Berawal pada yang tidak pernah disangka yang dulunya hanya dikira sebuah ketidakmungkinan yang diharapkan. Bertahun-tahun mencoba bertahan dalam diam karena mengerti diri tak akan mampu melakukan dan tak mau mengatakan ke siapapun karena tak siap melihat bila teman mengambil kesempatan seperti yang sudah-sudah belakangan. Seperti langit dan perut bumi yang benar-benar pertemuannya tak pernah ada yang memungkinkan, kecuali Tuhan.
Dulu, nurani terus menuntut agar mau mencoba mendekati tanpa pernah berpikir bagaimana hasilnya nanti yang penting sudah mau mencoba mendekati. Tetapi nalar mengeyahkan niat yang coba dibangun oleh nurani, mencoba untuk terus menyadarkan bahwa diri memang benar tidak mampu dan berharap jangan memaksa karena hanya akan menyakitkan di hari kemudian.
Di balik perseturuan antara nurani dan nalar yang bertahun-tahun dipertahankan, semuanya buyar karena sebuah pesan yang tidak pernah diduga akan kembali datang. Pesan yang selama ini hanya dikira sebuah ketidakmungkinan. Benar-benar kejutan dari Tuhan yang tiba-tiba mengabulkan harapan yang lama terdiam.
Dalam ketidakmungkinan yang dikabulkan Tuhan, terlalu banyak kejutan yang dihadirkan melalui percakapan-percakapan. Seperti terjebak dalam cerita minim yang singkat dan tak pernah percaya bagaimana sebuah kenyamanan bisa hadir begitu cepat bila melihat bagaimana dulu bertahan mendiamkan harapan begitu lama.
Sekarang, nurani dan nalar tetap berseteru padahal yang diharapkan sudah berada dalam jangkauan. Tak lagi benar-benar jauh, seolah dalam dekapan dan semoga itu benar. Nurani tetap menginginkan untuk terus melanjutkan agar perasaan dapat disalurkan, tak hanya sekedar diam yang justru hanya menjadi beban pikiran. Nurani benar-benar peduli. Tetapi nalar menolak mentah-mentah apa yang diinginkan oleh nurani, nalar kembali dengan tegas untuk tidak melanjutkan dan tetap percaya pada semua ketidakmungkinan yang sudah hadir selama bertahun-tahun. Nalar semakin gencar mengingatkan akan lalu-lalu yang hanya menghadirkan ketakutan.
Di tengah perseteruan antara nurani dan nalar, apakah benar ini kejutan Tuhan atas segala ketidakmungkinan yang diharapkan atau ini hanya sekedar cobaan yang sedang Tuhan berikan sebagai bentuk teguran. Pertanyaan itu terus menghujani di tengah keraguan yang tak pernah mau pergi, di tengah nurani dan nalar yang terus berebut dominasi diri.
Nalar meminta untuk berhenti dan mengerti pada ketakutan yang masih berkutat. Nurani meminta untuk membuka diri agar tak terus membohongi diri dan bersembunyi dalam keraguan-keraguan yang selalu menemani.
Dan, sisanya kembali kepada diri sendiri untuk membiarkan siapa yang mendominasi antara nalar dan nurani.