Negosiator Surga

Sebuah monolog dari seorang manusia yang tengah sibuk bernegosiasi dengan Tuhan;

“Tenang, sudah kutitipkan rindu itu di tempat paling sunyi, di ruang yang tak kasat mata. Tak ada satu pun tangan fana yang mampu meraihnya, kecuali tangan Sang Pencipta yang paling setia memeluknya.

Setiap kali aku berbincang dengan Tuhan di malam-malam panjang, aku bawa namanya, kusematkan dalam setiap bintang di penghujung malam. Bukan karena tak mampu untuk memilikinya, bukan pula karena tak ingin, tapi aku terlalu takut kehilangan, jadi kupilih untuk tak memilikkinya.

Sebab, coba kau pikirkan, sesuatu bisa dikatakan hilang karena sempat kau milikinya kan? Jadi, dengan tidak memilikinya aku takkan pernah kehilangannya.

Dalam setiap obrolanku dengan Tuhan, aku berdiskusi untuk memilikinya nanti di kehidupan selanjutnya. Jadi, aku harus berjuang untuk bisa mendapatkan akses surga, agar bisa bertemu dan memilikinya nanti di sana.

Sebuah awal obrolan yang membuatku takjub dengan hidupnya yang mampu mengelola keikhlasan dengan cukup baik. Kemudian aku penasaran, mengapa tidak memanfaatkan waktu saat ini untuk memiliki seseorang yang dia harapkan nanti bertemu kembali di surga?

“Kenapa aku tidak mau sekarang? Aku sudah bilang sebelumnya, jika dalam waktu yang sama ada orang yang menyukainya maka aku siap untuk mengalah. Aku tahu bagaimana rasanya dikecewakan oleh harapan yang diambil oleh orang lain. Maka, aku tidak mau orang lain merasakannya, cukup aku.

Dari pertemuan singkat ini, aku mengerti bahwa tidak semua harapan harus dituntaskan di dunia. Sebab kita masih memiliki kesempatan yang sama di dimensi yang berbeda, dimensi yang abadi yaitu surga. Meskipun nantinya itu tak terwujud, paling tidak momen ini membuat kita punya kesempatan untuk belajar berbicara dengan-Nya lebih dalam.

Di akhir pertemuan, ia menatapku sebentar. Bukan dengan mata yang memohon atau berharap, melainkan sebuah pandangan yang cukup tenang namun nyaris asing bagiku. Seolah ia telah menyelesaikan percakapan panjang dengan dirinya sendiri.

“Jadi, selamat berbahagia untuk kalian berdua. Selamat saling menjaga. Selamat mengkasihi.

Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam seakan sedang mengikhlaskan sesuatu yang sudah lama ia peluk erat.

Sembari tersenyum, ia pun melanjutkan …

Karena tujuanku adalah memilikinya secara utuh, terserah dia dengan siapa saat ini. Mungkin di kehidupan selanjutnya tujuanku akan terjawab. Sampai Jumpa!”