Medan Tanpa Kamu

Medan tanpa “kamu” bukan lagi Medan yang kukenal.

Aku sempat berpikir, bagaimana jika Medan tanpa suara klakson yang bersahut-sahutan di jalan, tanpa pengendara yang menyalip dari kiri dan kanan sembarangan, tanpa makian khas yang terdengar seperti nada tinggi dalam percakapan biasa, semuanya terasa janggal. Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Terlalu asing.

Tanpa kamu, tanpa ketidaksabaranmu, antrean di sebuah pedagang kaki lima yang ramai karena makanannya yang enak jadi terlalu tertib. Tak ada lagi desakan dan lirikan tajam karena penjualnya terlalu lama menyiapkan makanan. Tak ada lagi suara orang di belakang yang menggerutu, “Lama kali, Kak!” dengan nada bercanda tapi penuh ketidaksabaran khas Medan.

Medan selalu keras, tapi di situlah pesonanya. Kota ini tak suka basa-basi, tak pernah berpura-pura. Warganya bicara apa adanya, kadang terdengar kasar, tapi selalu jujur. Mereka tak berusaha menyenangkan semua orang dan entah bagaimana, dari situlah kehangatan itu muncul.

Medan, kau tahu aku sering mengeluh tentangmu. Tentang jalananmu yang penuh ketidaksabaran, tentang suara klakson yang tak pernah kenal jeda, tentang teriakan wargamu yang tak tahu volume rendah. Aku pernah berpikir, hidup akan lebih tenang tanpamu.

Tapi hari ini, kau menghilang. Dan aku benci mengakuinya, aku rindu ketidakaturan itu. Ternyata, kehilangan hiruk pikukmu lebih menakutkan daripada segala huru-hara yang dulu membuatku geram.