Obat Pereda Mimpi

Ada orang yang kalau bangun tidur, mimpinya langsung selesai. Hilang begitu saja, seperti pesan email masuk yang terkadang isinya dihiraukan.

Tapi ada juga mimpi yang memilih tinggal lebih lama. Mengendap seharian. Bahkan ikut duduk di samping kita ketika sedang menyeruput kopi di sore hari.

Cerita ini datang dari seorang teman.

Ia mengirim pesan usai aku menghadapi kerumuman kendaraan saat menuju tempat kerja. Katanya, ada sesuatu yang mengganggu kepalanya sejak bangun pagi. Bukan karena pekerjaan. Bukan juga karena tagihan. Hanya karena semalam ia bermimpi.

Usai bertarung dengan pekerjaan masing-masing kami bertemu di sebuah coffee shop di pusat kota dekat sebuah lapangan yang tak kunjung selesai direnovasi, ia tertawa kecil sebelum mulai bercerita.

“Lucu ya. Sudah lama aku nggak mimpi begini,” katanya.

Ia bilang, kalau saja manusia berhasil menciptakan mesin perekam mimpi, mungkin sejak pagi ia sudah menekan tombol replay berkali-kali. Bukan karena jalan ceritanya hebat. Justru karena perasaan yang ditinggalkan mimpi itu terasa terlalu nyata.

“Mimpi ini pingin aku tulis,” ucapnya. “Biar kalau nanti lupa, aku masih punya bukti kalau pernah ada satu pagi aku bangun sambil senyum-senyum sendiri.”

Lalu ia mulai menceritakan isi mimpinya.

Di sana ada seorang perempuan.

Berkacamata. Rambutnya panjang. Senyumnya… anehnya masih sangat jelas diingatnya.

Satu hal yang membuatku cukup mengelitik dari mimpinya itu adalah di saat ia tidur ia bermimpi, dan di dalam mimpi ia terbangun dari tidurnya.

Perempuan itu datang. Duduk di samping kasur. Memeluknya.

Lalu bertanya pelan.

“Bagaimana cara kita supaya terus bisa bertemu tanpa perlu diketahui orang lain?”

Ia mengaku sampai sekarang masih memikirkan kalimat itu. Orang lain yang mana? Apa yang sedang disembunyikan? Kenapa harus diam-diam?

Mimpi memang kurang ajar. Selalu memberi satu adegan tanpa pernah merasa berkewajiban menjelaskan apa pun. Sisanya, kita sendiri yang sibuk menafsirkan.

Yang paling membekas ternyata bukan pertanyaan itu.

Melainkan senyum perempuan tersebut. Padahal biasanya wajah-wajah di dalam mimpi mulai kabur beberapa menit setelah bangun. Yang ini justru bertahan seharian.

Sampai ketika bercerita pun, ia beberapa kali tersenyum sendiri.

“Memalukan ya,” katanya sambil tertawa. “Rasanya kayak anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta.”

Lalu, tepat ketika semua adegan sedang terasa begitu hangat, alam bawah sadarnya memutuskan menjadi penulis skenario yang buruk.

Tiba-tiba ia masuk ke kamar mandi. Di dalam kakus ada tahi yang mengambang.

“Iya, serius. Terus aku langsung bangun,” jelasnya sambil tertawa heran.

Dari sekian banyak kemungkinan adegan yang bisa dipilih otak manusia, kenapa justru itu? Tidak ada yang tahu. Mungkin memang tidak ada maknanya. Mungkin sesekali otak memang sengaja menjadi sutradara yang buruk.

Anehnya, bagian paling absurd itu tidak berhasil menghapus rasa bahagia yang tertinggal setelah bangun. Sudah lama, katanya, pagi hanya berisi alarm, mandi, berangkat kerja, pulang, lalu mengulang semuanya lagi.

Hari itu berbeda. Ia bangun sambil tersenyum.

Dan justru itu yang membuatnya takut. Bukan karena mimpinya. Melainkan karena dirinya sendiri.

Ia takut ternyata dirinya masih bisa berdebar hanya karena seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ada. Ia takut ternyata dirinya belum selesai dengan kebiasaan jatuh kepada sesuatu yang mungkin akan menyakitinya nanti.

Karena kalau itu benar, berarti satu siklus lama bisa saja datang lagi. Jatuh hati.

Katanya, ia tidak ingin kembali ke sana. Bukan karena jatuh hati itu buruk. Justru karena ia tahu betul betapa indahnya dan sesuatu yang terlalu indah sering kali datang bersama kemampuan untuk menghancurkan seseorang secara perlahan.

Mungkin memang lebih baik mimpi itu tetap tinggal sebagai mimpi. Tidak perlu diwujudkan. Tidak perlu berharap mimpi itu datang lagi malam nanti. Karena ada beberapa hal yang terasa sempurna justru karena tidak pernah benar-benar terjadi.

Sebelum kami pulang, ia menghabiskan sisa kopinya, memandangi meja beberapa detik, lalu berkata pelan,

“Aku suka dengan mimpi ini. Suka sekali. Aku bahagia. Namun entah kenapa, setelah mimpi ini selesai, aku benar-benar merasa lelah. Tak tahu lelah karena apa. Tapi aku benar-benar lelah. Menyimpan sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi ternyata juga bisa menguras tenaga. Kadang aku berpikir… mungkin mimpi memang bukan untuk dikejar. Mungkin ia hanya datang untuk mengingatkan kalau hatiku ternyata masih hidup. Tapi kalau suatu hari nanti ia kembali menyapaku lagi di tiap mimpi, apakah sebaiknya aku menyerah saja?”

Menyerah pada apa, ia pun tak tahu. Sebab bahkan ia sendiri tak pernah mampu menjelaskan arti dari kalimat itu. Apakah menyerah berarti tetap membiarkan semua perasaannya terkunci rapat, atau menyerah berarti menghilang dari semua yang selama ini disebut kehidupan. Tak ada jawaban. Ia hanya terdiam, seolah pertanyaan itu memang tidak pernah meminta jawaban.

Atau… mungkin ia perlu pergi ke masa depan, menemui seekor kucing biru yang menggemaskan, lalu bertanya apakah di dalam kantong ajaibnya ada obat pereda mimpi. Siapa tahu, itu satu-satunya cara untuk membantu temanku.