamu suka. Dengarkan lagu yang membuatmu merasa hidup. Lakukan hal-hal kecil yang mungkin suatu hari nanti akan menjadi besar ketika dikenang.

Sebab kita tidak pernah tahu kapan kenangan itu akan kita butuhkan.

Dan ketika suatu hari hidup kembali membawa kita ke tempat yang paling rendah, ketika semuanya terasa terlalu berat dan kepala kita mulai dipenuhi pikiran-pikiran yang tidak seharusnya ada, coba pejamkan mata.

Tarik napas. Lalu masuklah ke dalam kepalamu sendiri. Cari kenangan-kenangan itu.

Satu per satu.

Hari ketika kamu tertawa sampai perutmu sakit. Percakapan yang sampai sekarang masih membuatmu tersenyum. Perjalanan yang pernah membuatmu merasa bebas. Seseorang yang pernah membuatmu merasa dicintai. Makanan sederhana yang entah kenapa terasa begitu nikmat. Sore yang biasa saja, tetapi ternyata menjadi salah satu sore terbaik dalam hidupmu.

Kumpulkan semuanya.

Jelajahi masa lalu itu sedalam-dalamnya. Tarik keluar semua kenangan baik yang pernah kamu punya. Biarkan ia memenuhi kepalamu. Biarkan untuk sementara waktu kenangan-kenangan itu lebih keras daripada suara-suara buruk yang sedang berisik di kepalamu.

Dan kalau semua kenangan itu sudah terkumpul, walaupun hidupmu masih pelik, walaupun masalahmu belum selesai, walaupun besok mungkin masih akan sama buruknya.

Ayunkan tongkatmu.

Angkat kepalamu.

Lalu ucapkan dengan lantang:

Expecto Patronum.

Karena mungkin kita memang tidak selalu bisa mengalahkan kegelapan yang datang. Tapi setidaknya, kita punya alasan untuk tidak menyerah kepadanya.