Sepertinya saga bunga tidur ini belum selesai ketika aku kembali mendapatkan pesan dari seorang teman yang kembali ingin bercerita tentang mimpinya.

Kalau kalian sempat membaca cerita sebelumnya, kalian pasti masih ingat. Teman yang satu ini memang sedang bermusuhan dengan tidurnya sendiri. Baginya, tidur bukan lagi tempat beristirahat. Tidur hanyalah pintu masuk menuju cerita-cerita yang tak pernah ia pesan.

Akhir pekan itu matahari sedang galak-galaknya. Panas yang bahkan membuat orang malas keluar rumah. Di tengah cuaca seperti itu, ponselku berbunyi. Pesan darinya.

“Bisa ketemu? Aku kesal.”

Tak ada basa-basi. Tak ada kalimat pembuka yang sopan. Hanya kekesalan yang seolah sudah menunggu untuk dikeluarkan.

Saat kami bertemu, wajahnya terlihat lebih letih dibanding beberapa waktu lalu. Bukan letih karena pekerjaan. Bukan juga karena kurang tidur. Justru letih karena tidur itu sendiri. Katanya, belakangan ini tidur menjadi aktivitas paling menyebalkan dalam hidupnya.

Setiap kali matanya terpejam, selalu ada cerita yang datang. Cerita yang sama sekali tidak ia undang. Cerita yang ingin ia kubur jauh-jauh, tetapi justru terus diputar ulang seperti film yang tak mengenal kredit penutup.

Ia bahkan mulai bertanya pada hal yang mungkin tidak pernah dipikirkan kebanyakan orang.

“Siapa sebenarnya yang punya hak atas mimpi?”

Pertanyaan itu terdengar aneh. Tapi setelah mendengar penjelasannya, aku mengerti kenapa ia bertanya demikian.

Menurutnya, kalau manusia bisa mengatur banyak hal dalam hidupnya, kenapa mimpi justru terasa seperti wilayah yang tak bisa disentuh? Siapa yang menentukan isi mimpi seseorang? Siapa yang memilih tokoh-tokohnya? Siapa yang menyusun dialognya? Siapa yang memutuskan adegan mana yang harus diputar berulang kali?

Ia lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih mirip orang yang menertawakan hidupnya daripada orang yang sedang bercanda.

“Kalau memang ada orang yang mengatur semua mimpi itu, biar kutemui saja. Aku cuma mau protes. Kenapa harus cerita itu lagi?”

Lalu ia terdiam beberapa saat. Justru setelah diam itulah pertanyaan yang lebih mengganggu muncul.

“Jangan-jangan bukan orang lain.”

Aku menatapnya.

“Jangan-jangan kita sendiri.”

Menurutnya, mungkin tidak ada sutradara di luar sana. Tidak ada penulis skenario yang diam-diam menyusup ke kepala manusia setiap malam. Mungkin semua itu adalah hasil pekerjaan pikirannya sendiri. Pikiran yang diam-diam menyimpan sesuatu yang di siang hari berusaha disangkal habis-habisan.

Atau, mungkin mimpi hanyalah ruang arsip. Tempat semua hal yang gagal diselesaikan ketika sadar akhirnya mencari jalan keluar saat manusia tertidur.

“Kalau memang begitu,” katanya, “berarti sumber masalahnya bukan mimpinya. Tapi pikiranku sendiri.”

Kalimat itu meluncur pelan. Tidak marah. Tidak dramatis. Justru terdengar seperti seseorang yang akhirnya menemukan tersangka utama, tetapi tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.

Ia mengibaratkan semua itu sebagai sebuah rumah produksi. Ada sutradara. Ada penulis skenario. Ada editor. Ada kru. Ada pemain. Dan setiap malam mereka bekerja tanpa mengenal libur.

Tak peduli ia tidur delapan jam atau hanya dua jam. Tak peduli ia sedang lelah atau sedang baik-baik saja. Proses produksi itu tetap berjalan.

“Aku capek,” katanya.

“Bukan cuma karena mimpinya. Tapi karena produksi ini seperti tidak pernah berhenti.”

Lalu ia menarik napas panjang.

“Kalau boleh mengajukan permintaan, aku cuma ingin tim keproduksian mimpi itu istirahat sebentar. Bubarkan timnya. Lipat kameranya. Simpan naskahnya. Berhenti memutar cerita yang sama setiap malam.”

Aku mendengarkan semuanya sampai selesai. Sesekali ia masih melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak mungkin kujawab.

Kenapa pikiran lebih setia mengingat luka daripada kebahagiaan? Kenapa sesuatu yang ingin dilupakan justru paling rajin datang ketika mata tertutup? Kenapa tidur, yang katanya tempat manusia beristirahat, justru bisa menjadi tempat paling melelahkan bagi sebagian orang?

Aku tidak punya jawaban.

Mungkin memang tidak semua pertanyaan harus dijawab hari itu juga. Ada pertanyaan yang memang hanya ingin didengar. Ada kegelisahan yang sebenarnya tidak sedang mencari solusi. Hanya mencari saksi bahwa ia benar-benar pernah ada.

Sebelum kami berpisah, ia masih sempat bergurau.

“Kalau nanti tim keproduksian mimpi itu datang lagi malam ini, bilang ya… pemain utamanya lagi cuti.”

Aku tertawa. Bukan karena lucu. Tapi karena kadang manusia memang hanya punya dua pilihan ketika menghadapi sesuatu yang tak mampu ia kendalikan.

Menertawakannya. Atau membiarkannya menguasai seluruh hidup.

Kalau kalian bertanya apakah setelah pertemuan itu mimpinya berhenti, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, ada orang-orang yang siang harinya tampak biasa saja, tetapi setiap malam harus berjuang menghadapi isi kepalanya sendiri.

Dan mungkin, perjuangan paling sunyi memang bukan melawan dunia. Melainkan melawan cerita yang terus diproduksi oleh pikiran, bahkan ketika tubuh sedang berusaha beristirahat.

Sebelum kalian mengakhiri tulisan ini, aku ingin bertanya. Pernahkah kalian merasa lelah bukan karena aktivitas seharian, melainkan karena tidur yang tidak benar-benar membuat kalian beristirahat?

Kalau pernah, semoga suatu hari nanti kalian menemukan malam yang akhirnya memilih diam. Sebab, sekeras apa pun pikiran memutar ulang cerita, setiap orang tetap berhak mendapatkan tidur yang tidak dipenuhi oleh hal-hal yang ingin ia tinggalkan.

Dan untuk temanku, aku hanya bisa berharap satu hal. Semoga suatu saat nanti, tim keproduksian mimpimu benar-benar mengambil cuti panjang.